Berita mengenai kelulusan telah diumumkan tadi pagi. Semua hasil ujian telah selesai diperiksa dan seluruh siswa kelas 12 dinyatakan lulus. Maka, malam ini adalah malam yang sudah ditunggu oleh seluruh siswa kelas 12. Prom night merupakan sebuah tradisi merayakan kelulusan, sekaligus menjadi malam perpisahan siswa SMA. Para panitia, yang notabenenya adalah adik-adik kelas yang tergabung dalam OSIS, sedang sibuk ke sana kemari mempersiapkan acara Prom Night yang akan dimulai beberapa saat lagi. Ada yang memastikan dekorasi panggung dan aula sudah terpasang dengan baik, ada yang sedang mengecek apakah makan malam sudah siap, ada yang sedang sibuk berbicara di Handy Talky (HT) memastikan seseorang mengatur parkir dengan baik, ada yang sedang berlatih di belakang layar untuk memimpin acara malam ini, ada yang sedang mengatur pencahayaan dalam gedung, dan masih banyak lagi kegiatan mereka yang lain. Semuanya antusias untuk menjadikan malam ini sebagai malam yang tak terlupakan untuk para alumni.
Laki-laki bernama Sean juga antusias untuk melewati malam ini. Pasalnya, ketika malam ini berakhir, maka berakhir juga perjanjiannya dengan Astrid. Jangan ditanya bagaimana rasanya menjalani hari dengan melakoni peran sebagai kekasih Astrid, hanya bisa mengamati Caca dari jauh. Kadang, ia iri juga kalau melihat mereka bertiga, Rara, Lio, dan Caca sedang kumpul, mengobrol dan tertawa. Harusnya ia juga ada di sana.
Ia berjalan di sebelah Astrid, memasuki aula sekolah yang sudah ramai dihadiri para siswa kelas 12. Kalau saja tadi pagi Astrid tidak mengingatkan bahwa hari ini mereka masih berstatus sebagai pacar, ia sudah pasti datang sendiri ke sini. Mereka berpencar menghampiri teman kelas masing-masing.
Sean sedang asyik bercanda dengan teman-temannya, ketika mata hitamnya menangkap sosok orang yang belakangan ini selalu muncul dalam pikirannya masuk ke dalam aula. Entah kenapa, ketika ia tidak lagi berkomunikasi dengan Caca, ia justru merasa yakin bahwa ia memiliki perasaan aneh pada gadis itu lebih dari sekedar sahabat. Ia makin merindukan momen kebersamaan mereka, yang kemudian membuat Sean merasa egois karena ingin memiliki Caca seutuhnya agar dapat terus melalui berbagai hal bersama-sama.
Bagaikan gerakan lambat ketika Sean memperhatikan Caca menggunakan gaun panjang berwarna hitam tanpa lengan, dengan rok yang terbelah dari atas lutut kanan, mengayunkan kakinya yang dialasi sepatu heels berwarna senada, tersenyum menawan dan melambaikan tangan kepada teman-teman sekelasnya yang sedang berkumpul di salah satu sisi ruangan. Riasan tipis di wajah gadis itu, serta dua buah jepit berwarna putih yang terpasang di rambutnya yang tergerai, membuat Sean meneguk ludahnya. Cantik.
Belum puas memandangi Caca, perhatiannya terdistraksi oleh seorang lelaki, yang kemungkinan juga teman sekelas Caca, menghampiri gadis itu dengan senyum lebar. Lalu matanya menilai Caca dari atas hingga bawah, dan mengucapkan kata-kata pujian kepada gadis itu, kemudian dibalas oleh Caca dengan pukulan ringan di lengannya. Hati Sean menjadi panas melihat situasi di hadapannya. Ia mengambil satu tarikan napas yang dalam, lalu berbalik membelakangi posisi Caca.
—
Let's go crazy, crazy, crazy 'til we see the sun
I know we only met, but let's pretend it's love
And never, never, never stop for anyone
Tonight let's get some
And live while we're young.
Malam semakin larut, namun semangat para alumni justru semakin membara. Mereka menikmati lagu-lagu yang dibawakan oleh salah satu band di sekolah, sambil bernyanyi, melompat ringan, bersorak bersama layaknya di sebuah konser. Live While We're Young milik One Direction menjadi lagu penutup acara Prom Night.
Tepat ketika lagu itu selesai, Caca merasakan seseorang menepuk bahunya. Ia terkesiap begitu melihat Sean di belakangnya tersenyum kaku. Gadis itu sudah memperhatikan laki-laki di hadapannya sejak acara mulai tadi. Ia belum pernah melihat Sean dengan kemeja putih dengan kancing atas yang terbuka, dibalut dengan jas hitam yang pas di badan tegapnya, memakai sepatu pantofel, dengan poni yang diangkat ke samping menggunakan gel rambut. Sekarang, lelaki itu berada di hadapannya dengan jarak 1 meter, setelah berbulan-bulan mereka saling menghindari satu sama lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kisah Satu Dekade [END]
General FictionSetiap pertemuan, akan ada perpisahan. Setiap perpisahan pun ada peluang untuk bertemu kembali. Lantas, bagaimana dengan cerita antara Sean dan Caca? Haruskah mereka menunggu pertemuan berikutnya untuk melanjutkan kisah yang telah ada, atau memulai...
![Kisah Satu Dekade [END]](https://img.wattpad.com/cover/310186229-64-k550441.jpg)