Halooo!!!
Seneng nggak malming dikasih update Jeje-Karin?
Maaf ya aku agak lama nggak update. Aku lagi-lagi sibuk sama kegiatan lomba karya tulis ilmiah, poster ilmiah dan olimpiade sains. Bukan aku sih yang ikut lomba, tapi aku yang jadi tutornya. Klien yang ikut lomba membludak sampai bingung bagi waktu buat nulis.
Biar aku semangat meluangkan waktu buat nulis, kasih dukungan dong. Caranya gampang tinggal vote dan komen.
Biar Jeje dan Karin makin sayang sama kalian, tolong follow akun wattpad author ya.
Happy reading...
💕💕💕
Sedari tadi Karina hanya mengikuti ke mana pun Raka berjalan. Keduanya kini sedang berada di sebuah pesta ulang tahun perusahaan Om Surya, ayahnya Raka. Pesta ini diselenggarakan di sebuah ballroom hotel bintang lima. Kebetulan Raka yang menjadi pewaris perusahaan itu. Jadilah sang ayah mengenalkan Raka ke rekan-rekan bisnisnya. Karina juga tak luput dari perhatian banyak orang. Perempuan itu juga dikenalkan sebagai calon istrinya Raka. Di mata para tamu mereka terlihat sangat serasi. Banyak pujian yang dilayangkan untuk keduanya. Mereka pantas dijuluki sebagai couple goals di acara ini.
Karina hanya bisa pasrah ketika Raka mengajaknya menyambut para tamu. Capek juga sebenarnya harus menyalami dan tersenyum di hadapan banyak tamu. Selain itu, dia juga harus memasang senyum seramah mungkin di depan para tamu. Bukan hanya kakinya yang pegal karena harus berdiri lama, tapi bibirnya juga pegal karena dituntut untuk tersenyum terus. Begini amat jadi tunangan anaknya pemilik perusahaan yang orangnya sangat menjaga image. Harus jaga sikap ini-itu. Karina terpaksa menjadi wanita berkelas seanggun mungkin di tempat ini.
"Kamu capek?" tanya Raka yang menyadari tunangannya meringis kesakitan setelah melihat Karina membungkuk dan memijat sebentar pergelangan kakinya.
"Iya, Mas. Tamunya banyak banget. Ini kapan sih kita duduknya? Kaki aku rasanya pegel banget."
"Sabar, ya. Lagian ini semua kursi masih didudukin tamu. Nanti kalau udah yang pulang, baru kita bisa duduk."
Karina ingin memprotes, tapi apalah daya. Ini bukan kesalahan Raka juga. Salahkan saja para tamu undangan yang mengajak seluruh anggota keluarga di pesta ini hingga kursi yang disediakan tidak cukup. Karina kadang berpikir 'kenapa pesta ulang tahun perusahaan saja sangat meriah dan mewah mengalahkan pesta ulang tahun presiden?' Menurut Karina ini hanya pemborosan saja.
Karina melepas napas kesal saat Raka meninggalkannya untuk mengobrol dengan rekan kerjanya. Sekarang dia berdiri sendiri di tengah ballroom. Calon mertuanya juga sibuk sendiri dengan teman-teman bisnisnya. Namun, tanpa diduga, Raka tiba-tiba mengajak Karina berdiri di tengah kerumunan teman-teman bisnisnya dan sang ayah.
"Ini tunangan anak saya. Namanya Karina," ujar papanya Raka mengenalkan Karina di depan orang banyak. Karina sendiri langsung menebar senyum ramahnya lagi.
"Wah, cantik banget ya tunangannya Raka," puji seorang wanita yang sepertinya sepantaran dengan Om Surya. Di samping wanita itu ada seorang pria. Karina bisa menebak pria itu pasti punya bisnis yang besar juga.
"Anak saya memang cocok sekali dengan Karina. Mereka sama-sama pintar dan sukses," balas Om Surya dengan nada penuh kebanggaan. Karina tersenyum kikuk. Dia merasa ini sudah berlebihan. Dia bisa sesukses ini pun karena perjodohan gila itu.
Ya, selama ini Karina menganggap perjodohan ini gila. Ayahnya dulu menjodohkannya dengan Raka karena terpaksa. Hanya keluarga Raka yang bisa menyelamatkannya dari lilitan hutang. Karina merasa dijual oleh sang ayah. Namun, mau memberontak pun tidak bisa. Sang ayah sudah tenang di sisi Tuhan. Karina tidak bisa membenci ayahnya karena bagaimana pun, dia tahu seberapa besar kasih sayang sang ayah untuk dia dan adik-adiknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
What Can I Do?
RomanceKALAU BACA CERITA INI, BERARTI WAJIB FOLLOW! Sudah cukup lama Jeano menjomblo. Hingga akhirnya dia bertemu Karina lagi. Dia kembali merasakan buncahan cinta lagi setelah bertemu Karina. Jeano bertekad ingin bersama Karina lagi. Sayangnya, langkah J...
