BAB 24: First Warning

740 71 10
                                        

Aku udah di parkiran ya.

Ok.

10 menit lagi aku selesai kok.

Balasan pesan dari Caca yang muncul di notifikasi ponsel, membuat Sean tidak bisa menahan senyumnya. Kemarin sore, ia pulang ke Jakarta karena sudah libur pergantian semester, berbeda dengan Caca yang saat ini masih menjalani kuliah beberapa minggu lagi sebelum menutup semester 3 dengan ujian akhir. Sean berjanji untuk menjemput Caca siang ini di kampusnya. Sejak mulai kuliah, ini pertama kalinya ia pulang ke Jakarta karena selama ini mamanya beberapa kali menghampirinya ke London. Lebih dari setahun mereka tidak bertemu secara langsung, jadi tentu saja laki-laki itu bersemangat sekali untuk menghabiskan hari ini bersama Caca, menggunakan mobil yang ia pinjam dari Dianne.

Sean memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Tadinya, laki-laki itu memang berencana untuk menunggu di dalam mobil saja, namun pada akhirnya ia memutuskan untuk menunggu di lobby kampus, sekalian melihat-lihat tempat kuliah gadisnya. Toh, kalau Caca selesai dari kelasnya juga pasti lewat lobby, pikirnya.

Lantas, ia melangkahkan kakinya memasuki gedung Fakultas Ekonomi, lalu berhenti di depan papan besar yang berisi berbagai macam pengumuman, juga majalah dinding. Sambil menunggu, Sean membaca apapun yang tertera di sana, sampai perhatiannya teralihkan oleh suara seseorang yang mengerang kesakitan. Kepalanya berputar mengikuti sumber suara. Tanpa sadar, ia memicingkan mata ketika sadar ada sesuatu yang tidak beres.

Dosen yang mengajar di kelas mengakhiri materi pengajarannya dan Caca pun memasukkan buku catatan dan alat tulis ke dalam tas ransel kecilnya dengan tergesa karena tidak sabar akan bertemu Sean. Ia baru akan beranjak dari kursi ketika seseorang menghadang jalannya. Caca mendongak dan mendesis ketika mengenal siapa orang itu.

"Ca, hari ini b—"

"Nggak." Jawaban Caca sudah seperti rekaman yang diputar setiap hari Rabu, tepat di jam ini. Revan selalu mengajaknya pulang bersama dan selalu Caca tolak. Ya, setelah gadis itu mengambil keputusan untuk keluar dari BEM karena menghindari Revan sebagai alasan utama, di semester ini, dalam mata kuliah Hukum Bisnis, ia malah sekelas dengan laki-laki itu.

Gadis itu berlalu begitu saja, keluar kelas, namun Revan bukan seseorang yang mudah menyerah. Ia mengikuti langkah Caca sambil memohon. "Kasih gua kesempatan, Ca. Sekali aja lo nggak nolak gua. Ya?"

Caca memilih untuk tak menanggapi dan terus berjalan. Ia sudah lelah meminta manusia keras kepala itu untuk berhenti bersikap seperti ini.

Melihat sikap Caca yang tak acuh, Revan menjadi gusar. Ia mencekal tangan Caca untuk membuatnya berhenti. "Ca, dengerin gua dulu."

"Apa sih? Lepasin! Sakit!" Caca berusaha melepaskan tangannya, namun tenaga Revan terlalu kuat.

"Gua nggak akan lepasin sebelum lo ngizinin buat anterin lo balik. Kasih gua kesempatan untuk ngebuktiin kalo gua udah berubah. Kali ini gua serius. Gua pengen hubungan kita kayak dulu lagi," ujar Revan.

"Lo ngerti bahasa manusia nggak?" Tiba-tiba saja ada seseorang yang berbicara dengan suara rendah, membuat mereka serentak menoleh.

Caca menghela napas lega ketika mendapati Sean berdiri di sana meskipun raut wajahnya seperti siap menerkam dengan rahang yang mengeras.

"Dia minta, lepasin tangan lo," kata Sean lagi. Tangan laki-laki itu sudah mengepal di dalam kantong hoodie yang dikenakannya. Sengaja menyimpannya di sana untuk menahan diri supaya tidak membuat keributan di kampus orang. Sean sempat menangkap kalimat terakhir yang diucapkan oleh seseorang yang sedang mencengkeram tangan Caca. Dengan itu, ia yakin bahwa ia sedang berhadapan dengan Revan.

Revan melepaskan genggamannya pada Caca, menatap Sean sama sengitnya. Wajah di depannya tampak tak asing, tapi ia yakin tidak pernah bertemu laki-laki ini sebelumnya.

"Siapa lo?" tanya Revan ketus.

Sean menggandeng tangan Caca, menariknya pelan untuk berdiri di sampingnya. "Kayaknya masih banyak cewek jomblo di Jakarta. Mending lo pacarin mereka, daripada gangguin punya gua."

Oh, sekarang Revan tahu wajah itu. Wajah seseorang di layar kunci ponsel Caca.

"Sekali lagi gua tahu lo nyentuh atau deketin Caca, gua nggak akan tinggal diem," ancam Sean sambil mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Revan.

Caca yang sadar bahwa situasi makin menegang, segera memeluk lengan Sean yang masih menatap rivalnya tanpa berkedip, mengajaknya pergi meninggalkan Revan yang bergeming di tempatnya berdiri.

Sean mengembuskan napas dengan keras ketika mereka keluar dari gedung kampus, lalu mengambil salah satu tangan Caca yang tadi dicengkeram Revan. "Tangan kamu nggak apa-apa? Sampe merah gini."

Dengan senyuman yang manis, Caca menggeleng. Sebenarnya, masih ada sedikit rasa sakit yang tertinggal di sana, namun gadis itu terlalu bahagia karena bertemu Sean.

"Seneng banget? Emang kamu nggak kesel digituin sama dia?" tanya Sean.

"Kesel lah. Tapi mendadak hilang pas ketemu kamu," jawab Caca masih dengan tersenyum. Hati Sean menghangat ketika melihat ekspresi bahagia Caca.

Sean menggandeng Caca sampai ke tempat ia memarkir mobil, lalu menuntun gadis itu untuk duduk di kursi belakang. Caca sempat bingung, tetapi ia menurut saja. Sean menghidupkan mobilnya, lalu menuju kursi belakang juga dan menutup pintu.

Belum sempat Caca bertanya, laki-laki itu melingkarkan kedua tangannya, memeluk Caca erat. Sean membenamkan wajahnya di leher gadis itu sambil menutup mata untuk beberapa saat. Menghirup aroma manis dari parfum yang Caca pakai, membuat pikirannya jauh lebih tenang dan gembira. Caca pun membalas pelukan Sean sama eratnya.

"Kangen," gumam Sean masih dengan posisi yang sama, membuat sebuah senyum terbit di wajah Caca.

"Sebentar lagi ya kayak gininya," ucap Sean lagi.

"Tapi... ini kita masih di kampus, kalo diliat orang gimana?" tanya Caca.

Sean mengeratkan pelukannya dengan nyaman. "Kaca mobilnya gelap. Nggak akan keliatan dari luar."

Caca mengangguk meskipun Sean tidak melihatnya. Beberapa saat mereka hanya di posisi itu untuk melepas rindu. Satu-satunya kebahagian dari hubungan jarak jauh adalah ketika kita bisa bertemu secara fisik dengan orang yang kita cintai.

Sean mengangkat kepalanya, lalu bersandar di dada Caca, mendengarkan detak jantung gadis itu. Ia sadar tubuh Caca menegang, namun masih tidak berniat mengubah posisinya. Beberapa detik kemudian, ia mengangkat wajahnya memandangi Caca dan tersenyum jahil.

"Cie. Deg-deg an ya? Kenceng banget detak jantungnya."

Ditatap dan digoda seperti itu membuat Caca refleks menutupi wajah Sean dengan kedua tangannya. Sebisa mungkin berusaha agar Sean tidak melihat wajahnya yang merona, meskipun usahanya sia-sia.

"Ih, apa sih Sean?"

Sean tergelak melihat Caca yang salah tingkah. Gadis itu mengerucutkan bibirnya sampai Sean benar-benar berhenti menertawakannya. Sean mengatur napas, namun senyum tetap tak meninggalkan wajahnya. Kali ini laki-laki itu merentangkan tangan sambil berkata, "Sini deh gantian dengerin jantung aku biar nggak ngambek lagi."

Caca yang pada dasarnya selalu lemah ditatap Sean lengkap dengan senyum favoritnya itu, langsung menyambut dekapan Sean. Menempelkan telinga ke dada Sean dan mendengar detak jantung manusia yang paling disayanginya. Caca tidak pernah menyangka bahwa sejak detik itu, mendengar detak jantung Sean menjadi kegiatan yang paling ia suka.

"Kayaknya detak jantung kamu lebih cepet daripada aku tadi," ujar Caca tak mau kalah.

"Masa? Berarti aku yang lebih sayang sama kamu."

Caca bergidik main-main di dekapan Sean. Ia bertanya-tanya bagaimana mungkin satu tahun membuat laki-laki ini jadi pintar menggoda. Sean menanggapinya dengan tawa dan mengecup kening gadis itu. Ia sangat merindukan Caca. Sangat.

Kisah Satu Dekade [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang