BAB 20

670 39 0
                                        

~Happy Reading~

Hari ini pada tanggal 1 sore, tepat satu hari seblum hari raya idul fitri. J sudah bisa berjalan, karena pukul 8 pagi tadi mereka bertiga menuju rumah sakit untuk melakukan terapi terakhir dan pemeriksaan terakhir.

Dan saat ini dua anak Seon membantu dirinya membersihkan rumah yang bisa di bilang sedikit besar ini. Dengan aktif J dan Juno membersihkan kesana kemari bahkan mood anak terakhir Seon itu sangat baik. Tidak seperti saat anak itu duduk di kursi roda moodnya sangat buruk dan juga pendiam sekali.

"Dek jangan loncat - loncat" kata Seon dan Juno bersamaan.

"Kenapa sih, kan udah sembuh kaki aku" bahkan anak itu membersihkan rumah dengan menggunakan skateboard barunya agar lebih cepat berjalan dari satu sisi ke sisi yang lain.

Sedangkan Seon dan Juno hanya bisa menghela nafas panjang. Bahkan J juga melakukan beberapa trik skateboard sebelum melanjutkan bersih - bersih rumahnya. Untuk ukuran J bagi Seon itu belum seberapa karena dulu anak itu bisa senakal main skateboard turun dari lantai dua ke lantai satu yang membuat Seon akhirnya naik pitam karena anak itu jatuh terguling - guling dan berakhir pingsan.

Setelah selesai membersihkan rumah, J membawa skateboard barunya menuju depan rumah ia bermain disana dengan pagar rumah yang ia buka lebar. Sedangkan Juno duduk di teras rumah bersama benda pipih yang sedang merekam aktivitas J.

"Kalau udah punya yang baru, yang lama di taruhnya sembarang tempat" Seon keluar dari dalam rumah dengan membawa 3 tanaman J yang akan ia pindah kedepan.

"Emang ditaruh mana pi?" Juno mengambil satu tanaman tersebut kemudian melihat hasilnya.

"Itu di bawah tangga" kata Seon dengan melihat kedepan. .

Seon dan Juno yang sedang asik berbincang akhirnya terhenti karena terdengar suara J yang terjatuh. Kedua orang itu berlari kedepan dan terlihat J yang sudah jatuh terlentang dengan terkekeh.

"Papi kan sudah bilang, jangan main skateboard dulu" Suara Seon penuh penekanan.

Tapi namanya juga J ia hanya bisa terkekeh kemudian melihat kearah depan ketika dua orang laki - laki memanggil namanya yaitu Jingga dan Cena sedangkan di belakang Hero berlari dengan menggunakan skate miliknya yang berwarna biru dengan stiker bertuliskan 'Dream'

"Ciee yang udah bisa jalan" kata Cena yang udah berhenti di depan rumah J.

"Dari mana kalian?" J yang sudah berdiri sendiri mengabaikan Juno dan Seon ia berjalan kearah Cena dan Jingga dengan tersenyum.

"Noh dari rumah dia" Jingga menunjuk Hero dengan dagu yang berancang - ancang akan melompati pembatas jalan dengan skateboard nya.

"Ngapain?" kali ini salah satu alis J naik.

"Minta thr" dengan bibir yang berbentuk huruf O J menganggukkan kepala.

"Percaya lo J?" tanya Cena.

"Percaya aja" J menaikkan kedua bahunya dengan kedua tangan yang ia masukkan kedalam saku celana.

"Gue abis dari rumah Jingga sama orang tua gue. Lagi survey rumah yang di jual di pojokan sana" Cena menunjuk rumah dengan tulisan banner 'Di Jual' yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.

"Lo mau pindah kesini?" tanya J dengan kedua tangan yang ia lipat didepan dada.

"Yoi bro, masa kalian bertiga doang yang deket sedangkan gue nggak. Harus melewati macetnya kehidupan biar bisa sampai rumah lo buat kumpul".

J melihat Hero yang tadinya bermain skate sekarang sudah duduk di teras rumahnya bersama Jingga dan Juno. Seon juga di luar tetapi posisinya kali ini sedang menyiram tanaman menggunakan selang yang ia ambil dari dalam rumah dan menyiram tanaman J yang ia pindah di taman depan.

Seon Admaja || (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang