BAB 5: First Interest

1.6K 153 15
                                        

Break dulu, cuy!” Teriak Lio di lapangan untuk menghentikan permainan futsal yang sedang berlangsung. Sean berjalan ke pinggir lapangan, mengambil handuk kecil dari tas, dan menyeka keringatnya. Kemudian, ia mengambil botol air minum dan menenggak isinya hingga setengah botol. Hal yang sama juga dilakukan Lio di sebelah Sean. Mereka berdua mengatur napas yang masih tersengal.

Ini sudah kesekian kalinya Sean ikut bermain futsal bersama Lio dan beberapa teman yang berasal dari sekolah mereka. Ada yang sekelas dengannya, ada juga yang berbeda. Di sini, Sean jadi punya teman-teman baru. Ia juga semakin akrab dengan Lio karena punya hobi yang sama, futsal dan main game online. Tidak sulit bagi Sean dengan sifatnya yang mudah bergaul itu untuk berteman dengan Lio yang kurang lebih sama supelnya. Kalau bahasa sekarang, mereka itu satu frekuensi. Selera humor mereka juga berada di tingkat yang sama. Seringkali Lio melemparkan candaan-candaan recehnya yang kemudian disambut oleh Sean.

Lio duduk di pinggir lapangan, menepuk lantai di sebelahnya, mengisyaratkan Sean untuk duduk di sana. Sean menurut. Lio mengibaskan kaos yang ia kenakan untuk mengeringkan tubuhnya yang basah oleh keringat. Pandangannya terarah ke seberang lapangan, lalu tertawa singkat.

"Liat tuh si Yoga," kata Lio sambil menunjuk Yoga dengan dagunya.

Sean mengikuti arah pandang Lio.

"Enak banget punya cewek. Maen futsal ditontonin. Selesai maen dikasih minum, di lap keringetnya," katanya lalu mendecak kagum melihat dua sejoli itu.

Sean menyeletuk, "Ya, lo tinggal ajak cewek lo lah."

Kali ini Lio ganti memandang orang di sebelahnya dengan tatapan jenaka. "Cewek dari mana? Dari Hongkong? Ngatain gua mulu lo."

Tidak. Sean bukannya mengejek Lio. Ia serius ketika mengatakan hal tadi. "Si Marisa itu?"

Lio menggeleng sambil tertawa. Ia masih mengira Sean bercanda. Namun raut wajah Sean menunjukkan bahwa ia serius.

Tawa Lio berhenti. "Tunggu. Lo beneran mikir si Ica cewek gua?"

Sean mengangguk.

"Nggak dong, bego. Dia bukan cewek gua. Wah, lo kalo sampe ngomong ke mana-mana Ica cewek gua, bisa jadi jomblo abadi gua."

Oh. "Bukan?"

"Bukan."

Lio menghela napas. "Gini, orangtua kita tuh sohib banget dari zaman mereka sekolah. Mereka udah kayak saudara sendiri. Gua sama Ica juga jadinya deket dari kita kecil, dan udah kayak saudara juga. Dia yang jadi kakak, gua yang jadi adek, karena dia suka ngomel dan nyuruh-nyuruh gua, persis kayak kakak-adek pada umumnya. Gua emang sering keliatan bareng sama dia karena kita serumah. Orangtua dia punya usaha di Taiwan, tapi dia tetep mau tinggal di sini aja. Jadinya, nyokap gua minta dia tinggal sama kita aja, daripada rumah sepi. Itung-itung, nyokap jadi punya anak cewek."

Mulut Sean membentuk huruf O dan ia mengangguk-angguk.

"Abis ini lo ke mana?" tanya Lio.

"Balik."

"Yaelah masih sore gini," sahut Lio sambil melirik jam di layar ponselnya.

"Emang lo mau ngajak ke mana?" Sean sudah hafal ketika Lio berkata "masih pagi" atau "masih sore" atau "belum gelap", itu artinya ia ingin ditemani ke suatu tempat.

"Ke rumah gua yok. Temenin maen PS. Nanti selesai langsung cabut, mandi di rumah gua aja."

"Oke. Yaudah yok ke lapangan lagi."

Caca tadinya berniat duduk di balkon rumah setelah berjam-jam mengurung diri di kamar, namun aroma yang menggoda menyapa indera penciumannya. Ia segera berlari menuruni tangga.

"Ada yang masak mie instan nih. Gua juga mau do…" Kalimat itu terhenti begitu kakinya menginjak anak tangga paling bawah, mendapati seseorang yang bukan penghuni rumah mereka, sedang di dapur memasak mie instan.

Laki-laki itu menoleh ke arah Caca yang mengenakan piyama disertai rambutnya yang tergerai, lalu tersenyum lebar.

Sean. Orang yang beberapa hari ini dihindari oleh Caca. Ia masih merasa bersalah pada Sean. Gara-gara kecerobohannya waktu itu, Sean jadi membuka luka lama keluarganya kepada orang yang baru saja ia kenal. Tidak. Bahkan saat itu mereka belum mengenal satu sama lain. Caca juga jadi jarang pergi ke kantin, takut menambah kesialan baru di sana.

"Lo mau? Gua buatin sekalian, ya." Suara Sean membuyarkan lamunan Caca.

"Kok lo ada di sini?" tanya Caca sambil mendekat ke arah Sean tanpa menjawab pertanyaannya. Laki-laki itu mengenakan kaos milik Lio dan rambutnya masih basah karena habis mandi.

"Mau maen PS sama Lio. Anaknya lagi mandi."

"Parah banget Lio, masa tamu yang disuruh masak. Sini gua aja. Lo makan aja tuh yang udah jadi."

Caca baru akan mengambil garpu yang dipegang Sean, ketika laki-laki itu menepis tangannya pelan. "Tanggung, tinggal satu lagi. Udah gua aja nggak apa-apa."

"Kalian berdua romantis banget sih. Sampe rebutan masakin gua mie instan." Lio yang ternyata sudah ada di belakang mereka, cengengesan melihat Sean dan Caca.

Sontak mereka berdua langsung melepaskan garpu tersebut di panci. "Masak sendiri," ucap mereka bersamaan, lalu masing-masing mengambil semangkuk mie yang telah Sean buatkan tadi dan makan bersama di meja makan, meninggalkan Lio dengan mulut manyun dan tatapan sinisnya.

Caca tidak terlalu suka bermain PS atau game apapun. Jadi, ia hanya menonton dua laki-laki itu bermain PS di kamar Lio daripada ia bosan sendirian di kamar.

Beberapa kali gadis itu memperhatikan bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain. Mereka terlihat seperti dua orang yang sudah bersahabat lama. Lalu maniknya menangkap ekspresi Sean yang puas mengalahkan Lio. Aneh. Bagaimana ekspresi Sean bisa membawa aura yang bertolak belakang? Jika laki-laki itu sedang diam, sorot matanya tajam, garis wajahnya terlihat keras, sama sekali tidak ramah, bahkan bisa dibilang dingin dan sedikit menakutkan. Namun ketika ia tersenyum, tertawa seperti sekarang, semua label yang melekat tadi seakan menguap begitu saja.

Merasa diperhatikan, Sean mengalihkan tatapannya kepada Caca, sementara gadis itu langsung membuang muka, takut tertangkap basah karena diam-diam memperhatikan orang.

Kisah Satu Dekade [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang