BAB 4: First Lost

1.7K 158 23
                                        

Aleah Saromon adalah anak pertama dari pasangan Doni Saromon dan Dianne. Ia memiliki seorang adik laki-laki yang bernama Sean Saromon. Usia mereka hanya berjarak 1 tahun. Hal itu membuat kakak beradik itu sangat dekat karena sering bermain bersama. Meskipun mereka sedarah, berasal dari rahim yang sama, namun mereka memiliki kepribadian yang berbeda.

Sean merupakan seorang extrovert, mudah bergaul dengan siapa saja, banyak disukai orang karena sifatnya itu. Berbeda dengan kakaknya, Lea, yang cenderung menutup diri, tidak pandai bergaul, dan lebih senang menenggelamkan pikirannya pada buku-buku pelajaran. Sebenarnya, Lea adalah gadis yang baik hati. Sangat baik. Sayangnya, kebaikan itu justru dimanfaatkan oleh orang-orang yang culas hatinya.

Doni, papa Sean sudah pergi meninggalkan anak dan istrinya beberapa tahun lalu karena serangan jantung. Saat itu Lea berusia 7 tahun dan Sean berusia 6 tahun. Usia mereka masih terlalu kecil untuk kehilangan sosok seorang ayah. Maka, mamanya yang kemudian berusaha untuk memenuhi tanggung jawab sebagai kepala keluarga demi anak-anaknya. Awalnya, Dianne membuka sebuah usaha kecil di bidang florist saat mereka masih tinggal di Bandung. Lalu, usahanya semakin berkembang sehingga beliau bisa membuka toko cabang di Jakarta.

Keadaan Dianne yang sibuk, membuat perhatian beliau kepada anak-anaknya jadi berkurang. Sean tampak baik-baik saja dengan keadaan seperti itu. Ia tetap menjalani sekolah dengan baik, dan sesekali bermain bersama teman-temannya. Namun, ternyata hidup Lea sedang tidak baik-baik saja dan tidak ada yang tahu akan hal itu.

Lea melanjutkan pendidikan SMA-nya di sebuah sekolah khusus putri. Selama hari Senin-Jumat, ia tinggal di asrama sekolah dan pulang ke rumah saat akhir pekan. Mungkin hal ini juga yang membuat Mamanya dan Sean tidak terlalu tahu tentang apa yang dialaminya, ditambah lagi sifat Lea yang tertutup dan tidak mau membuat orang lain khawatir kepadanya.

Bukan rahasia lagi di sekolah itu bahwa Lea sering dirundung oleh beberapa teman di kelasnya. Lea adalah siswi yang pintar dan lugu, membuat mereka mulai menyuruh Lea untuk membuat PR dan tugas mereka atau Lea akan dijahili selama ia sekolah di sana. Beberapa kali, Lea menurut tanpa membantah. Ia malas mencari keributan. Namun ketika Lea membantah mereka untuk pertama kalinya, mereka melakukan hal yang lebih nekat.

Diam-diam, salah satu dari mereka memasang alat perekam di kamar Lea. Seluruh aktivitas Lea terekam dalam video itu. Ini adalah awal kehancuran hidup seorang Lea yang tidak diketahui Sean atau Dianne.

Anak-anak itu mulai mengancam Lea dengan video yang mereka punya. Lea mulai diperlakukan sebagai budak, dan apabila gadis itu membantah, mereka akan menyebarkan video itu di internet. Beberapa kali Lea mendapat kekerasan secara verbal dan fisik. Tidak ada yang berani mencegah atau menghentikan perbuatan mereka. Para murid dan guru seakan pura-pura buta dan tuli terhadap Lea karena salah satu dari para perundung itu adalah anak dari pemilik sekolah tersebut. Daripada kehilangan pekerjaan atau bermasalah dalam pendidikannya, mereka akhirnya memilih untuk diam.

Beberapa kali, saat pulang ke rumah, Sean melihat luka memar di tubuh Lea. Kadang di kaki, kadang di tangan, kadang juga di wajah. Namun, Lea selalu membuat alasan palsu, entah karena ia terjatuh, atau cedera saat pelajaran olahraga. Sean sama sekali tidak curiga. Sampai akhirnya hari itu tiba.

Aleah Saromon ditemukan tidak bernyawa di kamar asramanya.

Dianne yang pertama kali dihubungi pihak sekolah, menjatuhkan dirinya di lantai rumah yang dingin dengan ponsel yang masih menempel di telinganya. Raganya terasa menguap ke udara saat mendengar kabar itu. Beberapa detik kemudian, ia teriak histeris menyebut nama anak perempuannya.

Sean segera keluar dari kamar ketika mendengar suara mamanya. Ia mendapati wanita itu sedang terduduk di lantai sambil menggenggam erat ponselnya di dada. Menangis sambil menyebut nama Lea. Sean segera mengambil ponsel itu dan bertanya kepada seseorang di seberang sana tentang apa yang terjadi.

Saat jam makan malam, Lea belum keluar dari kamar. Seorang petugas di asrama mengetuk pintu kamarnya, namun tidak ada jawaban. Ia mencoba membuka pintu kamar Lea yang ternyata tidak dikunci. Alangkah terkejutnya ia ketika mendapati Lea tergeletak di lantai dengan mulut berbusa, dan tidak jauh darinya terdapat sebotol obat antidepresan yang sudah kosong.

Tubuh Sean membeku seketika. Pandangannya berkabut. Kepalanya sakit. Telinganya berdenging. Jantungnya terasa berhenti. Bohong. Tidak mungkin. Lea pasti masih hidup. Sean berusaha keras untuk membawa tubuhnya mengambil kunci mobil, membopong Dianne masuk ke dalam mobil, dan pergi menuju sekolah Lea.

Perasaan kalut menyelimuti hati Sean selama perjalanan menuju ke sana. Ia sibuk menyeka air matanya yang jatuh dengan deras. Mamanya masih menangis terisak-isak di kursi penumpang. Otaknya dipaksa berpikir untuk mengetahui alasan kakaknya bertindak sejauh ini. Namun hasilnya nihil.

Sejak hari itu, akhirnya kebenaran terungkap. Tentang perundungan yang dialami kakaknya. Sean dan Dianne berusaha semaksimal mungkin mencari keadilan untuk Lea. Apakah para pelaku diberikan hukuman yang setimpal? Beberapa dari mereka memang dikeluarkan dari sekolah. Namun, anak pemilik sekolah hanya mendapat skorsing selama 3 hari. Ya, kadang dunia memang tidak adil.

Selama satu tahun sejak kepergian Lea, hidup Sean dan Dianne tidak sama lagi. Mereka lebih sering murung dan melamun. Kadang, menyalahkan diri sendiri karena tidak peka dengan keadaan Lea. Tidak peka bagaimana Lea menghadapi kesulitan seorang diri. Mereka tidak ada di samping Lea. Maka dari itu, Dianne memutuskan untuk meninggalkan rumah yang banyak menyimpan kesedihan itu dan pindah ke Jakarta. Mereka berdua berharap bisa memulai hidup baru di kota ini.

Cerita inilah yang Sean sampaikan kepada Caca.

Kisah Satu Dekade [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang