18. Bangkitnya Seekor Buaya

649 97 29
                                        

Selamat Malam!

Selamat membaca!

Jangan lupa vote dan komen. Aku ingatkan jangan lupa vote dan komen.

Tolong kasih apresiasi dengan vote dan komen karena aku nulisnya juga gak mudah. Aku harus berusaha sekuat tenaga, jiwa dan raga untuk meluangkan waktu buat nulis. Maaf agak lebay, tapi emang lagi sibuk banget di dunia nyata.

Jangan follow akun wattpadku juga.

💖💖💖









Muka lo tumben seger amat, Bang?" seru Nana ketika bertemu dengan Jeano di lift lantai 1.

"Perasaan tiap hari muka gue emang gini, deh. Muka lo aja yang jamet, Na."

Nana memencet tombol lantai 7. "Ckk, tega amat bilang muka gue jamet. Gini-gini adek lo mau sama-sama gue. Sampe beranak-pinak sama gue."

"Lebay lo!"

"Tapi serius, Je. Biasanya pulang kerja gini lo kusut dan cemberut, Je. Nah, ini meski kusut, tapi masih ada senyum-senyumnya."

"Lagi happy aja gue."

Ting!

Lift telah berhenti di lantai 7. Nana menyeret Jeano keluar dari lift juga. Padahal tujuan Jeano ke lantai 9. Nana hanya penasaran apa yang membuat Jeano bisa merasa happy seperti katanya barusan.

"Ngapain gue lo seret segala?"

"Lo ke unit gue bentar, deh. Mau gue wawancarai."

"Bilang aja mau kepo."

"Iya lah. Soalnya gue lihat Karina di basement parkiran kemarin. Pasti abis dari unit lo. Ini pasti ada hubungannya sama komuk happy lo."

Jeano mengekori Nana masuk. Di dalam ada Winta yang menyambutnya dengan senyuman.

"Eh, Abang ke sini. Tumben banget pulang kerja langsung ke sini?" ucap Winta sambil rebahan di sofa. Winta hari ini tidak masuk kerja karena anemia. Jadi, Nana menyuruhnya untuk bedrest dulu.

"Diseret Nana." Jeano memberikan kresek berisi batagor. "Buat kamu. Sebenernya nggak niat abang kasih ke kamu, tapi berhubung udah terlanjur ke sini, ya udah buat kamu aja."

"Makasih, Abang. Kebetulan banget dari tadi pengen batagor."

Nana membawa tiga gelas jus jeruk dan camilan ke ruang tengah. Dia duduk di sebelah Winta. Lantas mencium kening Winta singkat.

"Gimana masih pusing nggak?" tanya Nana ke Winta. Membuat Jeano geli sendiri mendengarnya.

"Nggak, kok. Udah mendingan banget."

"Bucin tiada henti," komentar Jeano.

"Bilang aja iri," balas Nana.

Jeano mendecih pelan, lalu meneguk jus jeruknya. "Enggak. Gue udah nggak jomblo."

"Karina udah nerima lo? Lo balikan sama Karina?" tanya Nana spontan

"Kalau udah sama-sama bilang sayang, artinya apaan?" tanya Jeano balik. Malah seperti permainan tebak kata. Ah, bukan. Ini permainan tebak perasaan.

"Serius lo balikan? Ini yang bikin komuk lo happy?"

Jeano mengangguk. "Bisa dibilang kayak gitu."

Nana menghela napas lega. "Gue seneng dengernya, Je. Demi Tuhan, lihat lo jomblo menahun bikin gue dan Winta ketar-ketir."

"Tuh, lo sama Winta aja yang lebay."

What Can I Do?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang