Alexus bersama seorang wanita paruh baya terlihat baru saja memasuki ruang rahasia yang berada dibalik rak buku perpustakaan kastil itu. Seorang pengawal yang tadinya mengikuti mereka tersentak begitu pintu rahasia tertutup untuknya. Pintu itu akan terbuka jika seseorang menyebutkan sebuah kode rahasia.
***
Dalam ruangan rahasia itu terdapat altar pemujaan, tempat bersemayamnya penyihir leluhur yang dihormati Alexus, Gwendolin Lezbart. Alexus berjalan mendekati altar pemujaan itu.
"Aku akan selalu menunggumu, Gwendolin yang terhormat,"
"Apa yang ingin Yang Mulia lakukan pada 'Gwendolin'?" tanya wanita paruh baya itu.
Alexus menoleh sekilas dengan raut dinginnya. "Jika sejak dulu kau tidak mengundurkan diri dari perkumpulan kita, mungkin kau tidak akan bertanya seperti itu!"
Wanita itu langsung terdiam dan menunduk.
Alexus menghembuskan nafasnya kasar. "Asal kau tahu, Gwendolin adalah penyihir terkuat yang mengusai dunia kegelapan sejak puluhan tahun lalu. Seluruh kaum di dahulu tunduk padanya." Alexus kemudian bergeser sedikit untuk mengambil kotak yang terbuat dari batu. "Kau mungkin tidak pernah tahu perjuanganku selama ini. Aku telah mengumpulkan semua batu-batu ini untuk bisa menghidupkan lagi sosok Gwendolin."
Wanita itu melebarkan kedua matanya saat Alexus menunjukkan beberapa buah batu hitam arang yang di dalamnya menyala-nyala seperti api.
"B-batu-batu itu...?"
"Ya. Batu-batu ini tersebar di beberapa wilayah sejak perang puluhan tahun lalu. Dan aku telah berhasil mengumpulkan semuanya." Alexus menyela seraya kembali menaruh batu itu kedalam tempatnya.
Wanita itu menghela nafasnya berat. Ia masih terkejut dengan penjelasan Alexus. "Itu berarti... Kau akan memulai perang dengan seluruh kaum?"
"Ya, termasuk gadis pemilik White Clover itu. Sebelum aku melenyapkannya, aku akan mengambil kekuatan sihirnya dan menguasai dunia!" Alexus menarik seringainya lebar.
Wanita paruh baya itu terdiam, mematung di tempat sebelum akhirnya melangkah sedikit menjauh dari tempat Alexus.
"Elnora!"
Wanita itu terhenti tanpa menoleh.
"Ada apa denganmu? Kau tidak setuju dengan rencanaku?" tanya Alexus seraya mengangkat satu alisnya.
Elnora masih diam di tempat sebelum akhirnya bersuara. "Aku hanya... tidak siap jika kita harus berperang lagi. Lebih baik aku tetap disini, menjadi pelayanmu."
Mendengar itu Alexus jelas sambil terkekeh, seraya berjalan kearah wanita paruh baya itu.
"Oh, ayolah Elnora. Alasanmu tidak masuk akal bagiku. Apa kau takut dengan ramalan itu? Lagi pula kau tidak akan berperang sendirian. Ingat! Akulah yang menyelamatkan nyawamu dan kau sudah berjanji untuk kembali bergabung denganku!" Alexus setengah berbisik. "Bergabung menjadi bagian dariku untuk menghancurkan gadis itu!"
Elnora menoleh perlahan menatap Alexus. Raut wajahnya terlihat bimbang dan gusar. Ia pun menghela nafas.
"Baiklah. Tapi aku punya beberapa syarat."
"Katakan."
Elnora terdiam sejenak. "Yang pertama, jangan perlakukan putriku dengan kasar. Kedua, tolong jangan beritahu keberadaanku disini pada putriku dan.. aku mohon jangan bunuh putraku, Hero."
"Rupanya kau tahu bahwa putramu itu masih hidup?" Alexus tersenyum miring.
Elnora mengangguk pelan.
"Aku bisa merasakan kembali sihirnya. Aku juga tahu bahwa gadis itu selama ini bersama dengan putraku."
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Forget You
Fantasy[FANTASY-ROMANCE] "Kenapa rasanya sesakit ini?!" Hidup menjadi gadis seperti Alliona Wyne Caitlin? Tragedi kebakaran yang menewaskan kedua orang tuanya membuat Alliona harus tinggal seorang diri sejak usianya 10 tahun. Gadis malang itu juga pernah...
