BAB 1: First Day

5.4K 236 20
                                        

Kisah ini bermula ketika seorang gadis mengawali pagi hari dengan mengetukkan sebelah kakinya tak sabar sambil mendecak kesal, di tahun 2012...

"Liooo!!!" Gadis itu berteriak dari ruang tamu berharap orang yang dipanggilnya segera keluar dari kamar. Ia melirik jam tangannya dengan gusar.

"Laki lama amat sih dandannya. Gua belom ngerjain PR Fisika nih, jam pertama lagi di kelas," teriaknya lagi.

Laki-laki yang dipanggil Lio itu keluar dari kamarnya terburu-buru sambil mengenakan kaus kaki. "Padahal masih pagi ini, Ca. Lagian lo ngerjain PR itu di rumah, bukan sekolah," omel Lio seakan-akan ia tidak pernah mengerjakan PR di sekolah.

"Kemaren gua udah coba ngerjain, tapi malah sakit kepala. Makanya, gua sengaja mau pergi pagi-pagi. Mana soalnya banyak lagi."

Seorang wanita yang berusia pertengahan 40-an hanya tersenyum melihat interaksi mereka berdua sambil membereskan sisa sarapan di meja makan. Pemandangan pagi hari yang sudah biasa baginya.

"Ma, kita pergi dulu."

"Tante, kita pergi ya."

Ucap mereka bersamaan kepada wanita itu. "Iya, hati-hati," jawabnya.

Julio Haresta, atau yang biasa dipanggil Lio, memacu motornya dengan cepat karena gadis di belakangnya sudah mulai mengomel. Sudah hampir 3 tahun mereka tinggal bersama di rumah Lio. Gadis bernama lengkap Marisa Vaneta itu bersikeras tidak mau ikut orangtuanya yang saat ini menjalankan usaha kuliner di Taiwan, dan memilih untuk tetap di Jakarta.

"Males ah, temen-temen gua di sini semua," kata gadis itu setelah Lio bertanya mengapa ia tidak ikut orangtuanya yang pindah ketika mereka kelas 3 SMP.

Jadilah, ia tinggal di rumah Lio karena orangtua mereka memang bersahabat sedari remaja. Ayah Lio bekerja di luar kota dan hanya sesekali pulang ke rumah jika ada jadwal libur panjang, jadi Lidya--mama Lio, senang kalau gadis itu tinggal bersama mereka supaya rumah tidak terlalu sepi.

"Ya ampun, Ica, lo nggak lihat jalanan macet gini. Mau cepet gimana lagi?" keluh Lio karena gadis itu masih belum berhenti untuk menyuruhnya lebih cepat.

Ica. Sebenarnya panggilan itu dari mana? Nama kecilnya adalah Caca, orangtuanya pun memanggilnya demikian. Tapi karena Lio, yang sudah bersahabat dengannya dari kecil, memanggilnya Ica, sekarang semua teman-temannya memanggil Ica. Tapi, siapa peduli? Ia lebih cemas kalau dirinya tidak sempat menyalin PR Fisika pagi ini dan mendapat amukan dari gurunya yang super killer itu.

Caca langsung turun dari motor dan meletakkan helmnya di sana ketika mereka sampai di sekolah. Sesampainya di kelas, hampir semua murid sedang duduk rapi, menyalin PR yang jawabannya entah dari siapa. Gadis itu masih berdiri di depan kelas ketika sahabatnya, Kinara Sarasti, yang tadinya sedang mengerjakan PR juga, menghampirinya dengan heboh.

"Woi, woi, WOI. Ada anak baru di IPA 3. Udah lihat belum?" kata Rara menggebu-gebu.

Caca mengernyitkan dahi. Anak baru? Aneh banget, masa pindah pas kelas 12 gini. Ditambah lagi, tahun ajaran baru sebenarnya sudah dimulai dari minggu lalu, batinnya.

Rara baru akan menarik tangan Caca untuk melihat si anak baru yang katanya berada di tengah lapangan sekolah bersama seorang guru, ketika Caca menghentikannya.

"Eh, mau ke mana? Emang PR lo udah selesai? Gua belom ngerjain sama sekali nih. Bentar lagi bel masuk."

Mendengar itu, akhirnya Rara mengurungkan niatnya.

Sean Saromon. Tulisan nama itu telah tersampir pada seragam barunya. Hari ini, kehidupan barunya dimulai. Mudah-mudahan pindah ke kota Jakarta memang pilihan yang tepat untuk ia dan mamanya. Paling tidak, mereka tidak terlalu berlarut dalam kesedihan. Paling tidak, ada kesempatan untuk memiliki cerita hidup yang lebih baik.

Laki-laki itu menata rambutnya yang sedikit berantakan setelah membuka helm. Ia menarik napas panjang dan mengembuskannya. Semoga tahun terakhirnya sebagai murid sekolah berjalan baik-baik saja.

Sean menuju ruang Kepala Sekolah dan di sana ia dikenalkan oleh wali kelasnya, Pak Tri. Masih ada sekitar sepuluh menit sebelum bel masuk. Pak Tri mengajak Sean berkeliling sekolah sebentar sambil menunjukkan tempat-tempat umum seperti ruang guru, ruang Bimbingan Konseling, UKS, kantin, dan toilet. Bel berbunyi nyaring tanda para siswa harus memulai pelajaran hari ini.

"Nah, sudah bel. Ayo, kita ke kelas."

Sean tersenyum sopan dan mengangguk.

Kelasnya 12 IPA 3, berada di lantai tiga. Para siswa yang masih ada di koridor menatap ke arah Sean, menyadarinya sebagai murid baru.

"Heh, masuk semua. Sudah bel masih di luar." Omelan Pak Tri membuat siswa-siswi yang sibuk menatap Sean tadi jadi masuk ke kelas.

"Pagi anak-anak," sapa Pak Tri begitu masuk kelas. Sean mengekor di belakangnya. "Kalian mendapat teman baru di kelas 12 ini. Ayo, perkenalkan diri kamu."

Seisi kelas menjadi hening, menunggu sang murid baru bersuara, sambil menilai fisik laki-laki itu. Perawakannya tinggi, badannya tegap, berkulit putih namun agak kecoklatan akibat terbakar matahari, memiliki poni yang menutupi alis tebalnya. Ia memiliki lipatan mata yang tipis, sorot mata tajam, hidung mancung, serta bibir yang tebal. Sean bukan tergolong laki-laki super tampan yang biasa menjadi bintang di sekolah dan dikejar-kejar wanita. Mungkin, ia akan termasuk di deretan siswa yang good looking secara fisik.

"Pagi semuanya. Saya Sean, murid pindahan dari Bandung. Salam kenal." Kata-kata itu meluncur dari mulut Sean dengan nada datar lalu diakhiri dengan senyum singkat sebagai formalitas.

Pak Tri mempersilakan Sean duduk di kursi belakang yang masih kosong, di sebelah seorang siswa yang bernama Deri. Sean berkenalan singkat dengan Deri. Sebelum memulai pelajaran, ia kembali menghela napas pelan, semoga semua berjalan baik-baik saja, rapalnya sekali lagi dalam hati.

Kisah Satu Dekade [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang