13. Finally, we meet

545 53 0
                                        

Hamparan air laut yang berwarna biru membuat pikiran yang kalut menjadi jernih kembali. Sebab itulah Yoongi memutuskan untuk berlibur di vilanya sebelum menghadiri acara pembukaan kantor cabangnya. Ia ingin menjernihkan pikiran dan melepas penat setelah beberapa hari disibukkan dengan berbagai pekerjaan.

Di sore hari Yoongi mengajak Seokjin dan Rosè untuk ke pantai bersama. Setelah duduk di kursi pantai, ia merogoh saku mengambil ponselnya dan mengirim sebuah pesan untuk Jisoo.

Jisoo tadi mengirim pesan pada Yoongi akan datang sedikit terlambat karena masih ada meeting di pabriknya.

Sambil menunggu kedatangan Jisoo, Yoongi menikmati pemandangan yang tidak bisa ia temui di Seoul dan duduk bersandar di kursi.

Lama-kelamaan rasa kantuk itu menyerang dan Yoongi pun tertidur di atas kursi itu.

Sedang Rosè asyik bermain air di pinggir pantai sendiri. Tadinya ia mengajak Yoongi dan Seokjin untuk ikut bergabung, namun kedua pria itu menolaknya hingga akhirnya ia bermain air sendiri.

Di saat menikmati deburan ombak yang menerjang kakinya, mata Rosè tertuju pada Seokjin yang sedang duduk di sebelah Yoongi sambil memainkan ponselnya. Ia memandang pria yang sudah ia sukai sejak lama. Memorinya berputar mengingat kejadian lampau yang terjadi antara dirinya dan Seokjin.

Hal yang membuat Rosè begitu tergila-gila dengan Seokjin adalah sifat dari pria itu.

Awalnya Rosè mengenal Kim Seokjin dari Yoongi yang lebih dulu mengenal Seokjin. Karena Rosè dan Yoongi bersama ketika kuliah di Amerika membuat mereka bertiga sering kali menghabiskan waktu bersama hingga membuat rasa suka pada Seokjin tumbuh tanpa bisa dihalau.

Sejak pertama Rosè bertemu dengan Seokjin, wanita itu belum pernah sekali pun melihat pria yang ia sukai itu berkencan dengan seorang wanita. Padahal banyak gadis yang mengejarnya karena ketampanan, sifat, dan otaknya. Terkadang Rosè berpikir, bagaimana bisa ada seseorang sesempurna Kim Seokjin. Hampir semua perihal baik ada pada pria itu. Sebab itulah ia menyukai Kim Seokjin. Namun berkali-kali ia menyatakan perasaan, berkali-kali itu juga ia mendapatkan penolakan.

Rosè masih belum mengerti mengapa hingga saat ini Seokjin masih single belum memiliki pasangan. Apa ada seorang gadis yang ia tunggu selama ini? Pertanyaan itu sering muncul di benaknya. Ingin sekali ia menanyakan itu secara langsung, namun egonya yang tinggi membuat ia mengurungkan niat itu. Ia hanya mengabaikan pertanyaan itu dan berusaha untuk bisa meluluhkan hati seorang Kim Seokjin. Namun hingga saat ini ia belum berhasil. Bahkan kakak sepupunya yang sudah ia anggap seperti kakak kandung sendiri sering kali memperingatkan untuk tidak mengejar Kim Seokjin lagi. Namun Rosè mengabaikan peringatan dari Yoongi karena ia yakin bahwa suatu saat nanti entah kapan hati Seokjin akan terbuka untuknya.

Sekitar tiga puluh menit Yoongi tertidur dan ia terbangun melihat sekeliling barangkali Jisoo sudah datang. Namun ia tidak menemukan presensi tunangannya disana.

"Apa tunanganku belum sampai?" Tanya Yoongi dengan suara khas orang bangun tidur.

"Belum. Apa kau sudah memberitahunya kalau kita ada disini?" Jawab Seokjin yang netranya masih fokus pada ponselnya.

"Aku sudah mengirimkan pesan untuknya untuk langsung menyusul kesini jika ia sudah sampai di vila." Jelas Yoongi.

"Oh.. shit!!"

Seokjin mengumpat karena kalah dalam game di ponselnya. Kemudian ia berdiri dan meregangkan kedua tangannya yang kaku setelah bermain game tadi.

"Kau masih pecandu game ternyata."

"Ini salah satu caraku untuk melepas penat." Jawab Seokjin.

ABYSS (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang