Game Over. Sean dan Lio meletakkan stik PS setelah berjam-jam bermain bersama.
"Gila! Pegel banget badan gua. Udah lama nggak maraton maen gini," keluh Sean sambil meregangkan tubuhnya yang menimbulkan bunyi 'krek' pada punggung dan lehernya.
"Dasar jompo," ejek Lio.
Seakan baru tersadar, Sean memutar kepala, mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang kamar Lio, dan tidak mendapati Caca—yang tadi menjadi penonton setia mereka— ada di sana. Berarti, Caca belum masuk kembali setelah menerima telepon dari orangtuanya.
"Gua balik ya. Udah malem, nyokap nungguin gara-gara gua nggak bawa kunci rumah."
"Oke. Besok ke sini lagi lo."
Setelah berpamitan dan keluar dari kamar Lio, mata Sean menangkap sosok Caca yang sedang bertopang dagu di terali balkon dengan headset terpasang di kedua telinganya, dan ponsel yang digenggam oleh salah satu tangannya. Pandangan gadis itu tampak menerawang. Sean sengaja menunggu. Ia mengira bahwa Caca masih melakukan panggilan telepon. Namun, selama beberapa saat, gadis itu hanya diam di sana, tanpa menyadari Sean yang dari tadi mengamatinya di pintu balkon.
Langit malam ini cerah, lengkap bersama pemandangan bulan yang sedang melengkungkan senyum manis pada kawanan bintang. Berbeda dengan gadis yang berjarak beberapa meter darinya, seakan sedang diliputi awan gelap. Mungkinkah karena percakapan di telepon tadi?
—
Caca tampak tersentak sesaat ketika sepasang tangan memeluknya dari belakang, lalu tersenyum ketika sang pemilik tangan menempelkan pipinya pada pelipis Caca dan bertanya, "Mikirin apa?"
Ia menggeleng dan melepas headset-nya. "Cuma denger lagu," ucapnya. Bohong. Setelah telepon berakhir, headset itu hanya pelengkap seolah bisa menjadi peredam dari suara di sekitarnya karena saat ini pikirannya sendiri sudah terlalu ramai dengan suara-suara yang datang entah dari mana.
Sebelumnya, semua berjalan baik. Di tengah Caca menemani Sean dan Lio bermain PS sebagai penonton, papanya menelepon. Panggilan video itu menjadi kesempatan Caca untuk mempertemukan Sean kepada kedua orangtuanya. Selama ini, mereka mengenal Sean hanya dari cerita Caca saja. Suasana masih menyenangkan karena orangtua Caca menyambut Sean dengan hangat, sampai...
"Kata Caca, kamu kuliah di London?" Laras bertanya.
"Iya, Tante."
"Denger-denger, mahal ya masuk di situ? Tahun lalu, anaknya temen Tante mau kuliah di sana, tapi katanya mahal. Makanya, nggak jadi ke sana."
"Lumayan juga sih, Tan. Tapi, untungnya kemaren aku dapet beasiswa, jadi uang semesternya dipotong 50 persen."
"Wah, hebat dong. Tuh, Ca, kamu tuh harusnya begitu. Caca mah boro-boro dapet beasiswa, semester satu kemaren aja, IP-nya nggak sampe angka dua."
Senyum yang sedari tadi terpasang di wajah Caca, perlahan memudar. Masih jelas dalam ingatannya masa-masa itu. Ketika ia masih ingin menjadi dokter. Tidak ada minat sama sekali untuk mengenal segala sesuatu tentang perekonomian, bisnis, dan semacamnya. Masa di mana ia bersusah payah mengubur mimpinya dalam-dalam, mulai memaksakan diri untuk bisa mengikuti kuliah dengan baik karena teman-teman sekelasnya menganggap ia bodoh karena tidak pernah bisa menjawab pertanyaan dosen secara lisan, maupun saat ujian.
"Itu kan dulu, Ma. Buktinya semester ini dia bisa dapet 3,9 kok," bela Jimmy. Selalu seperti ini. Ketika mamanya mengungkit semua kegagalan Caca, Jimmy-lah yang selalu membelanya. Tak bisakah mereka sama-sama mendukung anak satu-satunya yang mereka miliki?
"Tapi tetep aja, jadinya kan dia harus ngulang mata kuliah yang nilainya jelek. Ujung-ujung bayarannya malah jadi double."
Suasana hatinya kian memburuk, bersamaan dengan gerutuan Laras di seberang sana. Tentu saja Sean menyadari hal itu, makanya ia menggenggam tangan Caca, berharap gadis itu tak memasukkan semua perkataan yang tidak ingin didengarnya, ke dalam hati.
Caca memaksakan senyum tipis, lalu berbisik, "Aku telepon di luar ya."
Gadis itu masih setia mendengar tuntutan Laras yang memintanya harus begini, harus begitu, sambil tertawa dalam hati. Sampai kapanpun, dirinya tidak pernah cukup untuk sang mama. Usaha apapun yang ia lakukan, tidak akan pernah membuat Laras bahagia. Selalu ada yang salah. Selalu ada yang kurang. Kalau tidak ada sang papa yang selalu mengapresiasi kerja kerasnya. Kalau tidak ada Sean yang mendorongnya untuk tetap berjuang. Mungkin, saat ini ia sudah meninggalkan bangku kuliah. Masa bodoh jika ia berubah jadi anak durhaka. Ia sudah tidak peduli. Toh, mamanya juga tidak peduli padanya.
Oh, ya, tahu alasan mengapa Caca memilih untuk tidak ikut orangtuanya ke Taiwan? Bukan hanya karena soal teman-temannya ada di sini. Alasan utamanya adalah ia memang ingin tinggal terpisah dengan Laras. Sejak dulu hubungan antara ibu dan anak di keluarga kecil itu, sering menimbulkan percekcokan. Perihal memilih kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, pelajaran tambahan, juga beberapa lomba yang Caca ikuti, tidak pernah langsung menghasilkan satu suara. Caca dan keinginannya. Laras dan keinginannya, untuk kebaikan Caca. Meskipun kebaikan yang dimaksud, tidak membawa kebahagiaan untuk anaknya.
Sean melepas pelukan, mengarahkan tubuh Caca untuk berhadapan dengannya. "Nggak apa-apa kalo belom mau cerita sekarang," lantas menyelipkan sejumput rambut ke belakang telinga gadisnya. "Yang pasti kalo kamu lagi capek, aku selalu ada untuk jadi tempat kamu istirahat. Jangan terlalu keras sama diri kamu sendiri."
Memandang mata gadis di hadapannya berkaca-kaca, Sean mengerjap panik. "Lho, kok nangis? Aku salah ngomong ya?"
Namun, Caca tidak menyahut. Ia langsung menghambur ke arah Sean, membenamkan wajahnya yang mulai basah oleh air mata pada dada laki-laki itu. Sean merengkuh gadis itu yang mulai terisak, sambil mengusap punggungnya untuk menenangkan.
Beberapa saat setelah tangisnya reda, masih dalam pelukan Sean, Caca akhirnya bersuara, "Bisa nggak sih, kuliah kamu pindah ke sini aja?"
"Hm?"
Gadis itu mengangkat kepala. Dengan mata sembap dan hidung yang merah, ia mengeratkan pelukannya dan merengek, "Aku pengen istirahatnya kayak gini tiap hari."
Sean tertawa gemas dengan tingkah manja Caca yang baru pertama kali dilihatnya, sejak mereka kenal satu sama lain. Laki-laki itu menyeka sisa air mata dan dengan lembut mengusap rambut panjang Caca yang bergerak tertiup angin. "Sabar ya, satu setengah tahun lagi. Setelah aku lulus, kita nggak perlu LDR lagi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Kisah Satu Dekade [END]
Fiksi UmumSetiap pertemuan, akan ada perpisahan. Setiap perpisahan pun ada peluang untuk bertemu kembali. Lantas, bagaimana dengan cerita antara Sean dan Caca? Haruskah mereka menunggu pertemuan berikutnya untuk melanjutkan kisah yang telah ada, atau memulai...
![Kisah Satu Dekade [END]](https://img.wattpad.com/cover/310186229-64-k550441.jpg)