Halooo!!!
Udah hampir seminggu nggak update. Maaf ya lagi hectic semingguan ini. Sekarang pun lagi nggak enak body gara-gara kecapean abis ngurusin bocil-bocil olimpiade di FKH UGM. Minggu ini pun aku harus ngurusin bocil-bocil yang olimpiade di FK Unair.
Jangan lupa vote dan komen. Follow juga akun wattpadku.
Vote dan follow itu gampang lho. Tinggal klik doang. Kenapa sih susah banget dimintain vote dan follow. Padahal aku udah berusaha keras meluangkan waktu buat nulis ditengah tugas pekerjaan yang seabrek-abrek dan nggak ada habisnya. Tolong jangan kelamaan jadi silent reader ya, gais.
Kalau bisa banyakin komen juga. Karena aku pengen tau uneg-uneg kalian selama baca cerita ini.
Maaf kalau ngomelnya panjang. Hehe
Happy reading...
💕💕💕
"Kak, Bang? Abis ngapain?" tanya Kevan curiga karena melihat Jeano yang topless. Ditambah lagi rambut Karina begitu berantakan. Satu hal yang mencurigakan lagi, mereka berada di dalam kamar.
Mendadak Jeano dan Karina kikuk sendiri. Bodohnya lagi Karina lupa tidak mengunci pintu kamarnya. Masih mending Kevan yang menciduknya. Karina tidak bisa membayangkan bagaimana kalau Keenan yang memergoki mereka. Keenan masih tergolong di bawah umur untuk mengerti hal seperti ini. Untung Keenan ada acara perkemahan sabtu-minggu di sekolahnya. Jadi, anak remaja itu tidak ikutan menciduk Karina dan Jeano.
"Ngapain kalian?" tegas Kevan sekali lagi. Pemuda itu memasang tampang galak. Mirip seperti satpol PP yang sedang menangkap pasangan mesum di tempat remang-remang.
"Nggak ngapa-ngapain, kok," balas Karina kemudian.
Kevan bukan pemuda polos yang gampang dikubuli. Cowok 22 tahun itu sudah cukup mengerti dunia orang dewasa. Tentu saja Kevan tidak serta merta percaya begitu saja. Cowok itu memicingkan matanya. Menaruh curiga berlebih pada Karina dan Jeano. Kevan mendengkus pelan. Cowok itu lantas duduk di kursi rias Karina. Netranya menatap Karina dan Jeano bergantian. Karina nyengir kuda sambil menyisir rambut panjangnya yang berantakan dengan jemari lentiknya. Sementara Jeano sibuk mengancingkan kemejanya yang sempat terlepas.
“Kalian harus nikah secepat mungkin,” tegas Kevan.
Karina auto melotot. “Kev….”
“Kak, dulu kakak selalu ngajarin Kevan untuk jadi orang yang sanggup mempertanggungjawabkan setiap perbuatan yang dilakuin. Kakak inget, kan?”
“Tapi, Kev. Kakak sama Bang Jeano nggak ngapa-ngapain. Kami cuman….”
“Emang aku bisa percaya gitu aja? Bukti udah aku lihat dengan jelas, Kak. Udah lah Kakak sama Bang Jeano nikah aja,” putus Kevan.
Jeano berdehem singkat setelah selesai merapikan kemejanya. Berbanding terbalik dengan Karina yang kelihatan tegang, Jeano malah terkesan lebih santai setelah terciduk Kevan. Di kepalanya sudah terlintas ide-ide gila untuk melancarkan aksinya memiliki Karina kembali. Benar kata Syailendra, terkadang cowok perlu terobos portal kanan-kiri agar jalannya lebih mulus. Sebegitu gilanya seorang Jeano demi mendapatkan hati seorang Karina Adeline Haryasa. Kemampuan seorang bulol mantan buaya penangkaran untuk menjaring mangsa memang tidak bisa diremehkan. Jeano akan mengeluarkan seluruh jurus kanuragan untuk melancarkan aksinya mempersunting Karina.
“Tenang aja, Kev. Abang pasti nikahin kakak kamu. Abang ini cowok yang bertanggung jawab, kok.
Karina memelototi pacarnya. “Jeano!”
KAMU SEDANG MEMBACA
What Can I Do?
RomanceKALAU BACA CERITA INI, BERARTI WAJIB FOLLOW! Sudah cukup lama Jeano menjomblo. Hingga akhirnya dia bertemu Karina lagi. Dia kembali merasakan buncahan cinta lagi setelah bertemu Karina. Jeano bertekad ingin bersama Karina lagi. Sayangnya, langkah J...
