47. Heart Attack

32 1 0
                                        


"Alzhery...?"

Suara perempuan yang datang dari arah belakang membuat Al menoleh. Alliona datang menghampirinya yang sedang berdiri di balkon.

"Apa aku mengganggumu?"
Alzhery menggeleng sambil tersenyum tipis.

Perempuan itu pun berdiri sejajar dengan Alzhery seraya melihat pemandangan luar kastil yang sedikit berbeda di Alvonlea sekarang. Dulu, disekitar area istana Alvonlea dikelilingi hutan, rumah penduduk dan pasar yang ramai. Kini yang mereka lihat dari atas balkon hanyalah hutan lebat. Wilayah pasar dan desa Sarina sudah tinggal puing-puing.

Semenjak Raja Alexus terus menyerang wilayah Alvonlea, hampir penduduk Sarina memilih meninggalkan tempat tinggal mereka dan menetap di desa Naisar.  Tapi kabarnya, para pengawal kerajaan bilang kalau beberapa anggota keluarga mulai kembali ke desa Sarina beberapa minggu kemarin. 

Setelah Alzhery pulih seminggu lalu, Alliona juga langsung mengajaknya ke desa Sarina. Melihat rumah masa kecil mereka yang hancur dan terbengkalai, mengenang bersama masa lalu mereka yang cukup kelam.

"Kau tahu? Akhir-akhir ini aku sering merasa deja vu." Alliona membuka percakapan.

"Benarkah?"

Alliona mengangguk. "Aku sedang berada di balkon istana, dan Raja Lionel datang menghampiriku. Kami mengobrol dalam waktu yang cukup lama untuk pertama kalinya. Dan setelah dipikir-pikir... sosok Raja Lionel memang persis sepertimu."

"Kau beruntung sudah menjadi bagian dari keluarga mereka." Alzhery terdiam beberapa saat. "Aku pun mengagumi Raja Lionel."

"Sungguh?" Alliona menoleh.

Alzhery mengangguk. Mereka berdua tersenyum saat mengenang masa-masa ketika tinggal di istana Avoenus.

"Aku pikir sejak perang itu, kau sudah benar-benar meninggalkanku Al." Raut wajah Alliona berubah datar saat mengatakan itu. "Aku tidak bisa membayangkan jika aku harus hidup tanpa kau, dan orang-orang yang kusayangi."

Alzhery terdiam sesaat lalu menoleh, kesrah adiknya. "Kau sudah melewati perjalanan yang panjang Alliona. Tentu sudah banyak penderitaan yang kau alami. Bahkan saat perang, kau berusaha menghadapi Alexus dan prajuritnya hanya seorang diri." Alzhery kembali menatap kedepan. "Aku kagum padamu."

"Kita melewati itu semua bersama Al. Aku tidak akan bisa berjalan sejauh ini jika tanpa kau," balas Alliona.

Alzhery menghembuskan nafas,  matanya menatap sembarang kebawah. "Aku bukanlah siapa-siapa Alliona. Aku hanyalah seorang kakak yang payah yang sudah meninggalkanmu sejak kecil."

Alliona seketika menyentuh lengan Al. "Cukup. Jangan bicara itu lagi Al. Kau adalah kakak terbaik yang pernah kukenal dan kau sangat berarti bagiku."

***

Keesokan harinya.

"Jadi, sejak kecil kau selalu bermain di hutan ini?" tanya Luna sambil menelisik tumbuhan lebat yang menghalangi jalan mereka. Gadis itu juga terlihat takjub saat mengedarkan pandangannya ke sekitar hutan.

Alliona mengangguk.

"Aku baru tahu di Alvonlea ada hutan seindah ini. Lihat saja, pepohonannya tinggi dan lebat, buah-buahan pasti berlimpah disini." Luna melirik Alliona dengan wajah antusias. "Mungkin tanaman obat juga banyak disini."

"Tentu saja." Alliona balas mengangguk. Mereka berdua terus berjalan menyusuri hutan, mengikuti aliran sungai kecil di samping  yang membawa mereka pada pohon apel.

"Astaga, pohon apel ini ternyata sudah tinggi sekali. Mungkin aku harus benar-benar memanjat untuk mengambilnya," gerutu Alliona.

Luna menghampirinya sambil mendongak keatas. Gadis Elf itu lalu mendengus sambil tersenyum. Ia mengangkat satu tangan keatas untuk mengerahkan kekuatan sihirnya. Tak lama ranting-ranting pohon apel itu bercabang dan memanjang. Dengan lenturnya mengambil beberapa apel merah dan menjatuhkannya ke tanah.

Never Forget YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang