"Halo, Sean, kedengeran nggak suara aku?"
Senyum Sean mengembang begitu mendengar suara Caca dan melihat wajah tiga orang yang ia rindukan di layar laptopnya. Selain Caca, ada Rara dan Lio juga di sana.
"Iya, denger."
"Weh, apa kabar nih orang London?" sambar Lio begitu mendengar suara sahabatnya.
"Untungnya sih sekarang jauh lebih ada adab dibanding bergaul sama lo dulu," canda Sean yang disambut gelak tawa dari mereka bertiga, membuat laki-laki itu merindukan momen saat mereka sering berkumpul saat masih sekolah dulu.
"Betah nggak lo di sana?" tanya Rara.
"Ya, sejauh ini, betah-betah aja sih."
"Pasti betah lah, 'kan sekalian cuci mata. Cewek-cewek di sana pasti cakep-cakep, nggak kayak..." Lio sengaja menggantung kata-katanya sambil melirik Caca yang balas melotot.
Sean tertawa kecil lalu teringat Rara yang sedang belajar untuk UAS-nya lusa di tempat Caca hari ini. "Ra, gua denger buku-buku anak kedokteran tebel-tebel 'kan ya? Coba pinjemin mereka tuh, buat baku hantam."
Lio menyenggol lengan Caca, "Canda aja loh, kawan," lalu kembali melihat Sean, "Maksud gua, kenalin kek kalo lo punya temen bule yang cakep gitu."
"Cewek mulu otak lo, dasar genit. Kuliah dulu bener-bener baru pacaran," jawab Sean.
"Ngaca, nyet. Lo aja pacaran pas masih SMA, dasar genit," balas Lio tak mau kalah.
Tepat setelah itu, terdengar bunyi dering ponsel milik Caca. Sean melihat gadis itu berdiri dan menjauh ketika menerima telepon, memberi kesempatan Sean untuk mengobrol dengan Lio dan Rara terlebih dahulu.
"Jadi gimana? Ada nggak temen lo buat gua?" tanya Lio lagi. Samar-samar, Sean masih bisa mendengar suara Caca di belakang mereka.
"Temen mah ada, tapi gua nggak yakin sih dia mau sama lo."
"Sialan."
Respon Lio dibalas tawa puas dari Sean. "Iya, iya, kalo ada, dan orangnya mau sama lo, gua kenalin deh. Gua siap deh jadi mak comblang lo."
Telinga Sean menangkap suara Caca dengan jelas, "Lo kirim ke email gua aja, nanti gua yang print. Gimana?" Jeda sejenak lalu, "Halo? Van? Revan? Lo denger nggak? Apa? Putus-putus suara lo."
Air muka Sean berubah begitu tahu siapa yang sedang berbicara pada Caca di telepon. "Itu Revan yang telepon?" tanyanya kepada Lio dan Rara.
Rara yang lebih dulu peka pada perubahan nada suara Sean langsung menyahut cepat, "Ah, biasalah anak BEM 'kan, lagi sibuk akhir-akhir ini, mana sekarang lagi UAS juga."
Untungnya tak lama kemudian, Caca kembali bergabung dengan wajah berseri-seri, sama sekali tidak membaca bahwa ada ketegangan di antara mereka bertiga.
"Eh, udah malem ya ternyata. Nyokap gua udah nyariin nih. Lio, anterin gua balik dong. Sean, sorry ya gua duluan, nanti kapan-kapan ketemu lagi. Gua balik ya, Ca," ujar Rara sambil melirik Lio, berharap telepatinya berhasil untuk meninggalkan pasangan itu berbicara empat mata. Lio pun melakukan hal yang sama, berpamitan, dan mereka keluar dari kamar Caca.
Senyum Caca masih belum luntur. Ia baru membuka mulut ketika Sean bertanya tanpa basa-basi, "Revan?"
"Oh, iya tadi Revan telepon. Ngomongin soal proposal sponsorship gitu untuk event di kampus."
"Ini 'kan weekend, udah malem lagi. Emang nggak bisa bahas besok-besok? Atau dia emang sering ya telepon kamu?"
Caca mulai menyadari nada ketus yang keluar dari mulut Sean. Gadis itu menghela napas, mencegah dirinya ikut terpancing emosi saat menanggapi pertanyaan Sean. "Nggak, Sean. Dia cuma telepon kalo emang bahas project yang urgent aja. Dan iya, barusan lagi bahas hal yang urgent, jadi lebih baik diomongin sekarang daripada besok-besok."
Jujur saja Sean merasa sedikit kesal ketika tahu bahwa Caca semakin sering berhubungan dengan Revan sejak tergabung dalam organisasi yang sama. Sudah lama ia ingin menanyakan hal ini tapi selalu ditunda karena mungkin ia sendiri tidak yakin siap mendengar jawabannya. Tapi saat ini, ia perlu tahu bagaimana situasinya agar ia tidak gila karena memikirkannya seorang diri.
"Apa dia deketin kamu lagi?"
Pertanyaan Sean membuat Caca terhenyak dan menunduk. Ia meneguk ludahnya sebelum mendongak dan menjawab, "Aku nggak tau. Maksud aku, dia beberapa kali nawarin untuk anter-jemput, yang selalu aku tolak. Beberapa kali suka ajak makan bareng, yang aku tolak juga. Tapi, aku nggak pernah tau semua itu ada maksud lain atau nggak, karena dia juga nggak pernah bilang apa-apa. Lagipula, aku udah berusaha untuk menjaga jarak di luar urusan BEM karena memang nggak mau berurusan lagi sama dia. Jadi, harusnya kamu nggak perlu kuatir, 'kan?"
Sorot mata Sean meneduh begitu mendengar penjelasan dari Caca. Benar. Harusnya ia tidak perlu resah. Ia hanya cukup percaya pada gadis itu, meskipun tetap saja ada rasa kesal karena rupanya Revan masih berusaha.
"Maaf, aku... aku cuma..." Laki-laki itu tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya saat ini. Satu yang pasti, ia cemburu.
Caca tersenyum kecil. Ia mengerti. "Udah. Kita obrolin yang laen aja ya, 'kan udah lama nggak ngobrol gini."
Sean jadi teringat ketika beberapa hari lalu, ketika ia batal menelepon Caca karena ada acara bersama teman-temannya. Pesannya melalui DM Twitter hanya dibaca tanpa balasan dari gadis itu. Beberapa pesan lain dikirimnya lagi, namun tidak dibaca seharian oleh Caca. Saat itu, Sean merutuki kebodohannya sendiri yang membuat Caca merajuk.
Malamnya, ia sempat mengirim pesan kepada Lio, menanyakan keadaan Caca. "Tadi pagi, pas keluar dari kamar sih, gua liat matanya bengkak. Keliatan banget semaleman nangis tuh anak. Berantem sama lo ya?" Balasan Lio membuat hati Sean terasa nyeri. Mengetahui bahwa ia adalah penyebab Caca menangis, selalu membuat perasaannya berantakan.
"Ca, aku minta maaf soal kejadian beberapa hari lalu. Aku keseringan maen sama temen-temen ya?"
Gadis itu menggelengkan kepala. "Aku nggak keberatan kamu maen sama mereka. Beneran. Aku cuma kesel kamu nggak nepatin janji. Kalo memang udah janji sama mereka, jangan buat janji ke aku juga. Nggak enak tau, udah berharap bisa ngobrol sama kamu, taunya batal tiba-tiba. Padahal, kemaren aku kang..." Caca berhenti sebelum menyelesaikan kata-katanya. Kadang, ia masih malu mengutarakan perasaannya pada Sean. Selama ini, ia hanya berani mengatakan ketika Sean sudah mengucapkannya terlebih dahulu.
"Kang...en?" tanya Sean dengan nada iseng.
"Nggak," bantahnya.
"Lah? Nggak kangen?"
"Bukan gitu."
"Jadi gimana? Kangen apa nggak?"
"Nggak tau ah kamu mah."
Tawa Sean tidak mampu ditahan lagi, terlebih melihat ekspresi Caca yang setengah cemberut. "Iya, nanti aku mulai catetin jadwal aku deh, biar nggak lupa."
"Pokoknya kalo sampe lupa lagi, aku bakal marah besar sama kamu."
"Iya, nggak lagi."
***
Author's note:
Holaaa readers! Makasih udah baca sampe di part ini, yeay! Makasih juga buat semua vote dan komen2 yang kadang bikin aku senyam senyum kek orgil hahahaha Makasih utk kritik dan saran kalian. Jangan sungkan lho utk kasih kritik, saran lewat message, supaya aku tulisanku bisa lebih baik lagi. Pokoknya terima kasih banyak banyak yaa!
Kisah Satu Dekade ini awalnya cuma sebuah cerpen yg aku tulis di blog. Iya, aku aktif nulis di blog dari 2012 hehehe. Awalnya aku buat 2 cerpen dengan judul Sean (Marisa's POV) dan Marisa (Sean's POV). Eh, idenya masih ada buat nulis ttg cerita mereka, aku buat lagi 2 Side Story, salah satuny cerita yang mereka neduh di halte itu hihihi.
Nah, udah selesaiin dua-duanya, aku masih gagal move on sama kisah mereka. Makanya, pindah ke platform ini deh biar lebih tertata aja dijadiin per bab-bab, kaya novel jadinya. Btw, ini novel pertamaku. Doain semoga aku bisa nulis sampe rampung ya, biar lega hati dan pikiran ini hahahaha Love u all <3<3<3
KAMU SEDANG MEMBACA
Kisah Satu Dekade [END]
General FictionSetiap pertemuan, akan ada perpisahan. Setiap perpisahan pun ada peluang untuk bertemu kembali. Lantas, bagaimana dengan cerita antara Sean dan Caca? Haruskah mereka menunggu pertemuan berikutnya untuk melanjutkan kisah yang telah ada, atau memulai...
![Kisah Satu Dekade [END]](https://img.wattpad.com/cover/310186229-64-k550441.jpg)