BAB 15: First Suspicion

740 79 5
                                        

"Gua yakin ada yang nggak beres."

Kata-kata itu tiba-tiba terputar di kepalanya ketika melihat Sean dan Astrid sedang duduk di depan kelas IPA 3, kelas Sean. Rara menyedot es teh bungkusan di tangannya sambil memperhatikan pasangan itu lewat jendela di samping tempat duduknya. Gosip mengenai Sean yang pacaran dengan Astrid telah tersebar di angkatan mereka. Beberapa teman sekelasnya sempat heboh mendengar ketika kabar itu mulai berembus bulan lalu. Lebih masuk akal bila berita yang tersebar adalah Sean dan Caca yang jadi pasangan. Mereka tentu saja tidak berani memvalidasi gosip itu kepada Caca langsung, makanya bertanya pada Rara.

Kalau dilihat, memang benar kata Lio, ada yang tidak beres. Mereka jarang terlihat bersama, tidak seperti pasangan dari kelas lain yang selalu menempel setiap jam istirahat. Hanya sesekali, namun Rara tetap diam-diam memperhatikan saat mereka sedang berdua di jam istirahat seperti ini. Daripada disebut pasangan, mereka lebih terlihat seperti dua orang asing yang sedang duduk bersama. Astrid sibuk dengan ponselnya, kadang tertawa kecil melihat entah apa yang muncul di sana. Sementara Sean lebih banyak melamun, melihat orang yang berlalu-lalang di depannya, sesekali mengecek ponsel. Kalau ada teman mereka yang menegur, Astrid langsung menggandeng lengan Sean mesra, menampilkan wajah berseri-seri kepada lawan bicaranya. Sedangkan Sean hanya menampilkan senyuman yang sepertinya dipaksakan? Entahlah.

Rara tidak bisa membicarakan hal ini pada sahabatnya, Caca, karena sepertinya Caca juga enggan membahas hal itu. Akhir-akhir ini, gadis itu lebih memilih menghabiskan waktu istirahat di dalam kelas, berbincang, tertawa, sampai menyanyi tidak jelas bersama teman-teman sekelasnya. Rara juga tahu, Caca malas keluar kelas karena tidak ingin bertemu Sean. Ia bahkan bersedia untuk menggunakan toilet yang lebih jauh dari kelasnya, karena jika ke toilet terdekat, maka ia harus melewati kelas Sean.

Caca lebih memilih untuk menyembunyikan kesedihannya dibandingkan bercerita pada orang lain. Jadi, yang bisa Rara lakukan sekarang sebagai sahabat adalah menemani gadis itu, sampai sakit hati Caca yang ia tutupi dengan tertawa lepas bersama teman-temannya, benar-benar sembuh

Masa SMA adalah masa yang paling menyenangkan. Masa di mana masih bisa bermain dan belajar bersama teman-teman sebelum memasuki jenjang yang lebih serius untuk menata masa depan. Sulitnya mengerjakan ujian, senangnya mendapat nilai yang besar, bisa dirasakan bersama-sama. Beberapa bulan lagi, mereka akan resmi menjadi alumni sekolah. Tidak ada lagi peraturan untuk masuk jam 7 pagi, dan dihukum jika terlambat. Tidak ada lagi kewajiban untuk menggunakan seragam. Tidak ada lagi kebahagiaan yang bisa mereka rasakan bersama saat jam kosong seperti sekarang.

"Ayok foto bareng semuanya."

"Gayanya kayak gini semua ya."

"Lo nggak masuk di kamera, geser kiri dikit."

"Selfie aja kali."

"Hahaha, muka lo bisa beneran dikit nggak?"

"Nanti tag gua ya di Facebook."

"Coba deh yang cowok gaya lenjeh-lenjeh gitu."

"Hahaha. Ngakak banget gila."

Kira-kira begitu isi percakapan di dalam kelas Caca yang riuh karena guru mereka tidak masuk kelas. Bukan karena gurunya tidak hadir. Tapi sepertinya beberapa guru memang sengaja tidak mengajar dalam seminggu ini karena materi pelajaran yang sudah selesai, sekaligus memberi waktu untuk mereka bisa bernapas sebelum mengikuti ujian kelulusan. Meskipun guru-guru tersebut menutupinya dengan tetap memberikan soal latihan jika di antara mereka ada yang ingin mengerjakan.

Caca ikut serta dalam kehebohan itu. Ia tidak ingin melewatkan sedikitpun masa-masa terakhirnya sebagai siswi SMA. Gadis itu ingin menciptakan banyak kenangan bahagia sebelum lulus. Dipikir-pikir, kesibukannya di tempat bimbel, dan berbagi tawa bersama teman-teman sekelasnya, cukup untuk mengalihkan pikirannya dari Sean, barang sesaat saja.

Bukan kelas Caca saja, di kelas Sean pun tidak kalah ramai. Berbagai obrolan terdengar tumpang tindih.

"Jadi tempat foto alkena kelas kita di mana nih?"

"Yang alam-alam aja."

"Hutan gitu?"

"Ye, itu mah habitat lo."

"Katanya dia mau yang alam."

"Cafe aja, nanti pake baju formal gitu, kayak bos-bos muda."

"Muka lo kurang memadai buat jadi bos."

Sean memilih untuk menyimak dan sesekali tertawa ketika mendengar celetukan teman-teman sekelasnya. Ia pendatang baru di sini, jadi tidak bisa membantu memberi ide karena ia juga terlalu tahu tempat-tempat yang ada di Jakarta. Saat ini ketua kelas mereka sedang membuka diskusi untuk menentukan tema pakaian dan tempat untuk foto alkena, sekaligus membahas kegiatan untuk perpisahan kelas yang akan diadakan di sebuah villa milik salah satu teman kelasnya.

Perpisahan. Satu kata itu mampu membangkitkan kembali memori yang telah direkam dalam otaknya selama ia pindah ke sekolah ini, dan masuk di kelas IPA 3. Ia mengingat ketika pertama kali menginjakkan kaki ke sini, diajak Pak Tri berkeliling sekolah, bertemu Deri yang banyak mendampingi Sean selama di kelas, mengenal teman-teman baru dengan berbagai macam tabiat, berjuang bersama untuk bisa lulus, saling membantu ketika ada teman yang nilainya kurang baik saat mengikuti Try Out agar mereka bisa mengerjakan soal ujian akhir nanti dengan baik, dan hal-hal lain yang kemudian membuat Sean sedikit merasa sedih karena nantinya mereka harus berpisah.

Sama seperti Caca, akhir-akhir ini Sean juga lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman sekelasnya. Kadang, ia sampai pulang telat hanya untuk sekedar berbincang, bermain game online setelah selesai mengikuti bimbel, juga bermain sepak bola di lapangan sekolah dengan teman-teman lain. Hal ini ia lakukan juga untuk menghindari Astrid. Daripada menghabiskan waktu bersama Astrid, berpura-pura menjadi pacarnya di depan semua orang, lebih baik ia menjadi diri sendiri bersama teman-temannya.

Kisah Satu Dekade [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang