BAB 22: First Fight

680 75 4
                                        

23 Mei 2014

Good morning. Kamu udah bangun?

Ca, udah balik dari kampus? Hari ini kerja kelompok lagi?

Udah makan malem belom?

Ca.

Caca.

Caca Handika.

Marisa Vaneta, bales dong.

Gimana mau bales, kamu baca juga nggak.

24 Mei 2014

Kamu marah ya sama aku?

Iya pasti sih. Aku minta maaf, Ca, aku salah.

Kamu pasti bosen ya dengerin aku minta maaf mulu.

Ca, kalo mau marah, marah aja. Jangan diemin aku gini.

Lagi ngapain, Ca?

Ca, kangen.

25 Mei 2014

Chat aku masih belom dibuka ya?

Aku mulai cemas, kamu nggak apa-apa kan?

Aku tanya Lio deh.

Barusan kata Lio kamu sehat-sehat aja. Aku lega dengernya.

Ca, maafin aku ya.

Ca, kamu nggak pernah deh kayak gini. Kamu kenapa?

Pasti aku ya biang keroknya.

26 Mei 2014

Pagi, Caca. Kamu sarapan apa hari ini?

Ca, we need to talk.

Lebih baik kamu keluarin semua unek-unek kamu,

daripada kamu diem kayak gini.

Kamu nggak pernah semarah ini. Ada apa?

Aku bingung harus gimana.

Udah 3 hari nggak ada kabar dari kamu, aku nggak tenang.

27 Mei 2014

Ca.

Telepon aku besok, abis kamu kuliah.

FINALLY. Ok, I'll see u tomorrow.

Satu hal yang Sean sadari ketika wajah gadisnya muncul di layar laptop adalah tatapan sendu yang terpancar di mata bulatnya. Siapa lagi penyebabnya kalau bukan dirinya?

"Maaf, Ca." Satu-satunya kata yang Sean pilih sebagai pembuka obrolan mereka.

Gadis di hadapannya menggeleng. "Kamu nggak perlu minta maaf. Sekarang, aku mau tanya sesuatu yang sebenernya udah lama aku simpen sendiri."

Kisah Satu Dekade [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang