Pagi hari jalanan di kota Seoul cukup lenggang membuat Rosè yang hari ini membawa mobil sendiri cukup tenang tidak harus melewati kemacetan panjang yang cukup membuat frustasi di pagi hari. Sebelum menuju ke kantornya, ia terlebih dahulu mampir ke sebuah toko bunga yang letaknya tidak jauh dari tempat ia bekerja. Ia ingin membeli bunga untuk dirinya sendiri. Hal ini sudah sering ia lakukan. Membeli bunga untuk diri sendiri karena Rosè adalah wanita pencinta bunga khususnya mawar merah. Dan beruntung akhir-akhir ini ia sudah jarang membeli bunga karena dua kali seminggu ia mendapat kiriman bunga yang entah dari siapa.
Setelah memakirkan mobilnya di depan toko, Rosè segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam toko. Namun sebelum ia masuk, tak sengaja pundaknya bersenggolan dengan pundak seorang wanita.
"Oh.. maafkan saya, nona." Ucap wanita itu dengan membungkukkan badannya. "Saya sedang terburu-buru."
"Iya.. tidak apa-apa." Ucap Rosè.
Wanita itu pun berlalu. Sesaat setelah masuk ke dalam toko Rosè menghentikan langkahnya dan menengok ke arah wanita tadi yang ternyata sudah tidak nampak lagi.
"Wanita tadi seperti sekertarisnya Namjoon Oppa." Gumamnya.
Tak lama kemudian sang pemilik toko bunga menyambut Rosè.
"Halo, Nona." Sapa wanita paruh baya yang merupakan pemilik toko bunga itu. "Sudah lama anda tidak mampir kesini."
"Halo, Ahjumma." Rosè membungkukkan badannya. "Maaf, akhir-akhir ini aku sibuk. Jadi tidak sempat mampir kesini."
"Apa kau ingin pesan yang seperti biasanya? Aku akan membuatkannya untukmu?"
"Ya, Ahjumma. Seperti biasa."
Saat Rosè sedang menunggu sang pemilik toko merangkai bunga, netranya tak sengaja melihat sebuah buket bunga yang dibungkus mirip dengan yang sering ia terima dari seseorang.
"Ahjumma.. bunga ini pesanan siapa?" Tanya Rosè yang penasaran.
"Itu pesanan Nona tadi yang datang sebelum kau, Nona."
"Kenapa tidak dibawa sekalian bunganya?"
"Bunga itu akan dikirimkan pada seseorang. Sudah beberapa bulan ini Nona tadi memesan bunga untuk dikirim ke orang yang sama. Namun ia menolak untuk menuliskan nama pengirimnya." Tutur wanita paruh baya itu.
Rosè cukup terkejut dengan penuturan dari wanita yang ada di hadapannya itu. Ia tau betul buket bunga yang sering ia terima dari seseorang itu persis sekali dengan buket bunga yang ia lihat saat ini.
"Apa mungkin dia orang yang selama ini mengirim bunga untukku? Tapi kenapa dia tidak memberikannya secara langsung padaku?" Batin Rosè.
"Ini pesanan mu, Nona." Ucap Ahjumma yang membuyarkan lamunan Rosè.
"Oh.. terima kasih, Ahjumma."
Lalu Rosè memberikan sebuah kartu untuk pembayaran bunga yang ia pesan. "Ahjumma.. apa boleh bunga ini aku bawa sekalian? Ini alamatnya sama dengan tempat aku bekerja. Dan kebetulan aku kenal dengan orangnya."
"Bolehkah? Apa tidak merepotkanmu, Nona?"
"Tentu tidak, Ahjumma."
"Terima kasih, Nona. Lain kali aku akan memberi bunga gratis untukmu."
"Ya, Ahjumma. Kalau begitu aku permisi dulu." Rosè membungkukkan badan dan dua buket bunga sudah ia bawa.
Rosè masuk ke dalam mobilnya kemudian meletakkan dua buket bunganya di samping kursi kemudinya. Setelah itu, ia menyalakan mesin dan menginjak gasnya bersiap untuk menuju ke kantornya. Baru beberapa meter Rosè mengemudikan mobilnya, ia tiba-tiba membanting setirnya untuk berpindah jalur yang berlawanan dari arah kantornya. Ia memutuskan untuk mendatangi Kim Namjoon di kantornya dan akan menanyakan langsung padanya tentang bunga itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
ABYSS (Complete)
Fiksi PenggemarKim Jisoo dan Kim Seokjin dibesarkan bersama-sama di sebuah panti asuhan. Saat masih remaja, Seokjin selalu melindungi Jisoo jika ada orang lain yang menggoda atau mengejek Jisoo. Tapi saat dewasa, mereka harus terpisahkan oleh jarak dan waktu. Baga...
