BAB 13: First Cry

849 82 11
                                        

Pukul dua dini hari, gadis itu masih terjaga, memandangi ponsel, berharap benda itu berdering. Siang tadi — kemarin — ah masa bodoh — intinya Sean berkata akan meneleponnya bukan? Bahkan setelah kejadian beberapa jam lalu, gadis itu tetap menunggu panggilan masuk dari seseorang yang membuat hati dan pikirannya kacau saat ini. Ia masih menunggu laki-laki itu memberikan penjelasan yang masuk akal atas pernyataan Astrid tadi. Caca berharap bahwa semua perkataan Astrid, yang kemudian dibenarkan oleh Sean, hanya lelucon.

Caca membuka sebuah laci di meja belajar, tempatnya menyimpan semua kenangan dalam bentuk foto. Gadis itu mengambil selembar cetakan foto yang berada di paling atas. Foto dirinya bersama Sean di Timezone waktu itu. Tiba-tiba saja, matanya terasa panas. Apa kejadian itu tidak berarti apapun bagi Sean? Apa genggaman Sean waktu itu juga mengandung makna kosong? Apa semua yang laki-laki itu lakukan padanya hanya mengatasnamakan sahabat? Apa selama ini hanya Caca sendiri yang merasa bahagia? Bodoh. Marisa Vaneta adalah manusia paling bodoh yang pernah ia tahu.

Lagi-lagi, ia merasa begini. Lagi-lagi, ia merasa tertipu, lalu hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri. Harusnya ia tahu hatinya belum siap. Harusnya ia lebih hati-hati ketika membuka hati. Bisa-bisanya, ia dengan mudah terlena dengan segala sikap manis laki-laki itu, lalu menjatuhkan hati padanya tanpa permisi. Sekarang, kenyataan berbicara bahwa orang tersebut memilih orang lain untuk dijadikan kekasihnya. Tunggu, apa benar ia sudah jatuh cinta pada laki-laki itu? Kalau benar, berarti keadaannya akan semakin rumit.

Lalu, hal yang rumit ini menjadi lebih parah karena Sean memilih Astrid sebagai kekasihnya. Astrid. Mengapa harus bersama orang yang menorehkan luka besar dalam hati Caca? Mereka berdua sengaja membuat hatinya hancur, 'kan? Jangan-jangan, tanpa ia ketahui, selama ini Sean memang berada di pihak Astrid. Bekerja sama untuk membuat hidupnya tidak bisa tenang. Sebulir air mata turun di wajah gadis itu. Air mata yang ditahannya sejak ia bertemu Sean dan Astrid di food court. Sekarang, ia tidak mampu menahannya lagi. Ia merasa dikhianati. Terlalu sakit. Perih.

Caca mendekap erat dadanya sendiri. Siapa tahu dengan begitu, bisa menutup luka yang saat ini sedang menganga di dalam sana. Namun, tentu saja hal itu tidak membantu sama sekali. Ia duduk meringkuk, memeluk lututnya. Menumpahkan seluruh air mata, tanpa peduli lututnya yang basah. Dalam kepalanya, berseliweran pertanyaan tanpa jawaban yang membuatnya semakin frustasi.

Kamar yang tadi sunyi, sekarang diisi suara tangisan Caca yang tersedu-sedu. Lio, sejak tadi menguping di pintu depan kamar Caca, menghela napas pelan. Ia tahu sejak pulang tadi, gadis itu tidak baik-baik saja. Namun, di dalam hatinya, ia juga tidak percaya seorang Sean akan berbuat seperti ini. Meskipun ia belum lama mengenal laki-laki itu, setidaknya ia tahu Sean tidak akan menyakiti orang lain. Sean tidak mungkin melakukan ini tanpa alasan yang kuat. Setidaknya, ia harus segera mencari tahu.

"Lo nggak merasa harus jelasin sesuatu?"

Sean yang baru keluar dari toilet, menghentikan langkahnya ketika mendengar suara Lio. Ternyata, laki-laki itu sengaja menunggunya di depan toilet, yang kebetulan sedang sepi.

"Penjelasan apa?" tanya Sean pura-pura tidak tahu maksud Lio.

"Lo sama Astrid, itu bohong 'kan?"

Kemarin, setelah mereka bertiga meninggalkan Sean di food court dengan perasaan kecewa, Astrid mengancamnya untuk tidak memberi tahu perjanjian ini ke siapapun, termasuk sahabat dekatnya sendiri, Lio.

"Nggak. Gua sama Astrid emang pacaran."

Lio mendecih. "Selama ini lo ngedeketin Caca mulu, gimana bisa pacarannya sama Astrid?"

"Nggak semua tentang gua, lo harus tau 'kan?"

"Tapi gua tau, lo suka sama Caca 'kan?"

Sean terdiam sejenak mendengar pertanyaan Lio. Ia menelan ludah sebelum menjawab, "Menurut lo, apa mungkin gua pacaran sama Astrid, tapi malah sukanya sama orang lain?" Laki-laki itu bahkan tidak dapat mempercayai apa yang keluar dari mulutnya. Kata-kata itu terasa sakit di telinganya sendiri.

Orang lain katanya? "Terus, maksud lo deketin Caca apa?"

Laki-laki itu mengangkat bahu. "Iseng aja."

Darah Lio langsung naik dan rahangnya mengeras. Tangannya yang sudah terkepal sejak tadi, dilayangkan pada wajah Sean, tepat di tulang pipi sebelah kiri, berharap pukulannya menyadarkan sahabatnya yang tampak kehilangan akal sehat.

"Brengsek!" umpat Lio sambil mencengkeram kerah seragam Sean dan mendorongnya hingga menabrak dinding.

Sean meringis menahan nyeri di wajahnya akibat pukulan Lio tadi, sama sekali tidak melawan. Bagus juga, ia memang merasa dirinya perlu dihantam sesuatu untuk meringankan rasa bersalahnya telah berbicara seperti seseorang yang brengsek. Ia juga merasa bersalah karena telah membohongi sahabatnya sendiri, Lio, Rara, juga Caca.

"Gua tau pasti ada sesuatu. Masih nggak mau ngaku juga lo?" tanya Lio dengan geram.

"Nggak usah sok tau. Mendingan lo lepasin gua sebelum guru ngeliat kita."

Perlahan, Lio mengendurkan cengkeraman di kerah Sean. Matanya masih berkilat memandang sahabatnya lekat-lekat untuk beberapa saat. Kemudian, ia mendesah keras disertai umpatan, lalu meninggalkan laki-laki itu.

Sean merapikan seragamnya yang berantakan, lalu beranjak menuju kelasnya. Baru saja ia akan berbelok, ternyata sosok Caca muncul di balik dinding koridor dekat toilet. Mereka bertemu pandang sejenak. Sean menyadari mata yang terlihat sendu itu, menatapnya dengan dingin. Ia tidak pernah melihat ekspresi Caca yang seperti itu. Apakah Caca mendengar semua percakapan mereka tadi? Gadis itu berlalu begitu saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Saat itu, Sean sadar bahwa ia telah melukai seseorang yang ia sayangi, tapi ia tidak punya pilihan lain untuk melindungi gadis itu. Hal itu membuat dadanya terasa nyeri. Sean baru membuka mulutnya untuk memanggil Caca, namun tertahan ketika melihat Astrid sedang mengamati dari jauh.

Ia hanya bisa menatap punggung Caca yang menjauh sambil bergumam, "Maaf, Ca."

Kisah Satu Dekade [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang