Hari ini sudah menginjak seminggu dari keputusan Ghina mengutarakan ingin resign, hasil rapat sidang rekan Panwas, menyarankan Ghina lanjut bekerja dulu untuk beberapa hari ke depan, jika surat pengunduran diri dari pusat sudah keluar dan calon pengganti Ghina sudah ada, maka ia dinyatakan telah resmi keluar dari keanggotaan Panwaslu.
Namun sepertinya, ada hal yang mengganjal, sebelum surat pengunduran diri dari pusat keluar, ternyata pak Rifqi dan bu Rere diam-diam menyiapkan rencana, mereka bekerja sama untuk mencari pengganti Ghina dalam waktu yang dekat, memang hal tersebut sangat wajar, karena prinsipnya lebih cepat pasti akan lebih baik, tapi entah bagaimana keputusan sepihak ini sedikit menusuk hati kecil Ghina, melemahkan usaha Ghina, dan meruntuhkan semua energi postif yang ada dalam diri Ghina. Tapi kalo dipikir, bukankah ini jalan yang terbaik, semua ini memang keinginan Ghina kan untuk sirna dari dunia percanggungan, walau disisi lain ia merasa kehadirannya sudah tidak dianggap dan dibutuhkan lagi.
Siang hari itu, saat Ghina sudah beres mengerjakan semua tugasnya, samar-samar ia mendengar obrolan Pak Rifqi dan Bu Rere di teras depan kantor.
"Assalamu'alaikum," Sapa bu Rere datang.
"Wa'alaikumsalam, kumaha Buk damang?"
Tanya pak Rifqi sambil mengutak atik handphonnya, seperkian detik ia basa-basi, "Minum dulu Buk."
"Gak usah pak, saya sudah ngeteh tadi pagi di rumah. Oh iya pak, mengenai karyawan baru itu sudah ada belum?" Tanya bu Rere to the point."Eh, iya Bu. Sudah kok, kemarin katanya mau mempersiapkan dulu berkas persyaratan kerjanya," jelas pak Rifqi sambil menyeruput kopi.
"Oh gitu ya, udah pak gak usah ribet, minta KTP dulu aja, berkas yang lainnya bisa menyusul, yang penting dia serius niat kerja, sukur-sukur bisa rajin dan totalitas." Pungkas Bu Rere seolah ingin cepat-cepat ada yang menggantikan posisi Ghina.
"Iya, siap Bu. Nanti saya kabari lagi," pak Rifqi mengiyakan. Beberapa menit kemudian, bu Rere memanggil Ghina.
"Bu Ghina, bisa tolong ke sini!" Panggil bu Rere serius.
"Iya Bu, ada apa ya?" Jawab Ghina seolah tidak mendengarkan obrolan mereka.
"Pekerjaannya sudah beres belum."
"Udah, baru aja. Oh iya, ibu mau minum air putih apa teh manis?" Ghina memulai basa-basi.
"Oh gak usah Bu, terima kasih. Mm.. itu kalo sudah beres semua pekerjaan nya, silakan bisa langsung pulang aja Bu, soalnya kasian, sudah tidak ada keperluan lagi kan di sini? Nanti percuma, cape tapi gak ada hasil." usir halus Bu Rere.
"Oh gitu ya Bu, sekarang apa nanti sore aja bu sekalian pulang?" Tanya Ghina khawatir salah.
"Bisa langsung sekarang aja Bu, mangga gak papa." Balasnya lagi mempersilakan.
Ghina terdiam sebentar, disampingnya ada pak Rifqi yang sedang santai mengopi dan di dalam kantor ada pak Farhan yang sedang istirahat, sebenarnya ia ingin pamit terlebih dahulu kepada pak Farhan yang sudah teramat baik pada nya, sayangnya keadaan tidak memungkinkan, sekedar hanya untuk bersalaman tidak enak juga kalo membangunkan pak Rifqi yang sedang tidur nyenyak . Detik berikutnya Ghina memantapkan hati, lalu menjawab.
"Oh, yasudah Bu, Ghina ijin pamit pulang ya." Sambil mengambil ranselnya ia melirik sebentar ke arah pak Farhan. "Maaf pak, Ghina ijin pamit, semoga nanti kita bisa ketemu lagi," lirih Ghina dalam hati. Lalu bersalaman kepada pak Rifqi sekaligus Bu Rere.
"Assalamu'alaikum." Pamit Ghina yang mulai melangkahkan kaki.
Ghina terdiam sebentar untuk melihat sekeliling asrama pondok pesantren berdikari dan musala hijau yang asri itu, tidak lupa mengedarkan pandangannya ke arah rumah Fiza yang tepat berada di samping rumah pak Rifqi, "Fiza, teh Ghina pamit pulang, maafin teteh ya gak sempat bilang, semoga suatu saat nanti kita bisa dipertemukan kembali," lirih Ghina yang hanya bisa bergumam dalam hati. Ah gadis kecil tersebut yang nantinya pasti akan dirindukan Ghina, sudah bisa dipastikan sepulang sekolah ia akan menanyakan keberadaan Ghina. "Fiza dan semua tingkah polosnya, terima kasih telah mewarnai perjalanan teh Ghina selama di panwas, terima kasih sudah menyuntikan banyak energi positif. Salam sayang, semoga kamu selalu dalam keadaan damai, jangan pernah melupakan teh Ghina, persahabatan kita senantiasa akan terjaga." Senyum simpul Ghina dan sedikit menyeka air mata, kemudian ia melanjutkan perjalanan.

KAMU SEDANG MEMBACA
ALIANSI
De Todo"Susah ya kalo sudah terikat, tapi hati menjalankan dengan berat🍂" Hembusan nafas kasar Ghina memenuhi ruangan pekik yang berukuran lumayan besar ini, bangunan tua yang tak ramai penghuni ini sudah dikontrak 2 bulan yang lalu oleh salah satu inst...