2. Failure

146 7 0
                                        

Tangis Alliona belum berhenti sejak pergi dari aera lapangan tadi. Rasa pedih begitu menjarah di dadanya ketika mengetahui ayahnya juga kemungkinan tewas dan sudah dievakuasi prajurit.

Tubuhnya kembali melemas saat Alliona memandangi rumahnya yang sudah runtuh sebagian. Hangus dengan asap hitam yang masih membekas disana. Tak tersisa satu pun barang yang dapat diselamatkan. Alliona masih bertanya-tanya dalam hati. Tentang apa yang terjadi dan apa penyebab dari kebakaran besar di desanya itu.

Suasana kacau di desa kini mulai terkendali sejak kedatangan para prajurit dari istana. Dari percakapan yang samar-samar terdengar, penduduk yang terkena dampak kebakaran akan di evakuasi ke desa tetangga yang letaknya tidak terlalu jauh dari desa Sarina.

Drep..

Alliona bergegas mencari tempat bersembunyi begitu mendengar langkah beberapa Prajurit yang turun dari kuda mereka. Dua orang prajurit terlihat sedang mengawasi keadaan di beberapa rumah yang hangus.

Setahu Alliona, para Prajurit Kerajaan itu selalu kasar pada penduduk desa. Mereka selalu memerintah orang-orang agar bergerak cepat. Itulah yang menjadi alasan Alliona tidak mau Prajurit itu sampai mengetahui keberadaannya disini. Alliona tidak ingin pergi kemana pun. Ia ingin terus tinggal atau mencari tempat persembunyian yang aman untuknya bertahan hidup.

Salah satu prajurit tiba-tiba mendekat ke tempat persembunyian Alliona.

Singg...

Alliona membelalak kaget melihat prajurit itu mengeluarkan pedang dari saku pinggangnya. Alliona membekap mulutnya dengan tangan. Berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sedikit pun saat prajurit itu bergerak semakin dekat.

"Senov!"

Pergerakan Prajurit itu terhenti dan sontak menoleh begitu prajurit lain memanggilnya.

"Bantu aku! ada dua orang wanita keras kepala tidak mau dibawa pergi!"

Prajurit bernama Senov itu mendecak kasar lalu berbalik. "Payah kau! menangani wanita saja tidak bisa!" gerutunya.

Alliona menghembuskan napas lega begitu Prajurit itu pergi. Setelah memastikan situasi yang aman, Alliona keluar dari tempat persembunyiannya dengan hati-hati.

Alliona lari sekencang mungkin kembali ke gubuk kecil dengan pandangannya yang telah buram oleh air mata. Kini, hanya hutan satu-satunya yang mampu Alliona tuju untuk bersembunyi dari para Prajurit itu.

Alliona duduk di atas lantai tanah sambil memeluk kedua lutut. Tiba-tiba bayangan kematian ibunya kembali melintas di kepala Alliona.

Air mata yang tadinya menggenang di pelupuk matanya kini kembali mengalir membasahi pipi. Alliona kembali terisak di tengah kesunyian. Sebuah tragedi kebakaran yang telah menewaskan kedua orang tuanya, rumahnya, semua yang Alliona miliki, telah lenyap begitu saja tanpa tahu sedikit pun apa penyebabnya.

Alliona membaringkan tubuhnya miring diatas sehelai kain tipis.

"Ibu.. ayah.." lirik Alliona. Ia mengusap air mata dengan punggung tangannya.

Tak lama kemudian kedua kelopak mata Alliona pun perlahan menutup. Entahlah, rasa kantuk datang secara tiba-tiba hingga tak dapat ditahan lagi.

***

Tiga hari kemudian...

Alliona berjalan dengan lesu memasuki rumahnya yang sebagian sudah runtuh di bagian depannya. Namun di bagian belakang, bangunan itu masih berdiri walau Alliona tidak tahu akan ambruk juga atau tidak.

Never Forget YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang