15. Rahasia yang Terungkap

642 97 30
                                        

Haiiiii, Readers!

Aku update di hari kamis, nih. Gimana perasaannya? Seneng nggak?

Kalau chapter ini banyak yang vote dan komen minimal 50, aku bakal update lagi besok. Serius!!! Mumpung aku lagi mood meski sibuknya di dunia nyata masih sama. Hehe

Makanya ayok pada vote dan komen sebanyak mungkin.

Jangan lupa follow akun wattpadku ya.

Happy reading!!!



💘💘💘













"Tadi setan apaan, sih, Kak?" tanya Keenan penasaran di tengah acara makan nasgor bersama itu.

"Ada lah pokoknya," sahut Kevan santai. Wajahnya cuek seakan tidak peduli lagi dengan kejadian membagongkan yang tidak sengaja dilihatnya tadi.

"Kak Kevan halu paling."

"Ya udah kalau nggak percaya. Lo anak kecil nggak perlu tahu juga," balas Kevan santai. Sementara Jeano dan Karina pura-pura polos. Mereka hanya terdiam.

Karina meletakkan sendoknya di atas piring yang sudah kosong. Wanita itu tadi memberikan sebagian nasinya pada Kevan karena takut tidak bisa menghabiskan.

"Kak Karina?"

"Ya?"

"Harusnya tadi nasinya dikasih ke Bang Jeano aja. Pasti capek abis workout," ucap Kevan membuat Jeano nyaris tersedak nasi.

"Bang Jeano abis workout emangnya?"

"Pilates," jawab Karina ngawur. "Maksudnya tadi Jeano sempat pilates sebelum ke sini." Baiklah, Karina terpaksa berbohong.

"Kayak Kak Karina aja hobi pilates. Cowok kan biasanya angkat beban gitu," sahut Keenan polos. Tidak paham dengan konteks workout yang sedang dibahas sekarang.

"Udah lah, Nan. Lo anak kecil kebanyakan tanya."

"Ya abisnya mereka sama-sama suka pilates. Jangan-jangan mereka jodoh."

"Keenan!" tegur Karina.

Keenan langsung nyengir kuda. "Bercanda, Kak." Keenan berdehem sebentar. "Tapi aslinya ngarep banget."

"Nan?" Kali ini Kevan yang menegur.

Keenan auto kicep, lalu melanjutkan makanannya sampai habis. Remaja itu langsung membantu Karina mencuci peralatan makan setelah semuanya selesai. Jeano sendiri diajak Kevan ngobrol di teras depan sambil nyebat.

"Bang, ada sesuatu ya diantara Abang sama Kak Karina?" tanya Kevan. "Yang tadi itu pasti bukan tanpa kesengajaan, kan?"

Kevan yang sekarang berstatus sebagai mahasiswa tingkat akhir tentu sudah cukup dewasa untuk berhipotesis tentang adegan ciuman tadi. Pemuda itu meniupkan asap rokok ke udara.

"Kakak kamu dulu mantannya abang, Kev." Jeano juga membebaskan kepulan asap rokok setelah menjawab pertanyaan itu. "Pas kamu cerita ke abang soal perjodohan Karina dan Raka gara-gara hutang budi tempo hari, jujur abang nggak bisa ikhlas. Abang belum bisa move on dari kakakmu."

"Jadi, Jeje yang dimaksud Kak Karina itu ... Bang Jeano?"

"Yes, I'm."

"Dulu Kak Karina pernah cerita punya pacar. Terus nyebutnya Jeje gitu," jelas Kevan.

Jeano terkekeh. Nama panggilan kesayangannya dulu memang Jeje, sesuai nama kecilnya. Sewaktu masih pacaran, Karina lebih suka memanggilnya Jeje. "Iya, Kev. Jeje itu abang." Jeano mengulangi jawaban sekali sekali lagi.

What Can I Do?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang