29. The Truth Untold

414 40 6
                                        

Keesokan harinya, Seokjin mendatangi apartemen Jisoo. Terhitung sudah tiga kali ia menekan bel pintu apartemen Jisoo namun Jisoo tak kunjung membukakan pintu. Hal itu membuat Seokjin khawatir. Sejak semalam Jisoo tidak mengangkat teleponnya dan tidak menjawab pesan dari Seokjin. Seokjin takut terjadi sesuatu pada gadisnya.

Setelah berdiri di depan pintu selama lima belas menit, tetangga unit apartemen Jisoo seorang wanita paruh baya keluar dari unitnya dan melihat pada Seokjin.

"Apa kau mencari Nona Jisoo?" Tanya wanita paruh baya itu.

"Iya, ahjumma. Aku sedang mencari Jisoo. Apa dia ada di dalam?" Tanya Seokjin.

"Aku tidak tau." Wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya. "Tapi yang pasti semalam aku melihat ia pergi bersama seorang pria. Entah Nona Jisoo sudah kembali atau belum. Aku tidak mengetahuinya."

"Seorang pria? Apa anda tahu siapa pria itu?"

"Maaf, anak muda. Aku tidak tau. Pria itu memiliki lesung di pipinya." Ujar Ahjumma itu.

"Oh, berarti dia sedang bersama Namjoon." Gumam Seokjin.

"Dan aku lihat sepertinya Nona Jisoo habis menangis. Matanya agak bengkak."

Hati Seokjin berdenyut sakit ketika mendengar penuturan wanita paruh baya itu. Seokjin jadi berpikir, itu pasti karena dirinya.

"Kalau begitu aku permisi dulu, anak muda. Semoga kau bisa segera bertemu dengan Nona Jisoo."

"Terima kasih, Ahjumma." Seokjin membungkukkan badannya ketika wanita tadi meninggalkannya di depan pintu.

Seokjin lantas merogoh saku celananya mengambil ponsel untuk menghubungi Jisoo. Namun nihil. Masih tak ada jawaban. Kemudian Seokjin mencoba untuk memghubungi Namjoon.

Tuut.. tuutt.. tuutt..

"Halo, Namjoon-ssi." Ucap Seokjin ketika panggilannya terjawab. Ia sedikit lega.

"Ya Kim Seokjin-ssi. Ada apa?" Tanya Namjoon dari seberang telepon.

"Ehmm.. aku.. Apa Jisoo ada bersamamu? Aku mencoba menghubunginya berkali-kali tapi tidak ada jawaban." Tanya Seokjin ragu.

"Ya.. Semalam kami kembali ke Seoul. Pekerjaannya di Busan sudah beres. Jadi ia memintaku untuk menjemputnya."

"Apa dia baik-baik saja?"

"Tentu!"

"Apa aku bisa berbicara dengannya?"

"Oh.. maaf, Seokjin-ssi. Aku sedang tidak di rumah. Kau bisa mencoba menghubunginya lagi nanti. Mungkin dia sedang tidur."

"Baiklah. Aku akan mencoba menghubunginya lagi nanti. Terima kasih."

Seokjin memutuskan panggilannya.

Dengan langkah gontai, Seokjin terpaksa meninggalkan apartemen Jisoo. Dan berharap gadis itu segera memberinya kabar.

Di sisi lain Jisoo sedang berada di halaman belakang rumahnya. Ia duduk di bangku panjang di tepi kolam renang. Disana terlihat Namjoon juga duduk di sebelahnya.

Ya.. Namjoon berbohong dengan mengatakan pada Seokjin di sambungan telepon tadi bahwa dia sedang tidak rumah. Jisoo yang memintanya. Ia masih belum ingin berbicara dengan Seokjin.

"Kau harus bertanggung jawab, Jisoo. Kau sudah membuatku berbohong pada Kim Seokjin." Ucap Namjoon setelah berbicara dengan Seokjin via telepon. "Seharusnya kau jawab panggilan teleponnya. Jangan buat dia mengkhawatirkanmu."

Jisoo hanya bergeming.

"Jisoo.. Dengarkan aku! Jika kau seperti ini, sama saja kau sedang mempermainkan hati dua pria sekaligus. Seokjin dan Yoongi."

ABYSS (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang