24. Entangled too

33 2 0
                                        

Hero sudah tiba di gubuk-gubuk kecil di pesisir laut sejak sepuluh menit yang lalu. Lelaki itu telah berhasil menyembuhkan luka-luka Alliona di bagian kaki dan tangannya. Namun luka di lehernya masih menganga walau pendarahannya sudah berhenti. Hero tidak mampu memberi sihir lagi karena kekuatannya terbatas. Hanya Alzhery yang dapat menyembuhkan luka di leher itu.

Hero meletakkan kepala Alliona di bantalan seraya mengusap-usap kepala gadis itu. Alliona yang lemah itu masih tak sadarkan diri.

"Mengapa kau yang harus menerima penderitaan seperti ini, Alliona. Kau tidak pantas mendapat semua ini," lirih Hero sambil menggenggam tangan kekasihnya erat.

Beberapa lama kemudian, Alzhery datang menunggangi kudanya dan segera menghampiri mereka.

"Bagaimana kondisi Alliona?"

Hero hanya menghembuskan nafasnya pasrah. Rasa cemas masih menyelimuti di wajahnya. Alzhery maju sedikit untuk menatap wajah adiknya. Wajah Alliona sudah bersih dari noda darah, tapi sangat pucat. Alzhery mendongakkan dagu gadis itu sedikit untuk melihat luka di lehernya.

Al mendengus iba. Ada perasaan emosi yang bergejolak dalam hatinya, merasa tak terima adik perempuannya diperlakukan seperti ini.

"Dia telah kehilangan banyak darah. Aku akan mencoba menutup lukanya."

Tak lama setelahnya pria itu memejamkan matanya. Jemarinya terulur meraba leher gadis itu, mengalirkan sihir penyembuhnya. Tapi beberapa menit kemudian, Alzhery kembali membuka paksa kedua matanya. Seperti ada sesuatu yang membuat dadanya sesak bak dihantam benda yang keras.

"Ada apa?" tanya Hero.

Alzhery mengatur nafasnya. "Sepertinya terjadi sesuatu dengan Eros dan yang lainnya." Al menatap Hero. "Kita harus segera mengunci sihir sebelum mereka menemukan kita Pangeran," sambungnya.

"Tapi, bagaimana dengan Alliona?"

"Sihir penyembuhku sudah cukup untuk menutup lukanya. Setelah ini, kita harus membawa Alliona ke tenda," ujar Alzhery. Ia berusaha mengendalikan kekhawatirannya di depan Hero.

Hening sejenak melanda. Alzhery lekas menyegel kembali sihir milik Hero. Setelah selesai, Al dengan segera membopong tubuh Alliona menaiki kuda disusul Hero dibelakangnya.

***

"Apa yang terjadi pada mereka?" Hero bertanya setengah berseru.

"Prajurit Nepthenis datang ke Alpholus karena terpancing dengan energi sihir itu. Tapi para anggota baik-baik saja. Mereka akan segera tiba di Neroland." Jawab Alzhery dengan cepat.

Hero terdiam cukup lama seraya memikirkan sesuatu. "Menurutmu.. apa mereka akan menemukan Neroland?" tanyanya lagi. Namun Alzhery tak menjawab. Ia sedang fokus mengendali kudanya. Satu tangannya digunakan untuk menahan tubuh Alliona agar tidak jatuh.

Di tengah perjalanan itu, Hero baru merasakan sesuatu. Seperti ada yang mengikuti mereka dari belakang. Namun gelapnya hutan membuatnya kesulitan untuk memantau ke segala arah.

Seperdetik kemudian, sesuatu terjadi. Kedua kuda yang ditunggangi Hero dan Alzhery berhenti mendadak hingga hilang kendali. Kilatan cahaya muncul di hadapan mereka dan membuat sekitarnya silau.

Brukk!

Mereka semua terjatuh dan kedua kuda mereka terluka.

"P-putri Beatrix?" gumam Hero sesaat matanya terbuka. Ia segera beringsut mundur. "Apa yang... Putri lakukan disini?"

Beatrix sudah berdiri dihadapan mereka bersama para prajuritnya lalu menampilkan senyum. "Mencari gadis itu."

Never Forget YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang