BAB 17

680 43 0
                                        

~Happy Reading~

Sabtu pagi, sebuah mobil hitam sudah keluar dari halaman rumah bertingkat, dua orang di dalam mobil dengan satu pria paruh baya dan laki - laki berumur 18 tahun duduk bersisihan dengan posisi ria paruh baya berada di belakang kemudi dan laki - laki berumur 18 tahun duduk di sampingnya.

Yap, J dan Seon mereka berdua sedang perjalanan menuju rumah sakit karena hari ini anak bungsu Seon harus sudah berada di rumah sakit untuk persiapan operasi pada hari senin. Beberapa barang mereka bawa seperti baju J alat mandi anak itu dan beberapa buku yang akan anak itu baca. Sedangkan Seon ia juga membawa beberapa baju ganti karena dirinya tidak ingin meninggalkan J dan juga tidak ingin tinggal sendiri di dalam rumah.

"Ok sampai" Seon yang sudah memarkirkan mobilnya turun mengambil kursi roda J yang ada di kursi belakang kemudian membantu anak itu duduk kursi roda tersebut.

"Gimana udah nyaman?" tanya Seon kepada J.

Sang anak hanya menganggukkan kepala dan tersenyum kearah Seon.

"Ini tasnya bisa di pangku" Seon memberikan tas J yang berisi beberapa pakaian dan buku. Setelah itu Seon mendorong kursi roda J berjalan masuk kedalam rumah sakit.

"Halo pasien VIP" dony yang datang dari arah depan mereka melambaikan tangan.

"Hai om" J juga melambaikan tangan kearah Dony.

"Gimana perasaannya?" Dony yang sudah berjongkok di depan J mendongakkan kepalanya dengan menggenggam tangan anak itu.

"Ya gak gimana - gimana sih om, cuman penasaran aja setelah operasi gimana hasilnya" Dony menganggukkan kepalanya kemudian ia berdiri menatap Seon dengan senyum.

"Yaudah, sana ke kamar" J menganggukkan kepalanya.

"Gue duluan" Seon menepuk lengan Dony dengan ringan kemudian mendorong kembali kursi roda J menuju lift.

# # # #

Dua hari kemudian tepat pada hari senin pukul 9 pagi operasi di lakukan, Seon yang duduk di depan ruang operasi tak hentinya menggigit kuku ibu jarinya dengan perasaan cemas. Berharap semua berjalan dengan lancar dan anaknya itu bisa beraktivitas seperti biasanya.

Ponsel berdering miliknya, ia sudah bisa menebak siapa yang menghubunginya. Seon mengambil ponsel dari saku jas berwarna putih kemudian mengangkat panggilan tersebut.

"Waalaikumsalam, iya bang?" kata Seon setelah mendengar salam dari Juno di seberang sana.

"Gimana pi, masih di dalam ruang operasi ya?".

"Iya bang, baru satu jam lalu J masuk ruang operasi".

"Pi nanti kalau udah selesai jangan lupa kabari abang ya pi".

"Iya pasti papi kabarin lagi" Seon menganggukkan kepalanya meskipun Juno tidak mengetahuinya.

"Yaudah pi, Assalamuallaikum".

"Waalaikumsalam, abang sehat - sehat disana" setelah jawaban singkat dari Juno sambungan terputus, Seon memasukkan ponselnya kembali kedalam jas putih tersebut. Dan kembali menunggu keluarnya Dony dari dalam ruangan tersebut.

Tiga jam kemudian pukul 12 siang yang di tunggu - tunggu akhirnya keluar juga dari dalam ruangan itu, Seon berdiri dari duduknya ia berhadapan dengan Dony yang menggunakan baju khusus untuk ruangan operasi.

"Gimana Dok?" Dony terkekeh mendengar pertanyaan sahabatnya itu.

"Baik, lancar, dan insyaallah J bisa jalan dengan normal lagi. Waktu penyembuhannya selama satu sampai dua bulan. Itu terhitung waktu penyembuhan paling cepat. Jika lama akan sampai tiga bulan" jelas Dony.

Seon Admaja || (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang