[CHAPTER 29] One Day With Andri

97 91 35
                                        

“Tidak bisakah kita tetap bersama seperti saat ini?”

*****

    "Selamat, Andri Antonio Dewantara. Karena lo berhasil, gue harap lo nggak telat buat besok. Asal lo tahu aja, gue cuma nepatin janji gue. Jadi jangan ke-pede-an!" Seorang gadis mempraktikkan gaya bicara temannya.

    Andri, yang memperhatikan gadis itu, menautkan alis bingung. "Lo ngomong apaan, sih, Ra?" heran Andri.

    "Itu pesan teman gue," jelas Tiara pendek. "Kalian belum baikan juga?"

    Terdiam. Andri mencerna baik-baik isi pesan yang dilaporkan Tiara barusan. "Gue cuma nepatin janji," gumamnya mengulang.

    "Dri, Ayana punya janji apa ke lo? Tapi jangan telat buat besok itu, apa maksudnya? Besok kan hari Minggu," tutur Tiara. "Penting, ya?"

    Andri mengangguk seraya mengembangkan senyum lebar. "Banget!"

    "Kalau gue boleh tahu—"

    "Dimana?" Andri bertanya kemudian.

    "Hah?"

    "Ayana! Dimana?" gemas Andri pada Tiara yang mendadak tidak connect. Ke mana perginya radar Ayana-Andri shipper di waktu segenting ini?

    "Oh, Ayana? Tadi sih bilangnya mau ke toilet," ujar Tiara memberitahu.

    Secepat kilat Andri berlari keluar kelas. Mengkonfirmasi kebenaran isi pesannya. Mengantisipasi bila Tiara mengerjainya atau tidak.

    "Andri?! Jangan bilang lo mau ke toilet cewek!" teriak Tiara memperingatkan. Tidak menghiraukan sekelilingnya yang terganggu oleh teriakan menggelegarnya. "Eh, Gas menurut lo mereka udah baikan belum? Kalau nggak, kenapa Ayana—"

    "Bagas! Lo mau ke mana?" Lagi. Tiara berteriak ketika orang yang diajaknya bicara justru melarikan diri. "Ish! Gue malah ditinggalin lagi! Dasar nyebelin!" maki Tiara menggerutu.

*****

    Hari yang ditunggu pun tiba. Dia tak lelah mengulas senyum bahagianya, benar-benar tidak dapat ia sembunyikan. "Oke, Andri ini kesempatan sekali seumur hidup, jangan sampai lo bikin kesalahan sekecil apapun," nasihat Andri terhadap dirinya sendiri.

    Kakinya tidak bisa diam, bergerak ke sana kemari. Tangannya juga agak bergetar kecil. Keringat di pelipisnya terlihat. "Ah, kok gue jadi gugup gini, sih?!" Sampai suara bernada bertanya yang tertuju padanya menghentikan pergerakan kaki Andri.

    "Siapa?"

    Andri berbalik. Mendapati seorang gadis bermimik muka datar. Bukan dia, gadis yang ditunggunya.

    "Siapa?" Gadis itu bertanya kembali lantaran lawan bicaranya tak kunjung menjawab.

    "Gue?" Andri menunjuk dirinya sendiri.

    Si gadis menghela napas. "Nyari siapa?" perjelasnya.

    "Oh, itu … Ayana-nya ada?" tanya Andri.

    Tak ada jawaban dari si gadis. Hanya dengusan kecil yang di dapati Andri. Bukan jawaban “ada” atau “nggak ada”. Belum juga Andri mengulang pertanyaan yang sama, si gadis sudah melenglang pergi. "Sabar, Dri. Yang sabar dibalas cintanya sama si doi," racaunya.

    "Siapa, ya?"

    Andri menoleh. Terkejut menemukan gadis tak sopan tadi di depannya. Ini matanya yang eror atau mereka memang ada dua? pikir Andri.

FLASHBACK [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang