BAB 26: First Idol

615 60 3
                                        

Deburan ombak yang berkejaran, bersamaan dengan cuitan burung camar yang terbang bebas, seakan menyatu dengan suara cekikikan dua bocah kecil yang saling melempar air laut yang ditadah dengan kedua tangan kepada satu sama lain. Seorang wanita menyaksikan kegiatan anak-anak itu, sambil mengabadikan dengan kamera analog miliknya. Sedangkan suaminya dengan nyaman duduk di salah satu pondok, sibuk menyapu ujung kuas yang telah dilumuri cat warna kepada kanvas putih.

Tak lama kemudian, si anak bungsu berjalan menuju pondok, menghampiri seorang pria yang ia panggil papa dengan raut penasaran, kali ini di kanvas putih itu akan muncul gambar apa ya?

"Sean, udah selesai mainnya?" tanya Doni begitu anak laki-lakinya datang dengan badan basah kuyup dan pipi yang merah akibat terbakar matahari.

"Males ah, kakak curang, lebih banyak nyiram aku. Soalnya tangan kakak lebih besar," gerutu anak itu. Matanya masih mengarah pada sang kakak yang kini asyik bermain air bersama mamanya.

"Nanti kalo udah besar, tangan kamu bisa lebih besar daripada kakak."

"Bisa begitu, Pa?" tanyanya dengan mata berbinar.

"Iya, makanya kalo makan harus pinter, nggak boleh males-malesan. Harus makan banyak biar cepet besar."

"Yeyyy! Nanti kalo udah besar, aku bales sirem kakak pake air yang banyak." Kini wajahnya yang murung berganti dengan senyum kemenangan, membuat sang papa ikut tertawa.

"Papa gambar apa?" tanya Sean kecil ketika melihat papanya memoleskan sedikit cat merah muda di tengah-tengah warna biru dan oranye yang sudah lebih dulu mendominasi.

"Langit sama laut," jawab Doni singkat tanpa menghentikan kegiatannya.

Sean sontak mengangkat wajah, melemparkan pandangannya ke langit sore yang sedang mengantar sang surya kembali ke peraduan. Juga air laut yang berwarna senada dan bagai ditabur oleh jutaan permata akibat pantulan cahaya matahari. Perpaduan warna biru, semburat jingga dan merah muda terlihat cantik di mata seorang Sean. "Wah! Papa bisa gambar itu?" tanya bocah itu antusias.

"Bisa dong. Liat nih."

Setelah itu, Sean tidak berkata apa-apa lagi, ia memusatkan perhatian pada kanvas yang tadinya polos, mulai diisi oleh kombinasi warna yang apik berkat tangan Doni. Ia selalu kagum dengan apapun yang dilukis papanya. Baginya, tidak semua orang punya bakat untuk merekam sesuatu yang indah, lalu menuangkannya pada media kosong. Tapi ia beruntung karena mewarisi bakat sang papa.

Doni selalu menjadi sosok idola di mata Sean. Bukan hanya karena keahliannya di bidang seni, namun Doni adalah sosok ayah yang kuat, penyayang, dan pelindung bagi keluarganya. Ia juga seorang ayah yang tidak pernah menunjukkan kesusahan yang ia alami, dan memastikan bahwa semua hal akan berjalan dengan baik. Doni selalu mengusahakan yang terbaik untuk keluarganya.

Sambil mengagumi hasil karya Doni di pantai sore itu, Sean berjanji dalam hati untuk menjadi seperti papanya ketika ia besar nanti.

Entah bagaimana sekelebat ingatan itu muncul sesaat setelah kepalanya dihantam dengan keras, dan tubuhnya ambruk di lantai. Suara dengingan yang menyeruak di dalam telinganya mampu mengaburkan suara yang tumpang tindih di sekeliling. Tidak, ia tidak boleh tergeletak seperti ini. Ia harus mengangkat tubuhnya sebelum orang di dekatnya berhenti menyebutkan angka-angka seperti seorang anak kecil yang sedang belajar berhitung.

Sean tidak lagi peduli pada rasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia bangkit dengan sisa tenaga yang masih ia miliki, lalu menyeka kasar darah yang mulai mengalir di sudut bibirnya. Laki-laki itu mengangkat kepalan kedua tangannya di depan dada, siap menyelesaikan apa yang telah ia mulai.

Setelah satu bulan Sean menghabiskan waktu liburannya di Jakarta, hubungan jarak jauh kembali dimulai. Saat ini sudah memasuki bulan Oktober tahun 2015, yang artinya sudah lebih dari sepuluh bulan mereka kembali terpisah. Tahun ini, Caca dan Sean akan lebih sibuk dengan tugas-tugas kuliah yang jumlahnya semakin banyak dan tentunya juga semakin rumit. Tidak salah jika para kakak tingkat mengatakan bahwa semester 5 adalah masa-masa di mana rasanya ingin mencari pria atau wanita kaya dan langsung menikah saja. Kenyataannya, beberapa teman kuliah Caca juga sudah ada yang menyerah, tidak melanjutkan kuliahnya.

Caca akhirnya bisa menjatuhkan tubuhnya pada sebuah kursi setelah berjam-jam berjualan makanan ringan di booth miliknya bersama teman-teman sekelompok. Ya, ini salah satu tugas yang menguras tenaga, juga pikiran. Tidak hanya asal menjual, tapi mereka juga harus memperhatikan kualitas produk dan memastikan mendapat laba dari penjualan tersebut. Belum lagi, harus memikirkan strategi untuk memasarkan produk tersebut agar menarik konsumen. Untunglah, meskipun melelahkan, setidaknya usaha mereka membuahkan hasil karena hari ini semua makanan habis terjual.

Dengan tergesa, ia meraih ponsel di dalam sakunya. Sudah lebih dari lima jam, ia tidak sempat melihat ponselnya yang kini dipenuhi oleh notifikasi dari beberapa aplikasi. Namun, semua itu diabaikannya karena jarinya langsung bergerak menuju kolom obrolannya dengan Sean. Bahu Caca bergerak turun, menandakan belum ada balasan pesan dari laki-laki itu.

Caca pikir, tugas-tugas kuliahnya sudah cukup banyak menyita waktu dan membuatnya sibuk. Tapi sepertinya, Sean lebih sibuk lagi daripada dirinya karena laki-laki itu bahkan tidak sempat membuka pesan darinya yang sudah lebih dari 24 jam. Beberapa bulan belakangan, Sean jadi susah dihubungi. Pesan dari Caca baru bisa dibalas setelah berhari-hari. Gadis itu percaya ketika Sean berkata jadwal kuliahnya semakin padat, juga tugas-tugas yang menumpuk dengan tenggat waktu berdekatan. Hanya saja, kadang Caca cemas jika laki-laki itu seakan menghilang berhari-hari. Ia jadi tidak tahu apakah laki-laki itu hidup dengan baik di sana. Caca yang pada dasarnya selalu berpikir berlebihan, selalu dihantui oleh skenario-skenario buruk tentang keadaan Sean di dalam kepalanya.

Ia mendesah keras untuk mengusir pikiran buruknya. Baiklah, setidaknya ia harus melakukan sesuatu untuk memastikan.

Kisah Satu Dekade [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang