Hari telah berganti. Mentari tak segan untuk menampakkan dirinya dan menyinari bumi dengan senangnya. Sudah banyak orang yang memulai aktivitasnya pagi ini. Tak terkecuali Jisoo yang sudah siap untuk pergi ke kantor. Namun tidak seperti hari-hari sebelumnya, Jisoo merasa tubuhnya kurang sehat saat bangun tadi. Kepalanya agak pening dan perutnya sedikit perih. Ia sudah minum obat tadi setelah mandi dan berharap setelah ini segera membaik.
Setelah siap untuk berangkat ke kantor, Jisoo lebih dulu menuju meja makan untuk sarapan. Setelah turun, ia mendapati Eomma nya sudah sibuk menata makanan di meja makan.
"Selamat pagi, sayang." Sapa Ny. Song pada putri bungsunya.
"Pagi, Eomma." Jisoo menarik kursinya dan duduk disana. "Namjoon Oppa kemana?"
"Dia belum keluar. Mungkin sebentar--" Belum selesai berucap, pria yang sedang dibicarakan muncul dengan setelan jas abu-abunya. "Itu dia."
"Selamat pagi, Eomma.. Tuan putri.." Namjoon duduk berseberangan dengan Jisoo dan menyadari wajah Jisoo yang sedikit pusat. "Jisoo.. Kenapa wajahmu agak pucat?"
Mendengar itu, Ny. Song mengalihkan pandangannya pada sang putri. "Benar. Kenapa Eomma tidak menyadarinya. Kau sakit, nak?"
Jisoo menggeleng. "Hanya sedikit pusing. Nanti juga sembuh. Aku sudah minum obat tadi."
"Kalau kau sakit sebaiknya kau istirahat saja, sayang." Air muka Ny. Song berubah khawatir pada putri semata wayangnya. "Eomma juga lihat akhir-akhir ini kau bekerja lembur hingga tengah malam."
"Tidak, Eomma! Aku harus ke kantor. Ada rapat penting nanti siang."
"Biar aku saja yang menggantikannya nanti, Jisoo. Sebaiknya kau istirahat saja di rumah."
"Tidak bisa, Oppa! Apa Oppa bisa menjelaskan details model-modelnya nanti?"
"Aku akan mengajak Lisa. Dia pasti mengerti, kan?"
Jisoo menggeleng cepat. "Lisa memang asistenku. Tapi ini model terbaru. Lisa belum paham. Aku harus bekerja hari ini."
"Tapi, sayang---" rengekan Ny. Song terpotong oleh putrinya.
"Eomma.. aku baik-baik saja." Ucap Jisoo menenangkan dengan mengelus punggung tangan sang ibu.
"Tapi kau harus berjanji, jika kau merasa lelah, segera istirahat!"
"Baik, Eomma."
****
Lalu lintas pagi ini terlihat padat seperti biasanya. Meski jalanan padat namun mobil bisa dilajukan dengan kecepatan rata-rata. Begitu pula mobil yang Namjoon kendarai, bisa berjalan dengan kecepatan sedang untuk bisa mencapai kantornya.
Saat melewati sebuah kafe, ia melihat ada seorang wanita berdiri di depan kafe yang terlihat kesal dan menendang ban mobilnya.
"Itu Rosè? Ada apa dengan mobilnya?" Tanya Namjoon pada dirinya sendiri.
Kemudian Namjoon menghentikan mobilnya tepat di depan mobil Rosè. Ia keluar setelah mematikan mesin mobilnya.
"Hey, Rosè!" Sapa Namjoon pada gadis berambut pirang itu. "Ada apa dengan mobilmu?"
Rosè pun menoleh. "Hey, Oppa. Ini ban mobilku kempes."
"Apa kau butuh tumpangan?" Tanya Namjoon.
"Ah.. tidak, Oppa. Terima kasih." Tolak Rosè dengan segan. "Aku akan naik taksi saja."
"Apa nanti kau tidak terlambat jika menunggu taksi? Disini jarang sekali ada taksi lewat."
"Apa tidak merepotkan?" Tanya Rosè ragu.
"Tidak sama sekali. Aku akan mengantarmu. Ayo masuklah!"
Rosè pun akhirnya menerima tawaran Namjoon. Mereka meninggalkan mobil Rosè yang masih terparkir disana setelah Namjoon menelpon bengkel langganannya untuk mengurusi mobil Rosè.
Hanya hening yang tercipta ketika mereka berdua berada dalam satu mobil. Namjoon fokus pada kemudinya sedangkan Rosè hanya memainkan ponselnya.
"Bagaimana kabarmu, Rosè? Sudah lama kita tidak bertemu." Tanya Namjoon yang akhirnya memecah keheningan.
"Baik, Oppa." Jawab Rosè. "Bagaimana kabar bibi Song? Sudah lama juga aku tidak berkunjung ke rumah kalian."
"Kami baik-baik saja. Berkunjunglah ke rumah kami, Rosè. Eomma akan senang jika kau berkunjung."
Rosè hanya mengangguk tawaran dari Namjoon.
Tak butuh waktu lama, akhirnya mobil yang dikendarai Namjoon sudah tiba di depan kantor Rosè.
"Apa kau tidak mampir dulu, Oppa?" Tanya Rosè sambil melepaskan seatbeltnya. "Barangkali ingin bertemu dengan Yoongi Oppa."
"Tidak. Terima kasih. Aku akan langsung ke kantor saja."
"Kalau begitu aku masuk dulu, Oppa. Terima kasih sudah mengantarku."
Rosè pun membuka pintu mobil dan keluar dari mobil Namjoon.
Namjoon tidak segera menginjak gasnya ketika Rosè masih berada dalam jangkauan pandangannya.
Namjoon tersenyum dan memperlihatkan dimple di pipinya saat memandang punggung Rosè yang semakin menjauh dan hilang ketika sebuah pintu kaca besar tertutup.
"Apa kau menerima bunga dariku selama ini? Aku ingin sekali melihat ekspresi senangmu secara langsung ketika menerima bunga dariku. Kuharap aku akan segera bisa melihat itu."
***
Rosè membuka pintu ruangannya dan mendapati sebuah buket bunga mawar merah tersimpan di atas meja kerjanya.
"Dia mengirimkan bunga lagi untukku?" Ucap Rosè pada diri sendiri dan mencium buket bunga itu. "Tapi siapa yang selama ini mengirimkan bunga untukku?"
"Mungkin dari penggemarmu." Jawab Yoongi dengan tiba-tiba dan membuat Rosè terkejut.
"Oppa.. kau mengagetkanku!"
"Kau dapat bunga dari siapa?"
"Entahlah, Oppa. Sudah sering aku mendapatkan buket bunga mawar seperti ini. Namun tidak ada nama pengirimnya."
Rosè pun mulai memikirkan kira-kira siapa pengirim bunga selama ini. Namun semakin dipikirkan, ia tidak mendapat jawabannya.
Bagaimana mungkin seorang Rosè yang lahir dan besar di Australia bahkan saat berkuliah ia juga di Amerika bisa memiliki seorang penggemar yang sering mengirimnya bunga? Rosè bahkan belum genap dua tahun tinggal di Korea. Mana mungkin ia memiliki penggemar?
"Apa mungkin Seokjin Oppa yang mengirimkannya?"
"Tidak mungkin!" Jawab Yoongi.
"Oppa.. kenapa kau tidak pernah sekalipun mencoba untuk membuat aku senang?" Ucap Rosè dengan kesal.
"Aku hanya tidak ingin memberi harapan palsu untuk adikku ini." Ucap Yoongi sambil berlalu. Saat tiba di pintu, Yoongi menoleh. "Oh iya, segera bawa data yang aku minta kemarin."
****
Jangan lupa vote dan komen.
Thanks for reading..
KAMU SEDANG MEMBACA
ABYSS (Complete)
FanfictionKim Jisoo dan Kim Seokjin dibesarkan bersama-sama di sebuah panti asuhan. Saat masih remaja, Seokjin selalu melindungi Jisoo jika ada orang lain yang menggoda atau mengejek Jisoo. Tapi saat dewasa, mereka harus terpisahkan oleh jarak dan waktu. Baga...
