"Akan datang harinya, dimana dia mengucap kata pamit."
*****
"Dri," sebut seorang gadis.
Si pemilik nama membalikkan badan ke arah suara. "Eh, ada Ratu Ceroboh-nya Pangeran," sahut Andri tersenyum menggoda. Mengenyahkan ingatan tentang kejadian di atap tempo hari lalu. Setidaknya ia membutuhkan pecahan lain untuk menyatukan semua teka-teki masa lalu Ayana. Yang tak diketahui siapapun. Termasuk Tiara, teman sebangkunya sendiri.
"Ada yang mau gue omongin," ujar Ayana tak menghiraukan panggilan Andri terhadap dirinya.
"Sama gue?" tanya Andri menunjuk dirinya sendiri.
Ayana mengangguk cepat. "Iya."
"Oh, ya udah, bilang aja."
"Nggak di sini," sahut Ayana.
Dahi Andri ditautkan. "Oke, Gas gue pergi dulu. Kasihan Ratu-nya gue nungguin," kekeh Andri.
Ayana berjalan memimpin, di belakangnya Andri mengekor.
"Tumben mau ngomong berdua aja," mulai Andri. Badannya disandarkan di dinding koridor kelas yang sepi. Wajar saja bila sepi, sekarang waktunya mengisi perut agar dapat melanjutkan kegiatan pembelajaran hari ini.
"Gue serius, Dri," balas Ayana kesal karena sikap Andri yang tak lepas dari kata bercanda.
"Iya, sok atuh mau bicara apa sama Akang Andri?"
Ayana memutar bola mata. Mencoba tidak terpancing dengan setiap kata demi kata yang Andri ucapkan. "Tapi lo harus janji nggak ngasih tahu siapapun!"
"Iya, gue janji."
Ayana menarik napas. "Gini, Tiara dapat sticky notes dan dia balas lagi sticky notes dari si cowok," ceritanya memulai.
"Loh? Apa yang salah? Lo iri? Pengen gue kasih sticky notes juga?" serobot Andri memotong cerita Ayana.
Ayana mendecih sebal. "Andri! Please, sekali aja, lo bisa serius, nggak?"
"Cie ... yang ngambek. Cie ... cie ...," ejek Andri.
Ayana yang direspon seperti itu menatap tak suka kepada Andri. Ditatap begitu, Andri bergeming, memilih mendengarkan kelanjutan cerita Ayana. Menutup mulut rapat-rapat.
"Emang sih, yang mulai itu Tiara bukan si cowok. Ya, awalnya Tiara cuma coba peruntungan dia aja. Pertama gak dibalas. Kedua juga masih sama. Pas ketiga kalinya, Tiara dapat balasan dari si cowok," lanjut Ayana serius. Berharap Andri memahaminya.
Andri bertanya, "Terus?"
"Terus mereka sering balas pakai sticky notes selama berhari-hari. Sampai gak tahu kapan mereka tukeran nomor handphone. Tiara bilang, sih, baru se-mingguan."
"Ada lagi? Gue rasa gak ada yang aneh," balas Andri mulai serius.
"Iya, tapi setahu gue, Tiara tuh gak pernah sekalipun tulis inisial nama ataupun kelas di sticky notes itu," tambah Ayana menekankan.
"Maksud lo, si cowok—"
"Iya, itu juga yang jadi pertanyaan ganjil buat gue. Kenapa si cowok bisa tahu kalau Tiara yang kirim sticky notes itu ke dia? Sedangkan, Tiara sama sekali nggak pernah tulis apa-apa selain pesan singkat," ujar Ayana mempertanyakan hal ganjil di kepalanya. "Gimana gue gak khawatir coba?"
KAMU SEDANG MEMBACA
FLASHBACK [COMPLETED]
Novela Juvenil[FOLLOW SEBELUM MEMBACA] Bertemu dengan si pembawa hadiah menuntunnya masuk kembali ke lingkaran tak berujung. Yang menariknya ke dalam perasaan bernamakan penyesalan. Entah sampai kapan dia harus terjebak bersama kenangan masa lalunya. Yang membawa...
![FLASHBACK [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/306623466-64-k17706.jpg)