Ketika para visual line sekolah berotak einstein disatukan dalam satu kelas, gimana jadinya?
Saat para penyumbang piala olimpiade dengan berbagai kisah yang mereka miliki terungkap secara perlahan.
Kata Jidan, sebenernya ini tuh kisah persahabatan t...
Shaka menggebrak meja tak santai sampai membuat tiga pemuda disana diam mengatupkan mulut takut.
"Jawab! Kenapa disaat temen-temen dia dalam bahaya karena keletoyannya, dia malah ngilang!"
Emosi Shaka benar-benar sudah dipuncak, pemuda itu tak bisa menahan diri, jika saja saat kejadian yang menimpa Rafa ia langsung bergegas dan tidak mendengarkan ucapan Jidan, mungkin kejadian yang menimpa Nino serta tiga temannya yang lain tidak akan terjadi.
Jidan terlalu menganggap mudah Silas, karena itu kali ini mereka tidak bisa mewanti apa yang Silas rencanakan.
Shaka marah pada dirinya sendiri, tapi disatu sisi ia juga marah pada Jidan yang tak bisa dihubungi saat teman-temannya sedang dalam masalah.
Fikirannya kalut memikirkan betapa tak bertanggung jawabnya Jidan sebagai seorang pemimpin.
"Lo lupa siapa yang nahan gue, lo bahkan kita semua buat enggak gegabah karena katanya Silas gak akan pernah bertindak jauh? tapi apa ha?! temen-temen gue korbannya!!! BANGSAT!!" tidak, Shaka tidak bisa tenang, matanya bahkan berkabut karena emosi, dua tangannya mengepal kuat.
"Gue tanya sekali lagi, dimana Jidan?"
"Selow dulu bang, jangan emosi gini khodam lu serem soalnya" kata Niki menyahut takut
BRAK
Empat orang disana menoleh pada pintu yang dibuka kencang, Jean muncul dengan nafas terengah, pemuda itu mendekat pada Shaka kemudian berucap.
"Jidan sama Yoan dalam bahaya"
Haga yang sedari tadi tak bisa membuka suara karena takut disembur Shaka langsung mendekat pada Jean disusul Niki yang menepuk pundak Jean bertanya tak sabar.
"Dalam bahaya gimana?"
"Cepet jelasin!"
Jean menormalkan detakan jantung terlebih dahulu, pemuda itu menatap Shaka tepat didepannya.
"Gue ngehubungin Jidan sama Yoan saat gue liat mobil cewek yang sempet dijailin Silas beberapa waktu lalu diikutin"
"Jadi Jidan tau?" tanya Dani disebelah Shaka.
Jean mengernyit, "Kalian juga tau?" pemuda itu malah balik bertanya.
Dani mengangguk, "Sekarang yang terpenting maksud Jidan sama Yoan dalam bahaya itu apa?"
Jean menghembuskan nafas sejenak kembali berusaha menormalkan detak jantung, "Jidan sama Yoan dateng nyamperin, saat yang ngikutin tau itu Jidan, mereka kabur gitu aja, dan pas kita sampai didepan perum adesta, Jidan sama Yoan ngilang anjir padahal gue tinggal beli minum doang!!" jelasnya panjang lebar.
"Apalagi kalo bukan buat nyamperin Silas?" lanjutnya.
Shaka tertegun, pemuda itu tak menyangka jika Jidan akan langsung bertindak sendiri, otaknya kembali mengingat ucapan Jidan dirumah sakit kala itu.
'Kalo mereka bertindak lebih jauh, gue yang bakal maju'
Ah rupanya Shaka melupakan satu hal penting.
Satu fakta jika Jidan berpegang teguh pada kata-kata yang pemuda itu lontarkan, tak pernah sekalipun Jidan mengingkari janjinya.
Dan sekarang, Jidan membuktikan ucapannya.
Shaka memejamkan mata sejenak kemudian menatap satu persatu dari empat temannya disana.
"Kita susulin, Jidan Yoan gak mungkin bisa nghandle mereka semua, Silas terlalu kuat"
-•-
Shaka Eira clara gimana? Lo susulin?
Haksa Enggak
Shaka Goblok
Haksa Ya eira tiba-tiba ngechat udah balik, jadi ngapain gue susulin? Palingan bayu yang ngawal clara ampe balik
Shaka Eira atau clara ada bilang gak kenapa bisa tiba2 udah balik?
Haksa Hooh, kata eira ada jidan sama yoan yang ngikutin mereka dibelakang Jadi aman2 aja
Shaka Enggak aman
Haksa Ga aman gimana?
Shaka Jidan sama yoan ngilang
Haksa Gobs ngilang gimana maksud lo?
Shaka Yang ngehubungin mereka soal eira clara diikutin itu jean, dia bilang setelah sampe perum adesta jidan yoan ngilang
Haksa Goblokkkkk
Shaka Sa, ini langsung ketu sama wakilnya
Haksa Kita susun rencana sebelum terlambat
-2A1-
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.