'Waspadailah perasaan buruk itu..'
"Tapi sekarang, kau malah mengabaikannya?"
-•-•-•-
Luna yang sedang berbincang dengan Silva tiba-tiba mendapati Alliona yang sedang berlari keluar dari perkemahan mereka, menuju kearah laut. Dengan segera Luna beranjak.
"Kau mau kemana?" tanya Silva
"Menyusul Alliona. Tunggu sebentarr," jawabnya lalu pergi dari hadapan Silva.
Luna berlari mengejar Alliona yang nampak panik. "Alliona... Tunggu! Kau mau kemana?"
Alliona tak menghiraukan panggilan Luna. Gadis itu terus berlari menerjang semak-semak di hutan, sampai akhirnya mereka berdua tiba pesisir laut.
Setelah menginjak bibir laut, Alliona menghentikan langkahnya. Pandangannya tertuju menatap air laut yang beriringan dengan gulungan ombak. Beberapa detik kemudian, Alliona kembali melangkahkan kakinya, semakin dekat ke perairan.
"Alliona, berhenti!!" seru Luna kencang. Perempuan itu berlari menghampiri Alliona dan menarik lengan gadis itu. "Apa yang sedang kau lakukan disini?"
"Kalung rubyku... hilang saat kejadian kemarin. Aku yakin, kalung itu tenggelam saat kami terjatuh." Kedua mata Alliona mulai berkaca-kaca. Raut wajahnya gusar.
"Lantas, kau ingin menyelam ke dasar untuk mencarinya?"
Alliona terdiam beberapa saat. "Aku harus mencarinya."
Luna sontak melebarkan mata. "Yang benar saja, Alliona. Kau tidak mungkin bisa menemukan kalung itu disana. Lagi pula itu berbahaya, belum tentu kau bisa menemukannya dalam waktu cepat."
"Tapi kalung itu pemberian dari Hero. Aku tidak bisa berkomunikasi lagi dengannya jika kalung itu hilang, Luna." Alliona mengelak dengan raut frustasi.
"Lihatlah Alliona, langit hampir gelap dan air laut sedang pasang. Jika kau memaksakan diri untuk mencarinya, itu sama saja kau menyerahkan nyawamu agar tergulung ombak besar," peringat Luna. Ia meraih pundak Alliona dan merangkulnya--berusaha menenangkan gadis itu. "Aku mohon jangan berpikir sesuatu yang bisa membahayakan dirimu."
Alliona menunduk. Perkataan Luna memang benar. Ia mengakui rencana bodohnya barusan untuk menyelam ke dasar laut. Namun hatinya tak tenang. Alliona menyesal tidak bisa menjaga kalung itu dengan baik.
"Lagipula, masih ada cara untuk tetap bisa berkomunikasi dengan Pangeran Hero."
Alliona menoleh. "Sungguh?"
Luna tersenyum sambil mengangguk. "Dengan sihir cermin. Kau bisa melihat bagaimana keadaan Pangeran Hero lewat sihir cermin dari objek apapun, misalnya batu, cermin atau air. Tapi untuk sihir ini, kau hanya bisa melihat keadaannya saja. Tidak bisa berkomunikasi."
Mendengar itu seulas senyum Alliona terbit. "Tidak apa. Hanya melihatnya, itu sudah lebih dari cukup."
Luna pun mengangguk. Seketika ia mengerutkan dahi, "tapi bukannya pangeran Hero sedang bermeditasi ya disana?"
Alliona mengangguk. "Tapi... Aku ingin..."
"Alliona!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Forget You
Fantasy[FANTASY-ROMANCE] "Kenapa rasanya sesakit ini?!" Hidup menjadi gadis seperti Alliona Wyne Caitlin? Tragedi kebakaran yang menewaskan kedua orang tuanya membuat Alliona harus tinggal seorang diri sejak usianya 10 tahun. Gadis malang itu juga pernah...
