BAB 3: First Talk

1.9K 179 19
                                        

Bel tanda masuk berbunyi nyaring, membuat beberapa siswa segera masuk ke dalam kelas. Beberapa juga berlari di depan sekolah karena pintu gerbang segera ditutup. Namun, alih-alih masuk kelas, Sean justru berada di dalam ruangan Kepala Sekolah, bersama mamanya pula. Padahal tadi pagi laki-laki itu sudah memaksa mamanya untuk tetap di rumah dan tidak mengantarnya ke sekolah.

"Maksud kedatangan saya kemari karena kemarin Sean, mendapat perlakuan yang tidak baik dari salah satu siswa di sini. Saya mau ketemu sama anak itu. Saya tidak terima kalau sampai anak saya mendapat perundungan di sekolah ini," jelas Dianne dengan sedikit emosi kepada Bu Sondang, Kepala Sekolah di sini.

Bu Sondang kemudian membisikkan sesuatu yang tidak bisa Sean dengar kepada seorang karyawan di sana, yang kemudian dibalas dengan anggukan.

"Siapa namanya? Anak yang nyiram kamu itu?" tanya Dianne kepada Sean.

Sean menggeleng dan mendesah lelah. "Nggak tau, Ma." Ia memang belum tahu nama gadis yang kemarin bertemu dengannya di kantin. Laki-laki itu berharap ketidaktahuannya akan segera menyelesaikan masalah ini. Namun, harapannya sia-sia ketika Bu Sondang berkata, "Marisa, Bu. Anak kelas 12 IPA 5." Oh, rupanya kejadian kemarin bukan hanya menjadi gosip para siswa, tapi juga telah terdengar sampai ke guru-guru, bahkan Bu Sondang sendiri.

"Anak itu memang ceroboh, Bu. Dulu, saat pelajaran saya, dia niatnya mau makan camilan di bawah laci mejanya. Eh, bungkusnya malah dibuka dengan kasar dan isinya kemana-mana. Ya, saya strap abis itu."

Sean menahan senyum ketika mendengar cerita Bu Sondang. Bodoh, katanya dalam hati.

"Pernah juga waktu itu mereka mau merayakan ulang tahun wali kelasnya. Salahnya, mereka menunjuk Marisa untuk bawa kue. Belum sampe ke walinya, kue itu malah nyampe ke tanah duluan," kenang Bu Sondang sambil tersenyum tulus, berharap menenangkan Mama Sean.

"Tapi, intinya begini, Bu. Marisa memang anak yang ceroboh, tapi saya yakin dia nggak akan mem-bully temannya. Selama sekolah di sini, hubungan dia dan anak-anak lain baik kok, Bu, nggak pernah bermasalah sama teman-temannya."

Wajah Dianne mulai melembut ketika mendengar penjelasan dari Bu Sondang. Tepat saat itu, pintu ruangan diketuk, dan wajah gadis itu muncul di balik sana.

"Panggilan kepada Marisa Vaneta kelas 12 IPA 5 diminta untuk ke ruang Kepala Sekolah sekarang. Sekali lagi, panggilan kepada Marisa Vaneta kelas 12 IPA 5 diminta untuk ke ruang Kepala Sekolah sekarang. Terima kasih." Caca sedang mencatat tulisan yang ada di papan tulis, di buku catatan Biologi ketika mendengar namanya disebut di speaker sekolah.

Rara menyenggol teman sebangkunya dan berbisik, "Kenapa Ca? Lo nunggak bayar SPP?"

"Sembarangan lo. Kenapa, ya?" tanyanya lebih kepada diri sendiri. Caca berdiri dari kursi, lalu minta izin kepada gurunya untuk ke ruang Kepala Sekolah. Perasaannya mulai tidak enak saat menuju ke sana.

"Apa gua ketahuan nyontek pas ulangan? Ah, nggak mungkin. Baru sekali doang nyonteknya. Apa ada universitas yang nawarin beasiswa? Lebih nggak mungkin lagi. Nilai matematika gua aja pas-pasan." Caca berdebat dengan dirinya sendiri sampai ia tiba di depan ruangan Kepala Sekolah. Ragu-ragu, Caca mengetuk pintu, lalu dipersilakan masuk. Rasa cemasnya makin menjadi ketika di ruangan itu juga ada si anak baru dan seorang wanita yang mungkin usianya tidak beda jauh dengan Bu Sondang.

Bu Sondang menyuruh Caca duduk di sebelahnya. "Marisa, ini mamanya Sean. Beliau mau tahu kronologi kejadian kemarin itu gimana. Coba kamu cerita," jelas Bu Sondang dengan lembut.

Maksudnya kejadian Fanta tumpah kemarin? Aduh, Caca jadi malu sendiri kalau ingat kejadian itu. Sean melirik sekilas ke arah mamanya dan untunglah, sepertinya emosi Dianne sudah mulai reda setelah mendengar penjelasan Bu Sondang tadi. Sementara Caca merasakan tangannya dingin karena ditatap dengan ekspresi datar dari mama Sean. Gadis itu mulai bercerita tentang kejadian kemarin sejelas-jelasnya dan Sean juga membenarkan cerita itu.

"Kamu nggak ada niat untuk bully Sean, 'kan?" tanya Dianne langsung begitu Caca selesai bercerita.

"Nggak kok, Tante. Lagian mana bisa. Badan dia aja lebih besar dari saya," jawab Caca dengan polos.

Setelah Dianne merasa cukup yakin dengan penjelasan Caca, gadis itu disuruh kembali masuk ke kelas oleh Bu Sondang.

Selama mengikuti pelajaran, Sean tidak bisa konsentrasi. Ia bertanya-tanya bagaimana perasaan gadis yang bernama Marisa itu. Saat di ruangan Bu Sondang tadi, Sean beberapa kali memastikan raut wajah Caca. Ia benar-benar merasa tidak enak karena mamanya menuduh Caca sebagai pem-bully. Apakah gadis itu akan membencinya?

Akhirnya ketika jam istirahat pertama berbunyi, Sean berniat untuk menghampiri Caca di kelasnya. Ternyata gadis itu sedang duduk sendirian di depan kelas, terlihat asyik dengan ponselnya. "Hai," sapa Sean.

Ia mendongak, lalu, "Hai."

Sean duduk di sebelahnya, menghela napas panjang lalu, "Sorry, ya."

"Hm? Kenapa?" Caca terlihat bingung.

Apakah kejadian tadi pagi sama sekali tidak mengganggu pikirannya? Pikir Sean.

"Nyokap lebay banget, ya, sampe dateng ke sekolah. Padahal gua udah jelasin semuanya, tetap aja nggak percaya."

Caca tertawa. Untuk pertama kalinya, Sean melihat gadis itu tertawa. "Ya, wajar aja kali. Lagian hari pertama di sekolah baru, anaknya disirem Fanta, siapa yang nggak khawatir? Gua yang harusnya minta maaf."

Kali ini, Sean yang tersenyum lega mendengar responnya. Lalu, entah mendapat dorongan dari mana, Sean menceritakan tentang masa lalu keluarganya, penyebab mamanya bersikap seperti tadi pagi. Masa lalu yang sebenarnya ingin ia kubur dalam-dalam. Caca mendengarkan Sean dengan seksama. Tidak berpura-pura peduli. Tidak juga menggurui. Hanya mendengarkan, namun bagi Sean itu lebih dari cukup.

"Kita belom kenalan secara resmi, by the way," kata Sean setelah ia selesai bercerita. Ia mengulurkan tangannya kepada Caca. "Sean Saromon, panggil Sean aja."

Caca tersenyum dan menjabat tangan Sean. "Marisa Vaneta, temen-temen manggil gua Ica. Terserah lo sih mau manggil apa, mau Ica kek, Marisa kek, terserah deh."

Tepat setelah Caca berkata seperti itu, ada seseorang yang memanggilnya. "Ica!" Mereka berdua kompak menoleh ke arah pemilik suara, Lio.

"Ca, nanti pas pulang, cepetan dikit keluar kelasnya. Gua ada janji maen futsal jam 2-an. Jadi gua anter lo pulang dulu, terus langsung cabut," ucap Lio setelah ia berlari menghampiri Caca.

Oh, pacarnya? kata Sean dalam hati.

"Iye," sahut Caca ogah-ogahan, lalu gadis itu teringat sesuatu. "Eh, nih kenalan dulu sama anak baru," katanya sambil menunjuk Sean di sebelah.

Lio tersenyum ramah kepada Sean sambil mengulurkan tangan dan Sean juga berlaku sama. Mereka bergantian menyebutkan nama masing-masing. "Lo mau minta tanggung jawab ke Ica ya soal kemaren?" celetuk Lio.

Sean spontan menaikkan kedua alisnya dan, "Oh nggak—"

"Kok nggak? Nih anak sekali-sekali mesti dikasih pelajaran biar kapok. Tingkahnya nggak ada yang bener," potong Lio yang kemudian dibalas Caca dengan tendangan di kakinya.

Lio tertawa puas, sementara Sean hanya mengamati dua orang di hadapannya yang terlihat sangat akrab.

"Oh ya, lo suka futsal nggak? Mau ikut maen sama anak-anak?" tanya Lio kepada Sean.

Sean berpikir sejenak. Sebenarnya, tujuan ia kemari hanya untuk lulus SMA, tidak untuk mencari teman. Toh, hanya setahun juga. Tapi, daripada ia mengurung diri di rumah dan hanya mengingat hal-hal yang tak diinginkan, lebih baik ia mencari kegiatan di luar.

"Boleh deh."

"Sip. Bagi kontak lo nanti gua kabarin lokasinya."

Kisah Satu Dekade [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang