Hellooo!!!
Aku akhirnya update lagi. Jangan lupa vote dan comment ya!
Jangan lupa follow akun wattpad aku.
Happy reading...
🍎🍎🍎
Kemarahan Pak Damar mendadak hilang. Sebagai seorang pria yang empat kali melihat istrinya hamil, serta tiga kali melihat menantu dan anak perempuannya hamil, hati beliau menjadi luluh. Siapa yang tidak luluh melihat Karina yang tadi mengeluh perutnya kaku. Pak Damar jadi khawatir sendiri dengan keselamatan Karina dan calon cucunya. Beliau mondar-mandir tak jelas di ruang tengah apartemen Jeano. Sementara Jeano menemani Karina di dalam kamar. Wanita itu sedang diperiksa oleh Nana.
Bu Julia sebenarnya juga khawatir. Namun, beliau berusaha bersikap tenang Dan sewajarnya. Sesekali kedua orang tua Jeano itu mengintip ke dalam kamar melalui pintu yang terbuka lebar. Keduanya tentu sangat berempati melihat wajah Karina yang sedikit pucat dan dipenuhi titik-titik keringat. Pikiran mereka jadi tidak karuan. Nyawa Karina dan calon cucu mereka sangatlah penting. Mereka sudah tahu apa yang terjadi dengan Karina dan Jeano. Termasuk alasan mereka menikah siri karena kehadiran Raka.
"Pa, Ma, masuk aja nggak apa-apa. Udah selesai diperiksa Nana."
Pak Damar dan Bu Julia pun berjalan cepat masuk ke dalam. Mereka tidak berkomentar sama sekali melihat Jeano menghapus peluh Karina di pelipis dengan tissue.
"Gimana Karina, Nathan?" tanya Bu Julia.
"Karina kecapean dan stress, Ma. Dia nggak apa-apa, kok. Tapi kalau Papa dan Mama masih khawatir, biar Nana dan Jeano anterin Karina ke dokter kandungan," timpal Nana seraya melepas stetoskopnya. "Karina ternyata seharian ini baru makan sekali. Takutnya asam lambungnya naik, Ma."
"Nggak usah, Na. Udah mendingan, kok. Perut udah nggak kaku lagi."
"Gue ambilin makanan, ya. Lo harus makan, Rin."
Bu Julia langsung berceloteh. "Kamu nggak punya makanan, Je?"
"Udah abis, Ma. Orang aku beli makanan di luar. Kalau bahan makanan ada. Disediain Winta dan Nana."
Bu Julia menghela napas sejenak. Sadar betul bahwa anak laki-lakinya malas masak. Jeano juga tidak seahli Nana dalam hal memasak. Di Malang saja Jeano jarang membantu mamanya memasak. Jeano hanya ahli memasak mie instan dan air. Kemampuan itu sudah bukan rahasia lagi.
"Nana masakin aja, Ma," tawar Nana kemudian. Seolah bisa menebak apa yang sedang dipikirkan Bu Julia.
Bu Julia menggeleng cepat. "Jangan, Nathan. Kamu abis pulang dinas pasti capek. Ingat setelah ini kamu harus bantuin Winta momong Avi. Biar Mama aja yang masakin Karina." "Kamu pulang aja ke unit kamu sendiri. Segera istirahat, Nathan! Biar nanti malem kuat jagain Avi." Pak Damar ikut berkicau.
"Oh, ya sudah kalau begitu. Saya pamit ke lantai 7 dulu ya, Ma, Pa. Kalau ada apa-apa, nanti langsung hubungi saya aja."
"Iya, Nathan. Makasih, ya. Maaf ya udah dibikin repot sama kakak ipar kamu yang bandel dan sering malu-maluin keluarga ini."
Nana terkekeh pelan. "Nggak masalah, Ma. Lagian Jeano dan Karina udah lama juga sahabatan sama saya. Udah jadi kewajiban saya untuk bantuin sahabat sekaligus saudara sendiri."
Bu Julia auto terenyuh. "Mama merasa kamu yang seharusnya jadi anak kandung mama. Bukan babu kucing yang kelakuannya mirip Sholikin ini," sindir Bu Julia. Masih ingat Sholikin, kan? Itu lho kucing oranye milik Jeano yang barbar dan suka menghamili kucing-kucing betina sekomplek perumahan. "Kamu itu udah ganteng, rajin, pinter masak, kalem, dokter lagi. Benar-benar menantu laki-laki kesayangan mama," lanjut Bu Julia memuji Nana. Sedari dulu wanita paruh baya itu memang hobi membanding-bandingkan Jeano dengan Nana. Untung keduanya tidak pernah ambil pusing saat dibanding-bandingkan. Mereka sepenuhnya menyadari bahwa itulah watak orang usianya semakin bertambah.
KAMU SEDANG MEMBACA
What Can I Do?
RomanceKALAU BACA CERITA INI, BERARTI WAJIB FOLLOW! Sudah cukup lama Jeano menjomblo. Hingga akhirnya dia bertemu Karina lagi. Dia kembali merasakan buncahan cinta lagi setelah bertemu Karina. Jeano bertekad ingin bersama Karina lagi. Sayangnya, langkah J...
