~Happy Reading~
Pagi hari yang cerah ini entah kenapa sangat bersimpangan dengan mood Seon yang tidak baik, lesu adalah faktor utamanya. Bahkan dia hanya menghela nafas diatas sofa ruang tengah. Dan yang lebih membuat terkejut adalah Seon tidak berangkat ke rumah sakit hari ini, berakhir Juno dan J berangkat tanpa sang papi.
Faktor lesunya adalah ketika ia mengingat harus pergi ke rumah sakit dan berakhir bertemu salah satu pasien bernama Wina. Ilfil membuanya sangat malas untuk datang ke rumah sakit dan untungnya hari ini tidak ada pasien yang harus ia periksa dan tidak ada operasi yang harus ia tangani.
Bahkan Seon hari ini memutar film netflix dengan tangan yang berkutik di atas layar ipadnya. Tapi keasyikan itu sirna ketika seseorang menekan bel rumah, membuatnya menghela nafas mau tidak mau harus membuka pintu rumah tersebut.
Melihat sosok wanita yang berdiri dengan menggunakan baju format membuat dirinya ingin menutup kembali pintu rumahnya, bahkan tadinya ia lupa bahwa dirinya sudah memberi tahu rekannya jika pasien wanita itu sudah di perbolehkan pulang kemarin.
"Assalamuallaikum, selamat pagi dokter Seon" wanita itu tersenyum dengan membawa tas jinjing yang di pegang dengan kedua tangan di depan tubuhnya.
"Waalaikumsalam" Seon membalas senyum tersebut sangat kaku lalu menghela nafas 'niat hati ingin menghindari tapi ternyata malah bertemu disini' batin Seon dalam hati. "Ada yang bisa saya bantu?" tanya Seon, kali ini ia harus bisa bersikap tegas.
"Saya Wina, apa dokter masih ingat saya".
Bahkan untuk melakukan akting lupa ingatan pun kali ini sudah terlintas di otak Seon, "iya saya tau" tetapi nyatanya ia tidak bisa berbohong jika dirinya masih tau wanita itu.
"Boleh saya masuk?" si wanita yang sudah akan melangkah masuk kedalam rumah mendadak mundur karena Seon bergeser menutupi jalan untuk masuk.
"Maaf sebelumnya ibu Wina, bukan tidak boleh tetapi tidak bisa karena kita bukan muchrim dan takut di bicarakan tetangga, silahkan duduk di sini kalau mau" Seon menunjuk kearah kursi yang berada di sebelah pntu, "atau duduk di gazebo saja" Seon menunjuk gazebo dengan dagunya.
Wina yang melihat itu membuat ekspresi tidak suka tetapi kemudian tersenyum lagi, "Baik" ia berjalan menuju gazebo.
Seon memutar kedua bola matanya malas kemudian berjalan mengikuti wanita tersebut menuju gazebo, setelah duduk berseblahan disana Seon lah yang pertama kali membuka percakapan dan langsung pada intinya, "ada apa kesini?".
Wanita itu menundukkan kepala untuk menyembunyikan senyumnya, "cuma ingin berkunjung saja".
"Oh, kalau memang tidak ada yang ingin di bicarakan silahkan pulang saja karena saya banyak kesibukan" Seon yang sudah berdiri dari duduknya akan berjalan meninggalkan perempuan itu sebelum akhirnya berhenti karena tangannya yang di pegang oleh Wina.
"Saya hanya ingin menanyakan perihal keputusan mengenai jenjang selanjutnya".
'What the f---' kata Seon dalam hati yang sudah ingin teriak saja, 'apa yang di pikirkan wanita ini, bahkan gue udah bilang kalau gak akan menuju jenjang - jenjang kayak gitu'.
"Seon, Seon" perempuan itu menggerakkan lengan Seon tetapi tidak mendapat respon karena masih saja Seon melamun, "SEONN" barulah Seon sadar saat mendapat teriakan dari Wina.
Seon melepas genggaman Wina kemudian berkata "sorry, gue gak bisa memikirkan jenjang - jenjang yang lo maksud. Gue udah pernah bilang kalau kita hanya berteman. Bahkan gue gak akan menikah lagi sekali pun" setelah mengatakan itu ia berjalan meninggalkan Wina, sebelum masuk kedalam rumah Seon menolehkan kepala, "tolong nanti kalau keluar tutup pagarnya, makasih" lalu pintu tertutup dengan suara yang keras membuat Wina kaget karena suara tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Seon Admaja || (END)
Novela Juvenil(sebelum baca jangan lupa follow dulu ya semuanya 👋) Ini bukan tentang kisah cinta anak muda Ini tentang kisah ayah duda, yang bertahan dengan dua anak laki-lakinya selama ia merintis karir dan bukan hal mudah. Menjaga dan membesarkan kedua anakny...
