Usai makan bersama, pak Farhan memanggil Ghina untuk menemuinya di ruang kerja, sedikit cemas dan panik karena sudah Ghina tebak sesi kali ini bak disidak, bagaimana tidak? Semua anggota panwas dikumpulkan di sana untuk mendengarkan perihal keputusan Ghina yang ingin resign pekan lalu.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi, wabarokatuh. Alhamdulillah kita semua bisa berkumpul sekaligus halal-bihalal usai ramadhan, sebelumnya terima kasih kepada semua Bapak ibu yang telah menyempatkan waktunya untuk hadir, sebenarnya disamping kita silaturahim ada sedikit hal yang harus disampaikan, yakni mengenai Ghina yang ingin resign dari panwas, mungkin sedikit dijelaskan oleh saya ya Ghin, nanti kurang lebihnya bisa ditambahkan. Jadi Bapak Ibu sekalian, minggu kemarin itu Ghina main ke rumah saya, mengutarakan maksud dan tujuannya yang ingin resign dari panwas, terus saya tanya dong alasannya kenapa, katanya murni dari keinginan hati nya sendiri, gak ada problem atau hal apapun itu yang mengangkut sama kita. Terus kebetulan saya ada rencana di bulan Syawal ini mau makan liwet bersama di kantor, jadi saya ngajak Ghina sekalian untuk mengungkapkan keputusan nya kepada rekan-rekan semua." Tukas pak Farhan menjelaskan.
Suasana ruang kerja tersebut seketika tegang, terlihat dari beberapa pandang mata yang serius mendengarkan dan mencerna omongan pak Farhan.
"Aish, kabar eta leres teu bu Ghin? Manawi abdi nu kirang merhatoskeun." Sangkal pak Zafran tidak percaya, kemudian disusul dengan tatapan bingung dari semua anggota panwas lainnya, tak terkecuali Algi.
"Muhun, pak leres." Balas Ghina singkat.
"Maksudnya kamu mau keluar Ghin? Alasan yang signifikannya apa?" Timpal pak Rifqi penasaran. Ghina yang masih terdiam menyiapkan perkataan yang sekiranya bisa diterima oleh banyak pasang mata yang masih tertegun disekelilingnya, bak terintimidasi. Lalu ia mulai mencoba membuka suara dengan pelan dan terbata-bata nyaris takut dan gugup.
"Iya pak, Mm ... Sebe-lum-nya Ghina mau minta ma-af ji-ka kabar ini sedi-kit menge-cewakan, Ghina ... juga mengucapkan banyak terimakasih kepada Bapak Ibu semua rekan kerja Ghina selama di panwas, sudah baik sama Ghina, mengajarkan dan membimbing Ghina dengan sabar. Senang bisa mengenal Bapak Ibu semua rekan kerja di sini, mengenal banyak orang hebat dan bijaksana, pastinya akan ada banyak pengalaman dan pelajaran yang bisa Ghina ambil selama kerja di sini. Seperti yang disebutkan pak Farhan tadi, alasan Ghina mau keluar dari panwas itu murni karena pemikiran hati Ghina sendiri, bukan karena ada masalah internal atau yang lainnya yang berhubungan sama anggota panwas, terus Ghina ada rencana juga mau kerja di PT, jadi takut nya gak bisa kehandle kalo pegang dua job itu, hehe..." Alibi Ghina menetralkan suasana, kemudian melanjutkan, "Ghina harap Bapak Ibu semua di sini bisa memaklumi dan mengerti semua keputusan Ghina." Lirih Ghina dengan sedikit gemetar berharap ucapannya dapat dipahami.
"Yakin, murni karena itu? Bukan karena ada masalah internal kan dengan kami?" Tanya Bu Rere menegaskan.
"Iya Bu, bukan. Alhamdulillah Ghina ga merasa ada masalah dengan semua anggota panwas. Malah Bapak Ibu semua di sini sudah baik banget sama Ghina," tukas Ghina penuh keyakinan.
"Syukur atuh Bu Ghin, pami kitu mah," pak Zafran sedikit lega, kemudian mempertanyakan kembali "tadi saurna mung karak rencana nya, berarti bu Ghin acan pasti masuk PT kan kanggo sasih ayeuna-ayeuna mah, naha atuh bu Ghin kunaon teu bertahan wae lah didieu salami nunggu panggilan di PT ? pami ceuk Abdi mah bu Ghina teh sae, maksad na dina kinerja sareng ramah jalmina, tiasa masak, pami ku abdi di piwarang anjena kersa wae, janten ka abdi na ge resep kiwari ayeuna masih aya budak anom nu miboga sifat kos kitu, nya intinamah ceuk cara bahasa Indonesia itu, sangat disayangkan. Kumargi di dieu oge pan Bu Ghina etang-etang belajar, neangan pengalaman. Eta pendapat Abdi nya, tapi nya duka nu sanesna, mangga dialihkeun deui ka Bu Ghina kumaha sae na." Panjang lebar pak Zafran memberi sedikit saran.
"Nah Iya atuh Bu Ghina, bertahan dulu lah di sini, itung-itung ngisi waktu luang, lumayan daripada nganggur," pak Miftah memperkuat.
"Itu keputusannya udah bulat neng?" Timpal pak Estu.
"Iya pak, sudah Ghina pikirkan."
"Emang kenapa sih Ghin, kan kalo masalah pulangnya jauh itu bisa bareng bapak," pak Danang kali ini sedikit menegosiasi.
"Hehe... bukan perihal pulang pak."
"Jadi begitu Bapak ibu, kan kemarin Ghina baru bilang ke saya, kalo sekarang sudah jelas, ada pengakuan langsung dari Ghina nya, untuk keputusan dari bapak ibu semua bagaimana?" Pak Farhan meminta pendapat semua anggota panwas.
"Kalo dari saya, jika keputusan Ghina sudah bulat dengan segala pertimbangannya, saya mencoba menghargai. Oh iya, maafkan saya jika punya kesalahan ya Ghin, semoga kamu dapat pekerjaan yang lebih baik lagi." pak Rifqi akhirnya mentoleransi.
"Yasudah, saya juga setuju kalo alasannya memang jelas." Tambah Bu Rere.
"Ok Pak, saya ngikutin suara terbanyak aja," jawab Pak Estu bersuara.
"Ok, pami kitu mah Ghin, Abdi teu tiasa nanaon mung tiasa ngado'akeun supados manggih padamelan nu lewih hade, boh dina honor, rekan kerja jeung sajabana. Abdi nyuhunkeun dihampura oge pami seer kalepatan. Tapi, pami Bu Ghin berubah pikiran, panwas masih terbuka kanggo Bu Ghina. Oh enya, tong hilap sok sanaos bu Ghin teu damel deui di dieu silaturahmi mah kedah dipertahankeun." Tukas pak Zafran menyelipkan petuah. Ah, Beliau memang sosok yang paling pengertian, ditengah samarnya dengan keadaan sempatnya memberikan penguatan.
"Muhun, siap pak ... hatur nuhun."
"Saya juga minta maaf ya Buk, khawatirnya karena saya, syukur deh kalo gak ada masalah pribadi atau internal dengan kami, semoga bisa mengambil pelajaran ya Buk selama bekerja di sini." Pungkas Bu Rere sedikit terenyuh.
"Oh gak sama sekali Bu, Ghina juga mohon maaf ya belum bisa jadi partner seperti apa yang diharapkan."
"Baik, terima kasih Bapak ibu semua atas responnya, untuk Ghina ya! jadi kita semua menghargai semua keputusan kamu, karena memang sudah bulat ya dengan segala pertimbangannya, saya mewakili semua anggota panwas juga meminta maaf kalo ada kesalahan dan khilafnya, semoga Ghina bisa mengambil banyak pelajaran di sini, jangan mengambil hal buruknya, tetap jaga silaturahmi. Dan kedepannya bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi, menemukan banyak relasi dan mendapatkan lingkungan yang positif." dengan bijaksana pak Farhan menyimpulkan. Detik kemudian menambahkan, "Oh iya Ghin, kalo seminggu lagi kamu di sini gak keberatan kan? Soalnya tanggung, biar terhitung sampai akhir bulan sekaligus menunggu surat keputusan dari pusat." tukas Pak Farhan memberikan tawaran.
"Oh iya, gapapa pak. Terima kasih juga rekan semua sudah mengizinkan dan menghargai keputusan Ghina. Pasti Ghina akan ingat selalu dengan kebaikan bapak ibu semua di sini, terima kasih sudah memberikan kesempatan buat Ghina, sekali lagi Ghina mohon maap sudah mengecewakan, maaf juga belum bisa menjadi partner kerja yang baik, terima kasih buat semuanya." Lirih Ghina pelan.
Semua pasang mata akhirnya kembali damai setelah mendapat penuturan atas semua jawaban dari kebingungan, kecuali Algi seolah menagih meminta penjelasan.
Walau ragu, nyaris gugup, takut dan terbata-bata. Akhirnya Ghina bisa bernapas lega, kali ini suasana ruangan kerja tersebut kembali tenang, tapi gak bisa dipungkiri sedikit menggoreskan hawa melow di sana.

KAMU SEDANG MEMBACA
ALIANSI
Random"Susah ya kalo sudah terikat, tapi hati menjalankan dengan berat🍂" Hembusan nafas kasar Ghina memenuhi ruangan pekik yang berukuran lumayan besar ini, bangunan tua yang tak ramai penghuni ini sudah dikontrak 2 bulan yang lalu oleh salah satu inst...