Caca mendecak sebal karena teman sebangkunya tidak berhenti bertanya ada kejadian apa di hari Sabtu kemarin. Ia tahu, ia pasti akan cerita ke Rara, tapi tidak secepat ini. Namun, Rara sungguh penasaran ketika melihat gerak-gerik Sean dan Caca yang mencurigakan tadi pagi. Biasanya mereka berdua selalu antusias saling menyapa, berkelakar dan membicarakan apa saja dengan panjang dan lebar tiap kali bertemu, tapi tadi seakan mereka sudah kehabisan topik. Sejujurnya, Caca pun belum bisa mencerna semua yang terjadi saat ini antara dirinya dengan laki-laki bernama Sean itu.
“Jangan berisik, ah, nanti kita dimarahin,” bisik Caca namun matanya tak lepas dari guru di depan kelas, berpura-pura fokus mendengarkan.
Rara tidak kehabisan akal. Ia mengambil buku kecil yang biasa ia gunakan sebagai pengingat tugas dan ulangan, lalu menyodorkan pada Caca.
Gadis itu menoleh ke arah Rara yang tersenyum penuh arti. Caca tau maksudnya karena buku itulah yang sering menjadi media untuk berbicara ketika pelajaran sedang berlangsung. Ia mendesah pasrah, membuka buku tersebut, mencari halaman yang masih kosong, lalu menuliskan sesuatu di sana. Semua kejadian di hari Sabtu kemarin ditulis dengan rinci tanpa ia tutupi.
—
Lima menit sebelum bel pulang sekolah berbunyi, Sean sudah bersiap menyimpan semua buku dan alat tulisnya sehingga ia bisa segera keluar dan menuju kelas Caca. Ini bukan pertama kalinya ia mengantar Caca pulang, namun setelah hari itu, rasanya ia lebih bersemangat juga berdebar-debar.
Sean bersandar di dinding koridor depan kelas Caca, menunggu gadis itu keluar. Tak lama kemudian, gadis yang ditunggunya keluar bersama Rara dan keduanya langsung menyadari kehadiran Sean. Rara tersenyum jahil dan menyikut lengan Caca. "Cie. Udah ditungguin tuh sama gebetan."
Caca melotot kepada Rara.
"Eh, Sean maksud gua," ralatnya sambil cekikikan.
Sean menyapa mereka berdua sambil tersenyum sumringah. Senyum yang kata Caca, lucu. Kemudian, Rara buru-buru meninggalkan mereka berdua dengan dalih ibunya sudah menunggu di depan sekolah.
"Yuk, Ca."
Caca menyambut ajakan Sean dengan mengangguk. Selama mereka berjalan ke arah parkiran motor, gadis itu sibuk berusaha mengatur detak jantungnya yang tidak mau diajak kerja sama. Sejak kapan berjalan di sebelah Sean membuatnya seperti ini? Sementara si teman seperjalanan, hanya bisa mencuri-curi pandang ke arah Caca, sambil menebak apa yang sedang ia pikirkan karena raut wajahnya sangat serius. Apa karena ejekan Lio dan Rara tadi membuatnya tidak nyaman?
"Sorry ya, Ca, soal tadi. Lo nggak nyaman ya kalo gua pake 'aku-kamu'?" tanya laki-laki itu untuk memecahkan keheningan di antara mereka.
"Nggak kok. Nggak. Nggak gitu," jawab Caca cepat. Gadis itu menggigit bibir bawahnya lalu, "Hmm... cuma malu aja, belum terbiasa." Caca segera menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang bersemu.
Sean tertawa kecil melihat tingkah Caca. Pagi tadi ia bisa berlagak seperti singa betina, namun sekarang justru lebih mirip kucing peliharaan, yang sebenarnya membuat Sean ingin sekali mengusap puncak kepala Caca, namun ia tahan. Sementara Caca mengambil helm-nya di motor Lio dan menggunakan jaket, Sean juga melakukan hal serupa, serta menggendong tas di depan dadanya, lalu menghidupkan motor.
Di tempat lain, ada sepasang mata yang mengamati kedua orang tersebut dari mereka berjalan menuju parkiran, hingga motor Sean meninggalkan area sekolah dan hilang dari pandangannya.
—
Langit mendung disertai suara gemuruh, membuat Sean memacu motornya lebih cepat agar mereka tidak terjebak hujan. Namun sayang, harapannya belum terkabul karena di tengah jalan, hujan tiba-tiba turun dengan deras, mengharuskan mereka untuk berteduh di salah satu halte bus terdekat.
Tadinya, di sana hanya ada beberapa orang dan mereka berdua yang berteduh. Namun, menit selanjutnya halte bus itu menjadi ramai dan membuat mereka berdesakan. Caca tidak pernah merasa nyaman jika berada di keramaian, apalagi harus berdesakan seperti saat ini. Ia melipat rapat kedua tangannya di dada dan beberapa kali bergeser ke arah Sean sedikit demi sedikit. Beberapa saat kemudian, laki-laki itu sadar bahwa gadis di sebelahnya merasa gelisah dengan sekitarnya. Tanpa pikir panjang, Sean merangkul dan merapatkan tubuh Caca ke arahnya. Caca sempat tersentak dengan sikap Sean. Ia mendongak ke arah Sean, sedangkan laki-laki itu sedang memandang hujan di depannya tanpa ekspresi apapun. Caca malu mengakuinya, namun ia merasa jauh lebih baik daripada sebelumnya.
"Aku liat keributan yang kamu buat tadi pagi," Sean membuka pembicaraan. Tangannya masih merangkul Caca dengan nyaman.
"Oh, ya?"
Sean mengangguk. "Pertunjukkan paling mantep selama aku sekolah di sini."
Tawa renyah menjadi tanggapan Caca atas kalimat Sean.
"Kamu emang nggak takut berurusan sama mereka? Apalagi kamu cewek. Temen-temen cowok di kelas aku aja pada nggak mau berurusan sama geng mereka." tanya Sean lagi. Diam-diam, ia khawatir jika setelah kejadian tadi Eki dan gengnya mengganggu Caca.
"Mereka satu geng sama Revan waktu SMP. Pas aku lagi deket sama dia, beberapa kali pernah diajak jalan bareng. Aku kenal Eki dari situ dan pernah sekali sekelas juga sama dia. Jadi, aku kurang lebih tahu sifat-sifat mereka," jeda sejenak, lalu, "Mereka memang nakal, suka cari ribut, cari sensasi, sok berkuasa, tapi setidaknya mereka masih menghormati perempuan. Ya, meskipun mereka bisa aja ngedeketin cewek lebih dari satu, kayak si Revan, tapi yang dijadiin pacar cuma satu. Nggak mepetin cewek lain lagi, nggak pernah selingkuh dan maen belakang. Mereka juga nggak pernah berantem apalagi sampe maen tangan sama cewek. Prinsip di geng mereka itu, kalau mereka sampe mukul cewek ya berarti mereka nggak pantes disebut laki-laki. Makanya, aku nggak takut."
Sean tersenyum ketika mendengar penjelasan gadis itu, lalu teringat bahwa tindakan Caca juga menjadi pembicaraan di kelasnya. "Tau nggak? Anak-anak kelas pada ngomongin kamu tadi. Aku jadi ikutan bangga."
"Bangga apanya? Kalo aku juara umum satu angkatan baru tuh membanggakan."
Ia terkekeh mendengar jawaban sewot dari Caca, lalu matanya menangkap gestur tubuh gadis itu yang mengeratkan lipatan tangannya.
"Dingin nggak?" tanya Sean.
"Hmm.. lumayan. Padahal udah pake jaket."
Laki-laki itu menatap hujan yang perlahan mulai reda, lalu kembali ke Caca. Ia pun mengeratkan rangkulannya. "Sabar ya, bentar lagi kayaknya bakal reda," kata Sean sambil mengusap-usap sebelah lengan Caca berharap hal itu menghantarkan rasa hangat ke tubuh Caca.
Ya, sepertinya cara itu cukup berhasil karena Caca merasakan pipinya mulai terasa panas. Caca tidak tahu apakah rasa panas itu muncul karena usapan Sean atau karena ditatap laki-laki itu sambil tersenyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kisah Satu Dekade [END]
Ficción GeneralSetiap pertemuan, akan ada perpisahan. Setiap perpisahan pun ada peluang untuk bertemu kembali. Lantas, bagaimana dengan cerita antara Sean dan Caca? Haruskah mereka menunggu pertemuan berikutnya untuk melanjutkan kisah yang telah ada, atau memulai...
![Kisah Satu Dekade [END]](https://img.wattpad.com/cover/310186229-64-k550441.jpg)