BAB 36: Not This Time

900 70 3
                                        

Sean benar-benar menjemput Caca sepulang dari bimbel, demi ditemani gadis itu untuk mencari buku cetak Matematika yang lupa dibelinya. Di beberapa toko, buku itu sudah habis terjual. Sebagai warga yang sudah lama tinggal di ibukota, Caca mengajak Sean untuk mencarinya di sebuah toko buku bekas di daerah Jakarta Barat.

Kesan pertama saat Sean masuk ke dalam toko itu adalah terasa seperti berada di perpustakaan yang telah berdiri sejak puluhan tahun silam. Tempat itu didominasi oleh buku yang sudah berwarna kecokelatan. Namun, jangan salah, meski terlihat kuno, buku-buku di sana cukup lengkap dan tertata rapi sesuai dengan kategori. Dan untunglah, buku yang dicari-cari Sean ada di antara ribuan buku di sana.

"Ca, sebelum balik, cari makan dulu yuk. Laper gua," kata Sean begitu mereka keluar dari toko.

"Eh, di deket sini ada tukang bakso langganan gua sama Lio. Mau nggak?"

"Boleh. Lo berdua makan bakso jauh bener sampe ke sini. Di daerah Selatan nggak ada tukang bakso emang?"

"Ye, yang enak di sini. Lo cobain makanya."

Caca dengan senang hati mengarahkan jalan kepada Sean yang fokus mengendarai motor karena lalu lintas mulai ramai saat jam pulang kerja. Lalu sampailah mereka di sebuah kedai dengan gerobak bakso berwarna biru tua yang bertuliskan BAKSO BANG OJAK.

"Bang, bakso urat satu ya," seru Caca pada abang yang sedang mengaduk kuah bakso di panci besar, lalu ganti bertanya pada Sean, "Lo apa?"

"Samain aja."

"Bakso urat dua ya, Bang."

"Udah lama nggak kemari. Tumben nggak sama yang satunya, Neng," ujar Bang Ojak sambil menyiapkan dua mangkuk bakso pesanan Caca.

"Sibuk dia mah, Bang."

Sean tampak menyimak percakapan keduanya yang cukup meyakinkan dirinya bahwa tempat ini memang langganan Caca dan Lio.

Seorang pengamen datang membawa gitar dan meminta izin untuk menemani para pelanggan yang sedang menyantap hidangan, dengan sebuah lagu. Gitar mulai digenjreng bersamaan dengan datangnya bakso pesanan Sean dan Caca yang wanginya begitu menggoda selera.

Sementara lagu Kau Cantik Hari Ini milik Lobow mulai dilantunkan, Caca langsung memasukkan satu sendok cabai giling ke dalam mangkuk dan mengaduknya.

"Hmmmm," gumam Caca setelah memasukkan sepotong bakso beserta kuah ke dalam mulutnya, sambil memejamkan mata.

"Enak banget nih?" ejek Sean melihat tingkah gadis di sebelahnya.

"Gua udah lama nggak makan ini. Makanya, enaknya tuh jadi berkali-kali lipat."

Tawa kecil keluar dari mulut Sean sebelum ia menyuapkan sendok miliknya. Enak, tepat seperti kata Caca. Lantas, Sean menoleh kembali ke sebelahnya, melihat seorang gadis yang sedang kesulitan menikmati makanan kesukaannya karena helaian rambut panjangnya berjatuhan dan hampir masuk ke dalam mangkuk. Diiringi lagu yang dinyanyikan sang pengamen, membuat Sean seolah sedang menonton video klip, dengan memandangi Caca tanpa berkedip selama beberapa saat. Sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah lengkungan.

"Lo nggak bawa karet rambut?" tanyanya.

Gadis itu menggeleng tanpa menoleh dan masih asyik menikmati makanan di depannya.

Sean lekas mengulurkan tangan kirinya, menyatukan helai rambut Caca dalam genggamannya.

"Eh, ngapain?"

"Anggep aja ini iket rambut. Biar lo bisa makan dengan tenang."

"Lo makannya gimana?"

"Gampang, pake satu tangan juga bisa. Daripada rambut lo ikut makan, nanti helm gua bau bakso," canda Sean.

Kisah Satu Dekade [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang