Musim semi, Maret 2016, London.
Caca mengambil napas dalam-dalam setelah ia keluar dari bandara, menghirup udara musim semi kota London di malam hari. Benar, ia nekat pergi ke London sendirian, tanpa sepengetahuan Sean. Gadis itu pandai bernegosiasi untuk mendapat izin dari orangtuanya. Segala upaya yang ia lakukan untuk memperbaiki nilai IPK-nya berbuah baik. Ya, setidaknya sekarang bisa di atas angka 3,5. Bermodalkan hal itu, ia memberanikan diri untuk minta izin pergi ke London selama beberapa hari karena jadwal kuliahnya mulai longgar semester ini. Hanya izin, karena ia menggunakan uang tabungannya sendiri, ditambah lagi dari hasil menjual beberapa barang dan pakaian bekas yang layak pakai, untuk biaya pengeluaran. Meskipun papanya juga memberinya sedikit uang jajan tanpa sepengetahuan mamanya.
Tidak terlalu sulit untuk mengantongi izin orangtuanya, meskipun berulang-ulang mereka berdua mengingatkan Caca untuk menjaga diri dari orang asing, juga dari…Sean. Jimmy dan Laras selalu berpesan agar Caca dan Sean tidak berbuat hal yang ‘aneh-aneh’. Tentu saja tidak. Mereka berdua masih tahu batasan dalam berpacaran, mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Ia meletakkan barang-barangnya di hotel, lalu berjalan kaki menuju flat Sean yang tidak jauh dari sana. Caca tidak sabar ingin mengejutkan laki-laki itu dengan kedatangannya. Saat dalam perjalanan, dari jauh ia melihat dua orang laki-laki masuk ke salah satu tempat di dalam gang kecil yang ia lewati. Dahinya mengernyit. Tidak yakin itu tempat apa, namun ia yakin bahwa salah satunya adalah Sean, sedangkan satunya lagi mirip dengan seseorang yang sempat ia sapa ketika melakukan panggilan video dengan Sean, Chiko. Caca pun berbelok, memutuskan untuk membuntuti mereka.
Suara riuh semakin jelas ketika Caca masuk ke sebuah tempat yang dipenuhi oleh sejumlah besar manusia yang saling berdesak-desakan mengelilingi sebuah ring tinju. Gadis itu semakin tidak mengerti situasi saat ini. Sejak kapan Sean suka menonton pertandingan tinju? Lautan manusia membuatnya kesulitan mencari sosok laki-laki itu. Sampai akhirnya, telinganya menangkap suara MC melalui speaker menyebutkan nama seseorang yang sedang dicarinya saat ini, lalu disambut oleh sorakan penonton. Matanya terpaku. Tubuhnya membeku saat Sean masuk ke dalam arena pertandingan, bertelanjang dada dan menggunakan sarung tinju. Mendadak, tangannya terasa dingin. Lalu ketika satu pukulan lawan mendarat di pelipis kiri Sean, Caca membelalak ngeri, meneriakkan nama laki-laki itu sekuat mungkin. Sekuat yang bisa ia lakukan di antara ratusan manusia yang sedang bersorak. Namun, ia tidak berniat untuk berhenti sampai tubuh Sean jatuh terkapar dan dinyatakan kalah. Caca yang tadinya ingin membuat kejutan untuk Sean, malah berbalik menjadi ia yang mendapat kejutan.
—
Latihan tinju yang sudah dilakukan berbulan-bulan, rupanya tidak mampu membalas serangan tanpa ampun dari pihak lawan.
“Waduh, kali ini muka lo lebih ancur dari sebelumnya," ujar Chiko setelah mendudukkan tubuh Sean yang masih lemas di sebuah kursi ruang ganti. Sean masih mengatur napasnya yang tersengal, tidak bisa membalas omongan sahabatnya. Sebenarnya, tanpa Chiko bilang pun, Sean sudah tahu karena nyeri yang ia rasakan di mana-mana. Sean mengambil botol minum dan menenggaknya dengan cepat, sementara Chiko membantu mengompres wajahnya.
Kemudian sebuah suara yang sedikit bergetar, menyapa telinga dua laki-laki itu. "Biar gua aja, Chik."
Sean dan Chiko serempak menoleh dan otomatis menghentikan aktivitas masing-masing ketika menyadari siapa pemilik suara itu adalah Caca. Ia sedang mengulurkan tangan meminta kompresan yang dipegang Chiko. Sesaat setelah itu, Chiko memberi kompres pada Caca, lalu berpamitan meninggalkan sepasang kekasih yang perlu ruang untuk berdua saat ini. Sementara Sean masih tidak berkedip sambil menerka apa yang ada dalam pikiran gadis itu saat ini dan bagaimana ia bisa ada di sini.
Gadis itu duduk di sampingnya, mengompres luka lebam di wajah Sean, dengan tatapan nanar. Sejujurnya, Caca ingin marah pada laki-laki itu. Dadanya terasa sesak melihat keadaan Sean. Tapi, ia hanya diam, sama seperti Sean yang juga diam, sesekali meringis saat kompresan menyentuh lukanya, sambil menatap Caca dengan perasaan bersalah karena tak pernah membicarakan hal ini padanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kisah Satu Dekade [END]
Ficción GeneralSetiap pertemuan, akan ada perpisahan. Setiap perpisahan pun ada peluang untuk bertemu kembali. Lantas, bagaimana dengan cerita antara Sean dan Caca? Haruskah mereka menunggu pertemuan berikutnya untuk melanjutkan kisah yang telah ada, atau memulai...
![Kisah Satu Dekade [END]](https://img.wattpad.com/cover/310186229-64-k550441.jpg)