Daisy bergulat dengan lebtop sudah sejak pagi, lebih tepatnya setelah sarapan bersama. Sedangkan Joe sendiri, pergi ke kantor sebab ada rapat dan beberapa berkas yang harus ditandatangani.
"Eh habis?" guman Daisy pada diri sendiri, menatap teko dan gelas tidak ada air yang tersisa.
Sudah menjadi kebiasaan kalau kerja harus ada air putih. Katanya biar otak tetap mengalir seperti rucika.
Daisy pergi mengambil air di dapur sambil melihat dapur. Lebih teliti agar dia bisa tahu apa yang harus dimasak nanti sore. Ah... ia seperti seorang ibu rumah tangga yang menyambi kerja.
Ia jadi berhayal jika itu benar-benar terjadi. Tetapi ia cepat menyangkal dengan menggeleng keras. "Ngapain halu sih, calon aja belum."
Seusai mengisi air, ia kembali bekerja. Ia masih bekerja di perusahaannya yang ada di California, secara online.
Ia jadi kepikiran, bagaimana jika pekerjaannya dialihkan ke online saja? Untuk sesuatu yang offline bisa dialihkan ke sekretarisnya.
Malam datang dengan cepat, sedangkan Daisy belum beranjak dari sofa. Apa tidak kebas duduk berjam-jam?
Pintu terbuka namun tidak mengalihkan perhatian Daisy. Kacamata yang dipakek sebagai tanda jika matanya sudah lelah tetapi tetap dipaksa bekerja.
"Eh, kak!?" refleknya saat leptob ditutup paksa oleh Joe. "Udah cukup. Nggak capek kerja seharian penuh?"
Ngambil leptob itu lalu memindahkan ke layar utama setelah menyimpan dokumentasi yang dikirim dari luar nengri. Kemudian, meletakkan kembali dihadapan Daisy.
"Sering kayak gini?" Tanya Joe diangguki oleh Daisy. "Nggak sengaja kalut. Lagian sibuk suka bikin jam nggak kerasa jalan. Tiba-tiba udah malam aja," jelasnya mengusap wajahnya.
Terlihat dari matanya jika Daisy sudah sangat lelah. Bahkan menahan kantuk.
"Besok istirahat dulu. Jangan dipaksa," titah Joe. "Tugas yang harusnya besok udah aku kerjain. Jadi beberapa hari kedepan aku punya waktu luang," Daisy menyengir lebar.
"Oh ya. Aku mau mandi trus bikin makan malam sebelum pulang," ucap Daisy membuat Joe menyergit.
"Pulang? Kenapa pulang? Nggak betah disini?" Tanya beruntunnya dengan wajah cemas.
"Bukan kak. Tapi aku nggak enak aja, nginep di rumah orang. Apalagi kakak cowok, nggak pantes di lihat orang. Kecuali kalau kita tinggal di luar Indo, itu bukan hal aneh lagi," jelasnya tentang adab di Indonesia.
"Nikah aja yuk. Biar bisa satu rumah plus satu ranjang," ajak Joe random mendapati plototan dari gadis dihadapannya.
"Ngawor."
æ
Bolehkah Daisy menghapus fakta jika seorang Joe adalah pria yang cool dan irit bicara? Pasalnya pria ini malah lebih sering nyrocos melebihinya.
Tetapi sekarang? Pria ini malah merengek tanpa suara dengan tangan memegang erat tangannya. Masih ingat jelas wajah remaja Joe yang menggemaskan.
"Kak, aku mau pulang. Aku ingin menghabiskan waktu dengan keluarga ku sebelum aku kembali," jelas Daisy dengan sabar.
Menggeleng keras serta menempelkan wajahnya ke lengannya. "Cepet banget pulangnya. Disini aja sama aku,"
"Nggak bisa. Aku harus mengurus perusahaanku disana. Ya, memang bisa di alihkan tapi tetap saja, kehadiranku sangat diperlukan," jelasnya lagi.
"T-tapi aku nggak mau tinggal jauh lagi. Udah cukup lima tahun, sekarang nggak mau," rengeknya melupakan statusnya sebagai pria sejati.
Biarlah Joe tidak peduli, toh di sini hanya ada dua orang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kisah Cinta DAISY (Complete)
Teen Fiction"Dia adalah laki-laki pertama yang membuat Daisy jatuh hati. Dia memang tidak pernah mendekati Daisy tapi Daisy menyukainya," kata Daisy di Malam yang sunyi bertabur bintang diatasnya. Senyumnya mengembang sempurna hingga tidak sadar terus memikirka...
