32. Always Be There

43 2 0
                                        

Siang hari itu, Alliona yang bosan berencana untuk pergi ke desa Sarina untuk melihat rumahnya setelah satu tahun ia tidak pernah lagi berkunjung. Alliona tidak mengharapkan apa-apa dari tujuannya pergi kerumahnya dulu. Toh setelah tragedi kebakaran 17 tahun lalu, semuanya telah hancur tak tersisa, begitu un seluruh rumah di desa.

Setibanya disana, benar saja. Alliona sudah tak lagi melihat puncak atap rumahnya dari kejauhan. Dengan penasaran ia mempercepat langkahnya. Namun kenyataanya, rumah bekas kebakaran itu telah benar-benar ambruk dan rata dengan tanah.

Bahkan seluruh perumahan di desa itu serupa, dan membuat pemandangan yang cukup berbeda di mata Alliona. Alliona ingat terakhir kali kondisi rumahnya yang masih berdiri. Dan sekarang hanya tersisa puing-puing.

Alliona berdiri di tanah kosong bagian samping rumahnya. Tanaman rambat dan semak-semak belukar sudah menutupi hampir sebagian rumah milik tetangganya yang sudah kosong tak berpenghuni. Seketika gadis itu meneteskan air matanya.

Beberapa lama kemudian, Alliona memutuskan kembali ke hutan menuju bukit tempat biasa ia dan Hero menghabiskan waktu. Gadis itu duduk diatas diatas rerumputan dengan wajah muram. Terlihat puncak menara istana Kerajaan Alvonlea, serta atap gedung-gedung megah dari atas bukit. Alliona ingin sekali kesana, melihat gedung-gedung itu dan mengunjungi istana Hero.

Tak lama setelahnya Hero datang membawa Ofree. "Alliona..?"

Sontak Alliona menoleh dan terkejut Hero menggedong kucing liar peliharaannya itu kesini. "Ofree?"

"Ya, kau meninggalkannya sendirian kan?"

"I-iya, tapi dia sedang tertidur di kasurku tadi," jawab Alliona heran.

"Tapi aku menemukannya sedang terperangkap oleh alat jebakan. Untung saja aku cepat menyelamatkannya. Jika tidak dia bisa terluka karena berontak,"

"Sungguh?! Ofree terperangkap dimana?" tanya Alliona kaget. Hero pun menyerahkan kucing Lynx itu pada Alliona.

"Di sekitar rumah kayu. Entah siapa yang memasang jebakan itu." Hero pun duduk di sebelah Alliona.

"Astaga, kau tidak apa-apa Ofree?" ucap Alliona khawatir.

"Ofree baik-baik saja," ujar Hero. "Lagi pula sedang apa kau berada disini sendiri? Aku juga mencarimu tadi."

Alliona terdiam. Seketika Ofree lepas dari tangannya dan berlarian di sekitar mereka. "Ah!"

Hero menelengkan kepalanya, memperhatikan wajah Alliona dari samping. "Apa kau baru saja menangis?"

Alliona spontan menggeleng. "Tidak."

"Aku tahu! Matamu merah. Ceritakan padaku apa yang terjadi,"

"Tidak. Tidak ada yang terjadi padaku. Aku baik-baik saja," balas Alliona tanpa menatap Hero. Ia membuat raut wajah sedatar mungkin, menyembunyikan kesedihannya.

Hero pun menghembuskan nafasnya keras. "Kalau begitu kau curang." Alliona sontak menoleh kearahnya.

"Kita biasa bercerita dan aku selalu menceritakan keluh kesahku denganmu. Dan hari ini kau tidak mau menceritakan apapun?"

Mendengar itu Alliona tersenyum singkat. Ia memandang kedepan. Angin berhembus menerpa rambut panjangnya yang terurai.
"Aku hanya merindukan keluargaku. Itu saja," ujarnya pelan.

Never Forget YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang