Hero yang sedang melakukan meditasi di hari keempat itu tiba-tiba membuka kedua matanya begitu mendengar suara dari dalam gua. Dalam posisi duduk bersila, ia mengedarkan pandangannya ke langit-langit dan seisi gua, mencari dari mana asal suara itu. Semakin intens Hero mendengarkannya, semakin jelas bahwa itu suara raungan. Gawatnya, suara itu semakin dekat dan menuju kearahnya.
Hero menatap waspada kedepan. Ia terperanjat kaget melihat sepasang mata merah menyala dalam kegelapan menatapnya. Hero yakin bahwa itu adalah jaguar atau semacamnya. Sontak Hero beringsut mundur saat hewan besar itu mendekatinya, mengendus wajah Hero sebelum akhirnya meraung keras.
Hewan yang mirip dengan jaguar itu terlihat berbeda. Kulitnya berwarna ungu dengan pola garis berwarna hitam dan putih di bagian tubuhnya. Walaupun terlihat indah, Hero tetap tidak melupakan bahwa mahkluk itu adalah hewas buas.
"Jiraco, hentikan!!"
Seruan menggema dari ujung gua membuat kucing besar itu terhenti dan melangkah mundur. Beberapa saat muncul seorang laki-laki. Laki-laki itu mempunyai warna kuit yang kekuningan, berambut abu dengan iris mata berwarna biru disertai flek keemasan disekitar iris matanya. Awalnya Hero menduga laki-laki itu berasal dari suku pedalaman wilayah Slytherin.
"Dia hanya ingin memulihkan tubuhnya, Jiraco." Laki-laki itu lalu menatap Hero dengan sorot terangnya, memastikan. "Benarkan?"
Hero mengangguk pelan. "Mahkluk apa itu?"
Laki-laki itu terkekeh pelan. "Dia hewan peliharaanku. Sebenarnya dia adalah jaguar hitam. Tapi... ayahku mengubah warna kulitnya jadi seperti ini."
Jaguar itu menggeram halus lalu berdiri disamping laki-laki tadi.
"Maaf. Dia mengira kau penyusup. Beruntung Jiraco tidak menyambut kedatanganmu saat itu. Karena biasanya, dia akan mengoyak siapapun yang mempunyai maksud buruk di gua ini. Gua ini sudah lama tak disinggahi orang luar selain kaum kami. Kaum Elf bintang."
Hero menelan ludah. "Jadi... kau sudah tahu keberadaanku disini sejak awal?"
Laki-laki itu mengangguk sambil tersenyum. "Setiap kali ada seseorang yang menginjakkan kaki gua ini pun aku bisa merasakannya. Tapi kami membiarkannya, kecuali jika seseorang itu punya maksud jahat."
"Tadi kau bilang... kau adalah kaum Elf bintang?"
Laki-laki itu mengangguk lagi, kali ini tersenyum lebar. "Namaku Bitrace. Aku ditugaskan untuk menjaga gua suci Slytherin. Boleh aku tahu siapa kau? dari mana kau berasal?"
"Aku Hero. Dari Kerajaan Alvonlea."
Laki-laki bernama Bitrace itu sedikit terkejut. "Alvonlea? Jauh sekali. Apa yang terjadi padamu hingga kau bisa berada disini?"
Hero terdiam sebentar. Lalu menceritakan apa yang terjadi pada dirinya, tentang perjalanannya bisa sampai ke gua itu dan memberitahu bahwa semua itu berkaitan dengan Alexus.
"Astaga. Jadi... Hampir seluruh wilayah habis dibantai?" Bitrace membulatkan matanya tidak percaya.
"Aku pikir... kau sudah tahu tentang itu," ucap Hero pelan.
"Selama dua tahun terakhir, aku tidak pernah keluar dari hutan ini dan berpisah dengan keluargaku. Aku ditugaskan pemimpin kaum Elf Bintang menjaga hutan dan gua Slytherin. Mungkin kaumku di Evereskaar sudah mengetahui kabar pembantaian itu. Tapi aku tidak tahu, bagaimana kondisi Evereskaar saat ini."
"Evereskar? dimana wilayah itu?" tanya Hero penasaran.
"Evereskaar adalah wilayah kami, kaum Elf bintang. Berada jauh diperbukitan kota Elvador. Tempat kami sebenarnya adalah klan bintang, tapi kami bermigrasi ke daerah terpencil di bumi untuk menyatu dengan alam dan kaum yang sejenis dengan kami," terang Bitrace.
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Forget You
Fantasy[FANTASY-ROMANCE] "Kenapa rasanya sesakit ini?!" Hidup menjadi gadis seperti Alliona Wyne Caitlin? Tragedi kebakaran yang menewaskan kedua orang tuanya membuat Alliona harus tinggal seorang diri sejak usianya 10 tahun. Gadis malang itu juga pernah...
