BAB 7: First Wound

1.3K 133 13
                                        

Rara bergantian melihat Caca dan Sean dengan tatapan menyelidik. Entah sahabat sekaligus teman sebangkunya sadar atau tidak, tapi beberapa hari belakangan ini Sean sering mampir ke kelas saat jam istirahat dan menghampiri mereka. Ralat, menghampiri Caca lebih tepatnya.

Ada saja topik yang dibawa laki-laki itu tiap kali ke kelas mereka. Kadang, ia bertanya soal ulangan jika mereka sudah duluan mengikuti ulangan harian mata pelajaran apapun yang gurunya sama. Kadang, ia menanyakan tugas, atau mengajak mengerjakan tugas bersama. Rara ingat suatu saat, guru Bahasa Indonesia mereka memberi tugas untuk meresensi buku novel tahun 90an. Masing-masing murid sudah ditetapkan harus meresensi novel apa. Kebetulan Sean dan Caca mendapat novel yang sama. Mereka berdua senang bukan main ketika mengetahui hal itu dan semangat sekali mengerjakannya. Seorang Caca yang begitu semangat mengerjakan tugas tanpa mengeluh, agaknya juga patut dicurigai.

Nah, hari ini Sean datang lagi membawa topik yang sering ia gunakan, selain tentang ulangan atau tugas. "Ada yang liat Lio nggak?"

"Lo kalo nyariin Lio, harusnya di kelas dia. Bukan di kelas kita," jawab Rara.

"Telepon kek." Caca menimpali.

"Nggak diangkat. Kalian mau ke mana?"

"Kantin, ngebakso. Ikut nggak?" ajak Rara.

"Yok."

Sean dan Caca sedang membawa semangkuk bakso dengan hati-hati menuju meja yang telah ditempati Rara. Tinggal beberapa langkah lagi dari meja, seseorang berjalan ke arahnya dan menyenggol lengan gadis itu. Mangkuk di tangan Caca sudah pasti akan jatuh kalau Sean tidak sigap menahan dengan tangannya yang bebas. Mereka berdua sontak menoleh ke orang tersebut yang hanya melengos tak peduli.

"Punya mata nggak lo?" seru Rara yang sudah bangun dari kursi kepada seseorang yang pura-pura tidak mendengarnya. Orang itu jelas mengabaikannya. Rara mendesah keras dan duduk kembali dengan emosi yang membara. Matanya menatap tajam tanpa berkedip ke orang itu.

"Itu siapa?" tanya Sean yang sudah duduk di hadapan Rara.

Rara mengalihkan tatapan kepada Caca yang duduk di sampingnya. "Musuh bebuyutan dia nih. Tuh anak mau nyari gara-gara lagi?"

Caca mengaduk kuah bakso di hadapannya sambil mengangkat bahu. Ia sudah lelah terlibat dengan drama yang dibuat orang itu.

"Emang ada masalah apa?" tanya Sean lagi, berharap salah satu dari bisa memberi penjelasan lebih.

Namun, Rara hanya diam sambil melirik ke arah Caca yang saat ini sedang menyuapkan potongan bakso ke dalam mulutnya dengan santai.

"Namanya Astrid, orang yang mengubah masa SMP gua jadi mimpi buruk, yang gua harap nggak pernah keulang lagi." Sementara Caca mulai cerita, Sean dan Rara menyimak. Ya, meskipun Rara sudah tahu cerita lengkapnya.

"Gua dulu akrab sama dia. Dari kelas 4 SD sampe 1 SMP, kita selalu bareng. Kayak gua sama Rara gini. Tapi tiba-tiba aja dia berubah pas kelas 2 SMP, tepatnya setelah dia putus sama pacarnya. Sampe sekarang, gua nggak tau apa penyebabnya dia bisa berubah gitu. Dia mulai ngejauhin gua dan punya geng sendiri sama temen-temen barunya. Tapi, itu belom seberapa. Gua masih baik-baik aja meskipun nggak punya temen akrab."

"Terus, gua kenal Revan. Kita bertiga sekelas pas kelas 2 SMP — gua, Astrid dan Revan. Gua sama Revan makin akrab, sering SMS-an, terus kalo di kelas juga duduknya deketan. Gua punya perasaan ke Revan karena dia baik, perhatian, suka bikin gua deg-deg an juga, dan gua akuin dia cinta pertama gua. Revan pernah cerita kalo Astrid nembak dia, dan dia nolak. Jadi jelas, Astrid nggak suka kalo kita deket. Dia bahkan ngancem gua untuk jauhin Revan. Tapi namanya lagi jatuh cinta, ya gua nggak menggubris semua anceman dia. Terus, Astrid dan temen-temennya mulai melancarkan aksi-aksi jahat mereka."

Caca mulai menghitung dengan jari tangannya. "Ngejambak gua, udah. Nyiram gua pake es teh, udah. Pake air kotor bekas pel, udah juga. Kunciin gua di kamar mandi udah. Nempelin permen karet ke rambut gua, udah. Kasih lem di kursi gua, udah. Banyak lah pokoknya. Tapi, gua nggak nyerah begitu aja sama kelakukan mereka."

"Terus, cowok itu tau nggak lo digituin?" Sean bertanya dengan nada tinggi. Tanpa sadar, ia menggertakkan giginya selama Caca bercerita tadi.

Gadis itu tersenyum pahit. "Tau. Makanya, dia pacaran sama cewek laen."

Sean menatap Caca dengan kening berkerut, ia tidak mengerti.

"Pas kelulusan, Revan akhirnya ngaku kalo dulu dia memang ngedeketin dua orang, gua sama ceweknya itu. Gua nggak ngerti sih kenapa dia bisa ngelakuin itu, mungkin untuk perbandingan kali ya? Dia milih untuk ngelepasin gua karena katanya gua banyak drama sama Astrid, dia nggak suka."

Caca mendengus sarkas. "Cinta pertama berakhir jadi patah hati pertama gua juga. Bangke emang. Tapi, ya setidaknya setelah gosip Revan pacaran itu tersebar di sekolah, Astrid berhenti sih gangguin gua, sampe sekarang."

"Cerita selesai," kata Caca lagi sambil tersenyum pada Sean, lalu melanjutkan makannya.

Caca memang menanggapi kejadian tadi dengan santai, namun dalam hatinya ia juga bertanya-tanya maksud dari tindakan Astrid. Kali ini, apa lagi yang akan dibuatnya? Apakah ia harus mengulang mimpi buruk itu lagi? Demi Tuhan, Caca bisa gila kalau dirinya harus kembali berurusan dengan gadis itu.

Tidak. Mungkin, ia hanya berpikir terlalu jauh. Bisa saja memang Astrid tidak sengaja. Lagipula, kejadian seperti ini juga biasa terjadi saat kantin sedang ramai, sama seperti pertemuan pertamanya dengan Sean waktu itu. Ya, semoga saja.

Kisah Satu Dekade [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang