Haloooo!!!
Ini mumpung lagi gabut, akhirnya aku memutuskan untuk update. Tumben banget aku gabut. Hehe...
Wajib vote dan komen. Wajib follow akun wattpadku.
AWAS KALO GAK VOTE, KOMEN DAN FOLLOW. HAHAHAHA
❣️❣️❣️
"Halo, Rin. Aku di depan. Bukain pintunya, ya!"
Siapa yang tidak panik ketika Raka datang di saat Karina sedang bersama Jeano. Karina jadi linglung sejenak. Jantungnya mendadak berdegup kencang bukan karena baper dengan Jeano lagi, melainkan karena kedatangan Raka. Jeano sendiri malah pasang tampang stay cool. Seolah Raka bukanlah ancaman untuknya. Kalau pun Raka memergokinya, Jeano akan bilang jujur saja ke Raka kalau sebenarnya Karina sudah menikah dengannya. Jeano sudah bertekad akan melindungi Karina apabila sesuatu terjadi akibat pernikahan siri itu. Jeano akan menjadi pria yang bertanggung jawab.
"Je, kamu ngumpet di mana gitu!" titah Karina. Kepanikannya bertambah.
"Hah, ngumpet di mana?"
"Terserah. Pokoknya jangan sampai Mas Raka tahu."
"Biarin aja lah dia tahu. Kan…."
Karina mendorong tubuh Jeano dari belakang. "Nggak usah banyak ngebacot. Kamu mending ngumpet aja."
Karina terus mendorong tubuh Jeano lebih kencang. Sementara Jeano sendiri pasrah dengan apa yang dilakukan Karina. Tubuh kekar itu dimasukkan ke dalam kamar mandi di dekat pantry. Karina menguncinya dari luar agar Jeano tidak bisa keluar seenak jidatnya. Perempuan itu tahu Jeano bisa saja spontan melakukan sesuatu kalau sudah berhadapan dengan orang yang kurang disukainya. Jeano juga bisa melakukan apa pun jika melihat orang yang disayanginya dalam bahaya. Contoh sederhananya dulu sewaktu kuliah Jeano pernah memberikan bogeman pada Nana saat mengira Nana meniduri Winta. Sekarang pun, Jeano bisa saja melakukan itu pada Raka kalau tersulut emosi.
"Rin, kok dikunci?" protes Jeano sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.
"Udah aku bilang kamu nurut aja. Pintunya jangan digedor! Kamu harus diem! Jangan bikin keributan!" Karina memperingatkan degan tegas dan ngegas.
"Tapi, Rin…."
"Diem aku bilang, Je!" potong Karina cepat. Jeano hanya bisa pasrah.
Jeano akhirnya terduduk di kloset yang tertutup. Dia mengusap wajahnya kasar sambil menghela napas pasrah. Kenapa sulit sekali terlepas dari jerat seorang Raka. Jeano serasa frustasi saja sekarang. Otaknya berpikir macam-macam tentang apa yang akan dilakukan Raka pada istrinya. Kalau sampai Raka menyentuh Karina barang sedikit pun, Jeano bersumpah tidak akan membiarkan pria itu kembali dengan wajah utuh. Terlintas di pikiran Jeano untuk mematahkan rahang Raka.
Sementara di luar kamar mandi, Karina berjalan cepat menuju pintu ruang tamu. Setelah pintu terbuka, sosok jangkung itu berada persis di depan pintu sambil membawa paper bag besar dan lebar. Karina bisa menyimpulkan bahwa Raka baru selesai lemburan di kantor. Pasalnya pria itu masih mengenakan kemeja kerja yang bagian lengan panjangnya dilipat sebatas siku. Rambutnya sedikit berantakan. Wajahnya juga terlihat sedikit lesu dengan kantung mata yang sedikit menghitam. Menampakkan bahwa tunangannya itu sedang dalam kondisi kelalahan usai bekerja keras. Karina pun menyambut Raka dengan senyuman lebar untuk menyembunyikan kepanikannya. Raka tidak membalas senyuman itu. Raka hanya menatap Karina datar. Agak bingung juga kenapa Karina terlihat aneh.
"Hai, Mas!"
"Hai, Rin. Itu mobilnya siapa di depan gerbang? Ada tamu?" tanya Raka penasaran karena mobilnya berada tepat di depan gerbang, membuat Raka mencari lahan parkir yang agak jauh dari rumah. Sontak saja Karina jadi bingung.
KAMU SEDANG MEMBACA
What Can I Do?
RomansKALAU BACA CERITA INI, BERARTI WAJIB FOLLOW! Sudah cukup lama Jeano menjomblo. Hingga akhirnya dia bertemu Karina lagi. Dia kembali merasakan buncahan cinta lagi setelah bertemu Karina. Jeano bertekad ingin bersama Karina lagi. Sayangnya, langkah J...
