"yasudah, Ghina Saya izinkan, disini Saya ingin mempermudah urusan orang lain, minta barokahnya aja ya Ghin, jadi sepakat ya kita semua banyak yang mengizinkan." ucap Pak Farhan akhirnya menyetujui.
Dengan perasaan tenang dan senang, Ghina mengabarkan kepada Deena dan teman santriwati lainnya bahwa ia bisa ikut.
Selang beberapa menit kemudian hanphone Ghina dipenuhi dengan puluhan chat yang masuk dari grup Santriwati Al-amin.
"Siapa aja nih yang ikut?"
"Gayseu aku jadi ikut dong:')"
"lnshaallah aku juga ikut."
"Wah serius kan teh? Syukur deh kalo dapet izin"
"Aku masih gantung nih, dilema ... Gada pemasukan, banyak pengeluaran, mengsedih:( paling ga megang uang banyak buat bekal"
"Yaelah Mey tenang aja kali, Deena nanti bakal bawa banyak makanan, iya kan Deen?"
"Aku gimana teh ghina ya gays, kalo doi ikut aku juga inshaalllah ngikut"
"kamu udah kek pohon benalu aja, nempel hm..."
"yang keren dikit napah, pohon anggrek kek:("
"Harus kompak ih, kan uangnya udah masuk, jangan pada bimbang gitu ah, bisa yuu ikut semua"
Lalu beberapa menit kemudian, Mey menjapri Ghina untuk menukarkan posisi tempat duduk.
"Teh no bangku Aku 24, teteh mau gak tukeran? soalnya aku kurang berkenan kalo harus duduk sama Laili."
Membaca sebuah pesan dari Meylia, membuat Ghina sesak, bisa-bisanya ia menukarkan posisi tempat duduk dengan begitu mudahnya, sedangkan penomoran bangku sudah diatur dari jauh hari dan dibagikan oleh pihak panitia.
Menurut Ghina itu merupakan sebuah perilaku yang tidak etis, tidak bisa menghargai atas keputusan yang telah dibuat para panitia, apalagi dengan alasan yang tidak logis, tipe orang seperti ini bisa dikategorikan egois, memilah milih teman dan enggan untuk berbaur, maunya dengan yang sefrekuensi tapi tidak tahu caranya berempati, maunya bergaul tapi enggan untuk merangkul, ia hanya memikirkan kesenangan sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain, rasanya Ghina ingin marah dan membantah, tapi hawa nafsu itu semua Ghina kubur dalam-dalam, karena ia tidak ingin menyinggung perasaan orang lain, akhirnya ia mencoba mengingatkan dengan pelan dan menanyakan baik-baik sebab dan akibat Mey memutuskan alasan tersebut.
"Oh emangnya no bangku Laili berapa? Terus gak maunya karena apa?"
"Ya gak mau aja teh, karena
Laili itu gak asik, dia pendiam, kalo ngomong itu suka gak jelas, Aku mau nya bareng Deena sama Zilfa, nanti teteh berdua sama Laili""Oh gitu ya? Setahuku dia gak terlalu pendiam kok, asal kitanya yang harus ngajak, terus ... Maaf ya, kalo perihal tempat duduk itu bukannya sudah diatur ya sama pihak panitia, kalo Meylia mau begitu, harusnya ngomong dari awal ke pihak panitia, karena kalo sekarang sudah telanjur, agak nyesek juga sebenarnya no bangku teh Ghina harus diganti, maaf ya Mey kayaknya gak bisa, tapi biar adil, Mey bareng Deena aja, teh Ghina , Zilfa sama Laili kita bakal duduk bertiga, kalo gitu gimana, setuju gak?"
"Yasudah teh gapapa, tapi aku bareng Deena ya."
Ghina jadi heran, Meylia semakin ingin menguasai tempat duduk saja, Ghina teramat memahami masing-masing karakter dari setiap temannya itu, jika mereke bertiga itu dipersatukan, maka tingkat keegoisannya akan sangat melengking, kemasabodoan nya akan melekat, seolah keseruannya hanya milik mereka bertiga, yang lain diabaikan bahkan bisa sampai dikucilkan, yang lain dikesampingkan, hanya eksisnya mereka bertiga saja yang harus ditingkatkan, Ghina sudah muak dengan keadaan seperti ini, padahal yang namanya pertemanan itu, alamiah saja, tidak memilah milih dan membedakan, saling merangkul hingga kesan kebersamaannya kian dapat terbangun, Ghina tidak mau hal seperti itu sampai terjadi, alhasil ia memilih jalan alternaf.

KAMU SEDANG MEMBACA
ALIANSI
Random"Susah ya kalo sudah terikat, tapi hati menjalankan dengan berat🍂" Hembusan nafas kasar Ghina memenuhi ruangan pekik yang berukuran lumayan besar ini, bangunan tua yang tak ramai penghuni ini sudah dikontrak 2 bulan yang lalu oleh salah satu inst...