Ketika para visual line sekolah berotak einstein disatukan dalam satu kelas, gimana jadinya?
Saat para penyumbang piala olimpiade dengan berbagai kisah yang mereka miliki terungkap secara perlahan.
Kata Jidan, sebenernya ini tuh kisah persahabatan t...
Rafa terlonjak ditempatnya sedangkan tiga pemuda lain masih sibuk didalam dapur meracik sesuatu.
Kerusuhan terjadi diluar rumah yang disertai suara teriakan jengkel dari Clara dan Eira yang mengaduh.
"ANAK SETAAAANNNNN!!!"
Kai berlari menapaki kaki diteras rumah Rafa menghindari kejaran Eira juga Clara yang sudah akan meringkusnya, dua gadis itu sama-sama memegangi bokong karena barusan terjerembab saat turun dari mobil akibat ulah jail Kaita.
Tepat didepan pintu rumah, ketiganya mingkem karena melihat satu sosok tampan berdiri disana menyaksikan pergulatan mereka.
Zafian Alderwin—kakak Rafa.
"Maaf bang, Rafa nya ada?" Kai yang memberanikan diri membuka suara, pasalnya dua gadis dikanan kirinya itu malah sama-sama mencoleknya agar pemuda itu mau bersuara.
Erwin mengangguk dengan seutas senyum manis memersilahkan, "Masuk aja, ada diruang tamu" katanya.
Tiga manusia itu mengangguk kemudian berjalan cepat memasuki rumah yang setelahnya langsung heboh sama-sama ngeri menyaksikan keadaan Rafa saat ini.
Kedua kaki yang diperban serta tangan kiri yang memakai gips, cukup parah.
Eira menaruh seplastik besar berisi buah-buahan diatas meja kemudian beralih melangkah memasuki dapur menghampiri tiga pemuda disana.
"Ngerih banget anjir, kok bisa sih?"
"Ya bisa dong, namanya musibah" Shaka yang menjawab.
"Gue kira enggak separah itu Ka, ini hampir sebadan-badan diperban"
"Enggak sebadan ya anjir! kaki tangan doang" sahut Haksa.
"Ya sama aja setengah badan"
"Serah"
"ACILLLL LU KENAPA SIH HA?! ADA AJA KELAKUAN!!!"
Empat orang didapur terlonjak kaget mendengar teriakan menggelegar Yuna diruang tamu, sepertinya gadis itu baru saja datang.
Yuna menepuk-nepuk pundak Rafa yang jelas mengaduh sebab rasa sakit yang ia rasa tapi Yuna tak perduli, gadis itu khawatir setengah mati karena partner geludnya terkena musibah.
Yuna berhenti, ia tak tega juga kini mendudukkan diri disamping Rafa kemudian melihat keadaan pemuda itu prihatin.
Han yang tadi datang bersama Yuna adem ayem menyemil ciki yang ia bawa bersama Kai disebelahnya.
Yoshi, Justin dan Nasya juga datang membawa makanan, sedangkan Nino dan Alma mendapat pesan request dari Haksa agar membawa minuman.
Meja besar diruang tamu rumah Rafa penuh, sampai tak ada celah untuk menaruh sesuatu lagi, tapi Naomi datang, bule cantik berdarah belanda itu membawa tiga plastik besar yang tentu berisi makanan serta buah-buahan khas menjenguk orang sakit.
Makanan yang tak muat dimeja mereka taruh diambal, bekas snack serta kulit buah berserakan, niatnya mau jenguk Rafa yang sakit tapi malah membuat Rafa bertambah sakit.
Bukan hanya sakit badan, tapi juga sakit kepala.
Rafa menghela nafas, matanya berpendar menatap sekeliling rumah, benar-benar seperti kapal pecah atau layaknya gudang penyimpanan.
Kai dan Han ribut saling tarik menarik memperebutkan remot tv, sedangkan Haksa termenung diujung sofa dengan mata fokus mentap layar ponsel.
Nasya, Alma, Naomi dan Eira haha hihi menonton komedi di ponsel Alma.
Sedangkan Yoshi dan Justin sedang fokus bertukar bahasa, yang satu belajar bahasa Jepang, yang satunya belajar bahasa Inggris.
Yuna mendekat, duduk merapat dipinggir Justin yang reflek bergerak sedikit menggeser badan lebih menjauh.
"Justin, nanti malam ke mang ujang yuk, kita jalan sambil nyemil siomay"
Sekedar menelin Justin adalah satu hobi baru yang Yuna kuasai.
Nino yang mendengar reflek menendang kaki Yuna hingga gadis itu mengaduh, "Besok sekolah, jangan ngadi-ngadi lu pacaran aja"
Yuna tadinya ingin marah, tapi mendengar kalimat Nino amarahnya langsung menghilang berganti dengan rona merah dipipi, gadis itu menepuk pelan pundak Justin kemudian memegang pipinya sendiri sambil sesekali menahan senyum malu, "Ih Nino bisa aja, bener pacaran kan kita, Tin"
Justin melongo, kepalanya menggeleng polos kemudian berucap.
"Enggak"
-2A1-
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.