BAB 10: First Tease

1K 109 10
                                        

"Eh, gimana nonton sama Sean Sabtu kemaren?"

Caca dan Rara sedang duduk di kursi panjang depan kelas, seraya menunggu bel masuk berbunyi. Tubuh Caca menegang mendengar pertanyaan Rara yang mengingatkannya akan kejadian di hari itu.

"Maksud lo?"

"Iya, filmnya gimana? Bagus nggak?"

Oh, filmnya. Caca mengembuskan napas pelan tanpa kentara.

Ketika Caca sedang antusias bercerita, Aldo, salah satu teman sekelas mereka, melewati Caca dan Rara. Cerita Caca terpotong ketika mendapati temannya itu tergopoh-gopoh membawa beberapa tas. Ada yang digendong di depan dan belakang tubuhnya. Ada juga beberapa yang ia jinjing di tangan kanan dan kirinya.

"Do, lo ngapain?" tanya Rara dengan pandangan heran.

Belum sempat menjawab, ada suara lain yang memanggil Aldo. Caca mengenali orang itu. Eki, orang yang dulu pernah sekelas dengannya saat masih SMP, dan salah satu anggota geng anak-anak nakal di sekolahnya.

"Nih, bawain tas gua sekalian. Tarok di kursi gua. Lo tau 'kan gua duduk di mana?"

Geng anak-anak nakal itu dari dulu selalu mengganggu Aldo. Ia sering disuruh membelikan makanan dan minuman di kantin, selama anak-anak itu bermain futsal di lapangan sekolah. Tidak pernah ada yang menegur mereka karena anak-anak lain malas berurusan dengan geng mereka. Melihat kejadian di depan matanya, Caca teringat tentang tragedi yang menimpa kakak Sean, dan itu membuat darahnya mendidih.

"Jangan mau, Do. Dia punya tangan, punya kaki. Bisa jalan dan narok tas sendiri di kelasnya," sahut Caca ketus.

Eki tertawa, mengira Caca bercanda. "Santai aja, Ca. Aldo mah biasa beginian. Dia 'kan kuat. Ya nggak, Do?" katanya sambil menepuk pundak Aldo yang sedari tadi sudah menekuk wajahnya.

Caca berdiri di hadapan Eki. Ia bersedekap dan memandang Eki dengan tajam. "Heh! Cowok bukan lo? Tas aja minta dibawain. Gua yang cewek aja kalah manja sama lo."

Bentakan Caca yang cukup keras, menarik perhatian beberapa siswa yang ada di sekitarnya. Bahkan, ada yang sampai keluar kelas untuk melihat drama apa yang terjadi pagi ini. Rara yang terkejut melihat sikap Caca, menyentuh lengannya.

"Ca," panggil Rara pelan, berharap menyadarkan sahabatnya itu dan menyudahi kejadian ini.

Namun Caca tidak menggubrisnya, ia masih menunggu respon Eki yang saat ini memandangnya tidak senang. Laki-laki itu paling tidak suka jika harga dirinya diganggu, apalagi diremehkan seperti kata-kata Caca tadi.

"Lo kenapa, sih? Pagi-pagi udah nyari ribut sama gua. Lagi PMS lo, hah?"

"Gua cuma nanya, lo cowok apa bukan? Masa tas aja sampe minta dibawain sama Aldo. Kayak orang pacaran aja minta bawa-bawain tas gitu," ejek Caca santai.

Beberapa siswa diam-diam tertawa mendengar kata-kata Caca. Berbeda dengan Rara dan Aldo yang malah semakin tegang. Mereka takut Eki emosi dan mengamuk.

"Jaga mulut lo! Dah males gua ngeladenin cewek sinting." Eki kembali menyampirkan tasnya di bahu dan baru akan melangkah menuju kelasnya, sebelum Caca kembali berdiri di hadapannya.

"Apa lagi?!" teriak Eki frustasi.

"Kok cuma tas lo doang? Sekalian tuh tas temen-temen lo. Ya, kita semua tahu Aldo kuat sih bawain semuanya. Tapi, kita semua pengen tau apa cowok manja kayak lo juga kuat?"

Eki mengedarkan pandangan ke sekeliling dan baru sadar semua mata terarah padanya. Menunggunya untuk membuktikan perkataan Caca. Napasnya menggebu. Kalau saja Caca bukan perempuan, ia pasti akan memukulnya tanpa ampun. Sebagai tanda luapan emosinya, ia mengacungkan jari tengah di depan wajah Caca, lalu dengan kasar mengambil tas teman-temannya dari Aldo, dan menuju kelasnya.

Sean dari tadi menyaksikan drama itu di depan kelasnya. Sebenarnya ia sudah berada di sana sejak Caca dan Rara duduk berdua membahas sesuatu sambil tertawa. Namun, kejadian malam itu membuatnya belum siap bertemu dengan Caca, takut keadaannya jadi canggung. Jadi, ia hanya memperhatikan dari jauh saja. Setelah Eki pergi menuju kelasnya, sebuah senyum tipis terukir di wajah Sean. Kata-kata Eki ada benarnya, dasar cewek sinting.

Jam istirahat kedua, Sean bertemu Lio di kantin. Mereka hanya jajan roti goreng, lalu kembali ke kelas. Namun, ketika sedang berada di koridor lantai 3, mereka melihat Caca dan Rara yang duduk di depan kelas mereka. Sean heran bagaimana pemandangan tadi pagi dengan saat ini bisa sama. Apa gadis-gadis itu sudah kenyang dengan bercerita sambil cekikikan begitu? Lio merangkul Sean untuk menghampiri mereka berdua.

"Weitsss. Ini dia pelaku topik hangat tadi pagi." Suara Lio berhasil membuat Caca dan Rara mendongak.

Caca dan Sean bertatapan sejenak, namun langsung melempar pandangan ke arah lain. Wajah mereka sama-sama menghangat.

"Lo nggak tau aja gua di sebelahnya udah gemeteran. Kalo tuh anak ngamuk gimana? Kita berdua mana bisa berantem. Emang gila nih anak. Nggak bisa ngomong lagi gua," omel Rara.

"Sayang banget gua lagi setoran pagi. Cuma denger ceritanya doang," timpal Lio.

Caca hanya memutar bola matanya, lalu tertawa.

Lio tiba-tiba teringat sesuatu. "Oh iya. Ica, hari ini gua ada remedi Fisika, lo pulang gimana, ya? Kayaknya kalo lo nunggu gua bakal lama sih. Soalnya abis pulang sekolah, ada kelas laen dulu yang remedi, baru kelas gua."

"Gua bisa pulang sendiri. Santai aja."

Namun, rupanya ide cemerlang muncul di pikiran Lio. "Lah iya, 'kan sekarang ada Sean. Lo kosong nggak? Anterin Ica gih."

Mata Caca membelalak kaget. Belum sempat ia menyanggah, Sean berkata dengan gugup, "Ya udah Ca, kamu ikut aku aja."

Kali ini bukan hanya Caca, Lio dan Rara pun ikut terkejut mendengar kata-kata Sean.

"Kalian... sejak kapan..." tunjuk Rara kepada Sean dan Caca bergantian tanpa menyelesaikan kata-katanya.

"Tunggu, tunggu. Ini kayaknya gua ketinggalan nih. Aku-kamu?" tanya Lio dengan tatapan menyelidik kepada dua sahabatnya.

"Udah ah, jangan bikin gosip aneh-aneh deh," sanggah Caca. "Dan... nanti gua pulang sendiri aja."

Rara mulai menggoda Caca. "Kalo nggak ada apa-apa, kok nggak mau balik bareng Sean? Biasanya juga suka nebeng kalo Lio lagi nggak bisa."

"Nah, masuk akal. Lagian juga nyokap gua bisa ngomel kalo tau lo balik sendiri. Tau sendiri dia protektif ke lo ngelebihin gua, yang anak kandungnya."

Sean tertawa kecil melihat kelakuan kedua sahabatnya, juga melihat wajah Caca yang terlihat sebal dan salah tingkah karena digoda Rara dan Lio.

Kisah Satu Dekade [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang