Haloooo!!!
Gimandos perasaan kalian pas aku update?
Pertama-tama aku mau menyampaikan sesuatu. Tolong beri vote dan komen jika kalian membaca cerita ini. Vote dan komen kalian sangat berarti buat aku. Bukannya apa-apa. Tapi aku emang lagi butuh semangat aja. Semenjak kerja offline lagi, aku harus bagi otak antara nulis dan kerjaan di dunia nyata. Karena kerjaan aku di dunia nyata juga dominan mengandalkan otak. Nggak cuman nulis aja mikirnya. Jadi, kadang tuh jenuh banget sampe mager mau nulis.
Ayo pada vote dan komen!
Follow juga wattpadku. Ini juga susah banget. Sampe bingung caranya biar kalian mau ngefollow aku gimana. Tidak memungkiri kalau aku juga butuh follower, bestie. Maaf agak maksa dikit.
Happy reading...
🌺🌺🌺
"Kalau suatu hari aku nggak bisa nemuin cara buat move on dari kamu, mungkin aku bakal jadi pebinor. Nggak masalah, kan?"
"Jangan tolol, Je!"
"Aku jadi tolol gara-gara kamu, Rin."
"Je, maaf." Sekali lagi kata maaf keluar dari bibir Karina.
"Rumah kamu di sebelah mana?" tanya Jeano begitu memasuki daerah yang diberitahu Karina sebelum berangkat tadi.
"Itu ada gang belok kiri, Je." Karina menunjuk kompleks perumahan elit di daerah Ketintang. Jeano menuruti.
Mobil Jeano berhenti di depan rumah tingkat dua yang cukup mewah. Sebagai seorang arsitek, ternyata Karina sudah sesukses ini.
"Rumah kamu bagus juga."
"Ini rumahnya Mas Raka. Aku disuruh tinggal di sini sama adek-adek aku. Biar nggak kosong juga rumahnya. Karena dia punya dua rumah di Surabaya."
Jeano mengangguk mengerti. Nalurinya sebagai seorang lelaki tidak merasa ciut sama sekali mendengar kisah sukses seorang Raka yang sampai punya rumah 2 di Surabaya. Meski belum punya rumah sendiri di sini, tapi Jeano sudah berencana membeli rumah juga. Bahkan tabungannya sudah ada. Tinggal mencari rumah yang cocok.
"Bang Jeano!" seru seseorang ketika membukakan gerbang dengan satu tangannya. Siapa lagi kalau bukan Keenan. Remaja itu hafal betul dengan Mobil Jeano meski hanya pernah menumpang sekali saat Jeano menolongnya tempo hari.
"Hai, Keenan," sapa balik Jeano setelah menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Bang, mampir dulu! Masa mau langsung pulang?"
"Emangnya kalau abang mampir, dibolehin sama kakak kamu?" Jeano melirik Karina yang sudah keluar dari mobil. Perempuan itu berdiri di sebelah Keenan.
"Ya boleh, dong. Masa tamu nggak disilakan masuk. Itu namanya nggak sopan. Itu yang diajarin Kak Karina dulu ke aku. Iya, kan, Kak?"
Karina kicep. Mau menolak Jeano bertamu pun percuma. Dia tidak mungkin menolak. Bisa-bisa Karina dicap sebagai tuan rumah yang tidak sopan oleh adiknya sendiri. Perempuan itu hanya bisa pasrah melihat Keenan membawa masuk Jeano ke ruang tamu.
"Bentar aku ke belakang dulu, ya."
Karina melipir ke pantry membuatkan minuman untuk Jeano. Perempuan itu masih ingat kalau Jeano suka susu coklat. Jadi, Karina membuatkan susu coklat untuknya. Karina juga mengambil potongan buah semangka di kulkas. Itu buah kesukaannya Jeano juga. Dulu Jeano pernah bilang sering pesta semangka dengan kakaknya yang nomor 2. Ah, semua tentang Jeano masih membasah di ingatan Karina. Ternyata begitu susah menghapus semua memori tentang Jeano.
KAMU SEDANG MEMBACA
What Can I Do?
Roman d'amourKALAU BACA CERITA INI, BERARTI WAJIB FOLLOW! Sudah cukup lama Jeano menjomblo. Hingga akhirnya dia bertemu Karina lagi. Dia kembali merasakan buncahan cinta lagi setelah bertemu Karina. Jeano bertekad ingin bersama Karina lagi. Sayangnya, langkah J...
