BAB 8: First Punishment

1.2K 119 14
                                        

Hari Senin menempati urutan pertama dalam kategori hari paling dibenci oleh hampir seluruh umat manusia. Saat memulai hari pertama dalam satu minggu, artinya waktu akhir pekan sudah habis. Waktu untuk beristirahat dan bersenang-senang sudah selesai. Namun, Senin ini menjadi hari yang dibenci oleh seorang Marisa Vaneta, bukan karena alasan itu.

Caca menaungi matanya dari sinar matahari pagi menggunakan sebelah tangan, sambil mendecak kesal. Setiap hari Senin, sekolah mereka pasti akan mengadakan upacara bendera. Bukan, kali ini Caca bukan kesal karena mengikuti upacara. Ia sibuk merutuki diri karena lupa membawa topi, sehingga harus masuk di barisan khusus murid yang tidak beratribut lengkap. Barisan tersebut sengaja ditempatkan menghadap matahari pagi secara langsung. Hitung-hitung, sebagai hukuman supaya mereka jera.

Sean sedang berjalan memasuki lapangan bersama para siswa yang lain ketika netranya menangkap sosok seorang gadis yang ia kenal, memasang wajah cemberut, sambil menghalau paparan sinar matahari dengan telapak tangannya yang kecil, berada di barisan para murid yang tidak beratribut lengkap. Ekspresi Caca yang tampak sebal, menggelitiknya. Beberapa detik kemudian, sebuah ide muncul. Sean melepaskan topi yang ia kenakan, dan menyimpan benda itu di dalam saku celana. Ia berjalan masuk ke barisan tempat Caca berada, dan berdiri tepat di depan gadis itu.

Panasnya paparan sinar matahari yang Caca rasakan tadi, perlahan hilang karena terhalang sesuatu. Gadis itu menurunkan tangannya, mendongak dan mendapati punggung seseorang yang sudah dikenalnya. Bukan hanya panas matahari yang perlahan menghilang, rasa kesalnya juga terganti oleh seulas senyum yang terbit di wajah Caca. Mungkin, ia senang karena ada yang menemaninya menjalani hukuman.

Gadis itu membuka pembicaraan, "Nggak bawa topi juga lo?"

"Lupa," jawab Sean singkat, masih membelakangi Caca.

"Kebiasaan lo mah, lupa mulu. Ini lo kenapa nyerobot barisan gua sih? Lagian badan lo tinggi harusnya baris di belakang."

"Justru karena gua tinggi, makanya harus di sini."

"Kenapa gitu?"

Sean berbalik, sedikit menunduk untuk menghadap Caca. "Ya, biar lo nggak kepanasan." Laki-laki itu kemudian meletakkan satu tangannya di atas kepala Caca. "Tuh, rambut lo aja udah panas banget," ujar Sean sambil tersenyum lebar, lalu membalikkan badannya kembali ke arah depan.

Caca hanya diam, tidak merespon apapun karena pikirannya tiba-tiba berhenti akibat perbuatan Sean barusan. Jantungnya berdetak lebih cepat ketika Sean tersenyum kepadanya seperti itu. Ini sudah kesekian kalinya Sean melakukan hal-hal yang membuat ia bereaksi seperti ini, senyum-senyum sendiri.

Sebut saja ketika Caca sedang datang bulan sehingga tidak nafsu makan. Saat istirahat, ia pergi ke toilet sebentar dan ketika kembali ke kelas, ia mendapati sebuah roti meses beserta sekotak susu cokelat ada di lacinya. Di roti tersebut terdapat sebuah pesan "Biarpun nggak nafsu, harus dipaksain makan, kasian otak lo yang jarang kepake harus kerja berat." Lalu, pada susu kotaknya tertulis, "Bercanda, Ca. Lo orang paling pinter yang pernah gua kenal. Pinter ngibul. Itu Sherina yang ngomong, bukan gua." Pernah juga ketika Caca mendeklarasikan bahwa dirinya akan mengikuti program diet, Sean meletakkan beberapa makanan ringan di dalam laci meja dengan pesan, "Caca, lo jangan diet mulu. Gua jadi nggak punya temen makan. Nanti istirahat ke kantin bareng ya, gua traktir deh." Caca juga pernah menemukan sebungkus bakmi ayam, masih di tempat yang sama - laci mejanya - ketika ia baru datang ke sekolah. Hari itu, ia akan mengikuti ulangan Biologi. Sean sudah hafal kebiasaan Caca yang lebih memilih menggunakan jam istirahat untuk mempelajari materi daripada makan. "Good luck for your exam! Gua tau sih nilai Biologi lo biasanya gede. Tapi, kalo misalnya sampe remedi, nanti belajarnya sama gua aja. Dijamin nggak kalah kok sama bimbel lo," tulis Sean pada secarik kertas yang ia tempel di bungkusan bakmi tersebut.

Sean juga kadang meneleponnya malam-malam, ketika Caca berkata ia tidak bisa tidur. Laki-laki itu akan dengan senang hati menemani Caca sampai mendapatkan rasa kantuknya. Kemudian di lain hari, Sean kadang bersikap protektif ketika Caca ingin menghabiskan waktu seorang diri, seperti nonton sendirian, makan sendirian, dan belanja sendirian. Ia selalu berpesan kepada Caca untuk memberinya kabar ketika pergi dari rumah, ketika sampai di tempat tujuan, dan ketika pulang kembali ke rumah.

Lalu, saat ini, laki-laki itu berdiri di hadapan Caca, menghalangi gadis itu dari teriknya matahari, sambil sesekali menyeka peluh di sisi wajahnya. Betapa lucunya ketika gadis itu menyadari hal-hal sederhana yang dilakukan seorang Sean bisa membuatnya tersipu. Bahkan melihat punggung Sean saja membuatnya merasa senang. Apakah boleh ia merasa begini? Sejujurnya, ia masih takut untuk tertarik kepada seseorang. Takut dikecewakan, takut sakit lagi. Tapi, ia juga tidak bisa menyangkal bahwa ia suka dengan cara Sean memperlakukan dirinya. Perlahan, Caca mulai merasa nyaman dan terbiasa dengan keberadaan Sean di dekatnya.

Sementara itu, sejak upacara bendera dimulai sampai selesai, Sean tanpa kentara melirik Caca beberapa kali, memastikan tubuhnya yang tinggi melindungi seseorang yang berbaris di belakangnya. Meskipun hari ini matahari dengan gagah menunjukkan diri tanpa terhalang awan, yang membuat tubuh Sean basah oleh keringat, namun senyum tetap tidak meninggalkan wajahnya. Hanya berdiri di depan Caca saja sudah membuat ribuan kupu-kupu beterbangan di perut hingga dada seorang Sean. Ia tidak sabar menunggu momen apa lagi di antara mereka berdua, yang bisa membuat Sean bahagia seperti sekarang.

Kisah Satu Dekade [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang