KALAU BACA CERITA INI, BERARTI WAJIB FOLLOW!
Sudah cukup lama Jeano menjomblo. Hingga akhirnya dia bertemu Karina lagi. Dia kembali merasakan buncahan cinta lagi setelah bertemu Karina. Jeano bertekad ingin bersama Karina lagi. Sayangnya, langkah J...
Nana menghela napas lega. "Anjrit, gue kira beneran. Bisa disate hidup-hidup lo sama Papa."
"Makanya, Nana. Kalau gue ngelakuin itu bisa dipecat jadi anak sama bokap." Jeano merangkul adik iparnya dari samping. "Menurut lo, gue harus gimana buat ngeluluhin hati Karina lagi?"
"Deketin adek-adeknya. Terutama adeknya yang bungsu itu. Iya, kan?"
Heksa bertepuk tangan girang menyetujui usulan Nana. "Cocok, nih. Deketin keluarga cewek penting buat cari tim sukses.
"Itu udah gue lakuin, bestie."
Renza mendecih pelan. "Ini mau ngopi atau mau meeting bahas cara jadi pebinor, sih?"
Mendengar gumanan Renza barusan, Syailendra terbahak-bahak. Dia tidak menyanggah argumen Renza tentang istilah pebinor. Karena nyatanya Jeano sedang berada pada tahap belajar jadi pebinor.
Heksa menoyor kepala Syailendra. Heran sendiri melihat sohibnya itu tertawa seperti kesurupan jangkrik genggong. "Lapo koen malah ngguyu, Su? (Ngapain lo malah ketawa, Njing?"
"Pebinor kata Renza, anjir," sahut Syailendra masih tergelak. Sementara yang lainnya heran. Apanya yang lucu dari kata pebinor?
"Orang kalau kebanyakan makan semen dioplos gamping ya kayak gini, nih. Rada miring si Syailendra," komentar Heksa.
"Dia kebanyakan ngunyah beton kali, Sa. Makanya nggak tahu kalau sekarang banyak pebinor di luaran sana." Renza menimpali.
"Kalian bisa diem nggak, sih? Daripada ngeributin pebinor, mending kasih tips deketin Karina lagi. Secara sekarang saingan gue berat, bestie."