BAB 18: First Birthday

766 73 8
                                        

Rentetan bunyi pesan masuk di ponsel menyapa telinga Caca ketika ia baru menghidupkan benda itu. Semua pesan yang masuk berisi ucapan ulang tahun ke 18 untuknya. Namun, tentu saja pesan dari Sean yang ia buka pertama kali. Alih-alih mengirimkan ucapan panjang, laki-laki itu justru mengirimkan beberapa pesan suara berdurasi 2-3 detik.

"Happy Birthday!"

"Happy Birthday!" Yang kedua, bernada lebih tinggi.

"Happy Birthday!" Yang ini, bernada lebih tinggi daripada yang kedua.

"Happy 18th!"

"I love you, and..."

"HAPPY BIRTHDAY!"

Selesai mendengarkan pesan suara itu, Caca tertawa kecil. Hal-hal absurd yang kadang dilakukan laki-laki itu, tak pernah gagal membuatnya senang. Caca segera bersiap pergi ke kampus, mengikuti Ospek hari kedua. Meskipun ia tahu hari ini akan sama melelahkannya seperti kemarin, namun mendengar suara Sean membuatnya menemukan semangat kembali.

Empat sekawan itu kini melangkah ke fase hidup yang baru, sebagai mahasiswa. Caca, Lio, dan Rara sepakat memilih universitas yang sama di Jakarta. Caca mengambil jurusan Manajemen Bisnis, Lio mengambil Akuntansi, yang sama-sama di Fakultas Ekonomi. Ya, Lio mengikuti langkah Caca bertolak meninggalkan ilmu sains karena katanya sudah jenuh bertemu dengan kumpulan rumus yang membuat kepalanya pusing. Rara, mengambil jurusan Kedokteran, sesuai minatnya sejak dulu. Sementara Sean sudah lebih dulu memulai kegiatan kuliahnya dari bulan lalu, sebagai mahasiswa Desain Grafis di London.

Kalau kemarin, seluruh calon mahasiswa baru dikumpulkan di auditorium yang besar, hari ini mereka berada di auditorium masing-masing fakultas. Setelah seorang Dekan Fakultas selesai memberikan ceramah mengenai Fakultas Ekonomi (FE), mereka diberikan waktu istirahat untuk makan siang. Caca sedang membawa sekotak nasi yang dibagikan panitia, ketika mendengar seseorang memanggilnya. Matanya terbelalak mendapati siapa yang baru saja menyebut namanya. Ekspresi Caca sangat bertolak belakang dengan si lawan bicara yang berseri-seri ketika memastikan bahwa orang di hadapannya adalah benar Caca. Revan, cinta pertama Caca, hadir kembali dalam hidupnya.

Banyak orang setuju bahwa cinta pertama selalu mempunyai tempat sendiri dan tidak mudah untuk dilupakan begitu saja, walaupun perasaan yang dulunya berkobar sudah hilang. Caca memang tidak pernah menyandang status apapun dengan Revan, bahkan sekarang pun ia tidak menyimpan perasaan apa-apa lagi padanya. Tapi, tetap saja ia masih ingat bagaimana rasanya pertama kali berdebar-debar, pertama kali diperhatikan oleh lawan jenis, pertama kali jatuh dalam tatapan seseorang, meskipun orang yang sama juga membuatnya merasakan patah hati untuk pertama kalinya.

"Ternyata beneran lo, Ca. Bisa ketemu di sini, ya, kita. Nggak nyangka."

Gadis itu melirik karton di dada Revan yang juga tertulis jurusannya. "Manbis juga?" gumam Caca.

Revan melirik karton milik Caca. "Lah, iya. Asyik, ada temen nih gua."

Caca memaksakan sebuah senyum sopan. Sebenarnya, ia tidak menaruh dendam pada Revan atas perbuatannya di masa lalu. Caca menganggap hal tersebut hanya masalah anak-anak tanggung saja. Toh, mereka sudah berdamai saat kelulusan SMP. Namun, ia juga tidak bisa berkata bahwa kehadiran Revan membuatnya nyaman. Kalau boleh memilih, lebih baik ia tidak pernah bertemu lagi dengan laki-laki itu.

Sean menyampirkan tas di pundak dan menenteng laptop dengan satu tangan, lalu keluar dari perpustakaan menuju taman kampus. Ia dan Caca sudah berjanji untuk melakukan panggilan video jam satu siang waktu London, yang artinya jam tujuh malam waktu Indonesia, beda enam jam. Sean menyiapkan sepotong kue dan menancapkan lilin di atasnya, sebelum mengarahkan kursor di laptop untuk melakukan panggilan. Hanya butuh waktu dua detik untuk melihat layar laptopnya berganti dengan wajah seorang gadis yang ia rindukan. Gadis itu tersenyum manis sambil melambaikan tangan ke arahnya.

"Hai." Suara Caca terdengar di telinga Sean melalui headset yang ia gunakan, menambah kerinduan yang ia pendam kepada gadis yang terakhir ia temui sebulan lalu. Gadis yang enggan menunjukkan bahwa dirinya menangis ketika mengantarnya ke bandara bersama Lio, Rara, juga mamanya. Waktu itu, Sean sedang berpamitan dengan Dianne, Lio, dan Rara secara bergantian, Caca berbalik membelakangi mereka sambil mengusap air mata yang sudah jatuh di pipinya. Gadis itu tidak sadar bahwa Sean memperhatikannya. Ia berbalik kembali dan memaksakan sebuah senyuman lebar ketika berpelukan singkat dengan Sean.

"Hei, happy birthday to you, Caca Handika," ucap Sean lalu menghidupkan pemantik ke sumbu lilin.

Di seberang sana, Caca yang juga sudah menyiapkan sepotong kue beserta lilin, melakukan hal yang sama.

"Make a wish dulu," perintah Sean ketika lilin mereka berdua sudah hidup.

Caca menutup mata sejenak masih dengan wajah sumringah. Ia membuka matanya, "Udah," lalu meniup lilin miliknya, yang kemudian diikuti oleh Sean.

Perayaan ulang tahun yang sederhana ini ditutup dengan tepuk tangan dan sorakan pelan yang girang oleh gadis itu, membuat Sean ikut tertawa kecil. "Gimana Ospek hari ini?"

Bertanya tentang kegiatan Caca selama mereka berjauhan, merupakan hobi baru Sean. Ia selalu suka mendengar Caca bercerita panjang-lebar mengenai sesuatu karena matanya juga ikut berbicara. Namun ketika kali ini ia melontarkan pertanyaan itu, mendadak raut wajah Caca berubah.

"Nggak ada yang seru," jawab Caca singkat, lalu menyuapkan potongan kecil kue di depannya.

"Udah gitu doang?"

Sean melihat gadis itu menunduk, mengetukkan jarinya di meja dengan wajah cemberut. "Kamu tau nggak sih, aku tuh ngerasa apes banget masuk ekonomi. Harusnya Mama tuh dukung aku masuk kedokteran."

"Apes kenapa memang, Ca?" tanya Sean lembut. Ia mengerti Caca masih belum ikhlas untuk meninggalkan cita-citanya demi keinginan Laras.

"Pertama, aku sama sekali nggak tertarik sama semua materi hari ini yang lebih banyak bahas tentang FE, jadi aku bosen dan ngantuk banget selama Ospek tadi. Kedua, masa aku bisa satu jurusan sama..."

Sean masih menunggu kelanjutan kata-kata Caca.

"... sama Revan."

"Revan yang..."

"Satu SMP sama aku."

Fakta itu tidak terdengar baik di telinga Sean. Seseorang dari masa lalu Caca kembali muncul, sementara ia tidak ada di sisi gadis itu, membuatnya sedikit resah. Namun, ia tidak mau memikirkan hal terlalu jauh, sesuatu yang belum tentu terjadi.

"Terus, pas ketemu, kalian gimana?"

"Ya, biasa aja sih. Nyapa, terus tau jurusan kita sama, udah gitu doang."

Sean mengangguk. "Ya udah, nggak usah terlalu dipikirin soal dia," katanya lebih kepada dirinya sendiri. "Lagian, masa lagi ultah malah bete? Kalo soal jurusan, cuma butuh waktu kok untuk kamu nyaman. Kamu tuh pinter, Ca, masuk jurusan apa aja pasti bisa."

"Bisa menderita."

Laki-laki itu terkekeh mendengar celetukan asal dari Caca, membuat perasaannya lebih baik. Lalu Sean mengalihkan topik pembicaraan yang lebih menyenangkan tentang dosen baik yang ditemuinya hari ini, tentang teman-teman barunya, tentang Lio, tentang Rara, apa saja demi mengembalikan senyum gadis yang genap berusia 18 tahun itu, sebelum Sean memulai kelas mata kuliah selanjutnya.

Kisah Satu Dekade [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang