Halooo!!!
Aku update ya. Jangan lupa vote dan komen sebanyak mungkin.
FOLLOW AKUN WATTPAD AKU JUGA, YA. AKU JUGA BUTUH FOLLOWERS BANYAK. BIAR MAKIN SEMANGAT NULIS. HAHAHA
🍓🍓🍓
Jeano akhirnya terpaksa pulang ke Malang karena harus menghadiri acara pernikahannya Heksa. Dia balik ke Malang bersama Nana dan Winta. Mereka naik di mobil Jeano. Tentu saja Jeano yang menjadi sopirnya. Namun, Jeano enggan langsung pulang dan menginap ke rumah orang tuanya. Dia malah menginap di rumahnya Nana. Kalau langsung pulang dan menginap di rumah orang tuanya, pasti dia akan kena prank kencan buta oleh mamanya lagi. Mungkin Jeano mampir ke sana sebentar ketika mau balik ke Surabaya. Sekadar say hello saja ke papa dan mamanya.
"Je, udah bangun? Sarapan dulu," teriak Nana dari luar kamar tamu.
Setelah sholat subuh berjamaah Jeano memang tidur lagi. Jadi sopir Surabaya-Malang ternyata capek juga kalau jalannya seperti keong meski sudah lewat tol. Mau agak ngebut takutnya terjadi apa-apa pada Winta. Semenjak hamil, adik perempuannya itu sangat sensitif. Tentu Jeano tidak ingin Winta tepar di perjalanan.
"Hmm, iya. Gue baru bangun. Masih ngumpulin nyawa, nih," sahut Jeano. Mata Jeano mengerjap beberapa kali.
"Buruan nyusul, ya, Je. Entar keburu abis kalau lo nggak buruan. Winta kan makannya porsi kuli sekarang," teriak Nana lagi.
"Kamu bilang apa, Mas?" suara lain ikut menyahuti. Tentu saja itu suara teriakan Winta yang tidak terima dibilang makannya porsi kuli.
"Nggak, Sayang. Aku cuman bercanda."
Daripada semakin ribut, akhirnya Jeano beranjak keluar dari kamar tamu itu. Dibukanya pintu kamar tamu yang ditempatinya. Di luar Nana menyambutnya dengan cengiran.
"Cuci muka dulu sana, Je! Iler lo, tuh! Entar Winta ngamuk-ngamuk kalau mencium bau jigong," kata Nana. Lantas menyerahkan handuk bersih untuk Jeano. "Pake ini. Gue tahu lo nggak bawa handuk."
"Makasih, Na. Lo sarapan duluan aja sama Winta. Abis ini gue nyusul."
"Oke, Abang."
Lima menit kemudian Jeano muncul di ruang makan. Wajahnya kelihatan lebih segar setelah cuci muka. Winta sudah menyiapkan sepiring nasi goreng ayam dan segelas jus alpukat untuk Jeano.
"Ini lo yang masak, Win?" tanya Jeano.
"Ya Mas Nana lah. Aku mager mau bikin sarapan. Lagian ngidam nasgornya Mas Nana juga."
Jeano terkekeh. "Beruntung banget ya lo dapet suami kayak Nana."
"Hidup gue emang banyak lucky-nya, Bang. Nggak kayak lo banyak apesnya."
"Sayang nggak boleh ngatain abang kamu kayak gitu. Inget kamu lagi hamil." Nana mencoba menenangkan Winta yang mulai mem-bully Jeano. Dia juga mengelus perut buncit Winta.
"Nggak apa-apa, Na. Udah kebal gue dijulidin Winta."
Nana nyengir kuda. "By the way, Je. Katanya Heksa ngundang Karina juga."
Jeano membelalakkan matanya. "Hah? Kok bisa?"
"Ya bisa lah. Dia dapet nomornya Karina dari Syailendra. Ya udah akhirnya diundang juga."
"Tapi dia bakal dateng apa enggak?"
"Katanya Syailendra sih dateng. Kan Syailendra satu proyekan sama Karina. Kemarin dia ketemu Karina di tempat proyek. Terus Karina bilang ke Syailendra kalau dia bakal dateng ke resepsinya Heksa."
KAMU SEDANG MEMBACA
What Can I Do?
RomansaKALAU BACA CERITA INI, BERARTI WAJIB FOLLOW! Sudah cukup lama Jeano menjomblo. Hingga akhirnya dia bertemu Karina lagi. Dia kembali merasakan buncahan cinta lagi setelah bertemu Karina. Jeano bertekad ingin bersama Karina lagi. Sayangnya, langkah J...
